JAKARTA – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, Indonesia merupakan pasar terbesar di ASEAN untuk produk telepon seluler. Pasar yang besar ini menjadikan peluang potensial bagi pelaku industri dalam negeri untuk memproduksi komponen telepon seluler.

“Peluang pasar tersebut seiring dengan jumlah kelas menengah di Indonesia sebesar 50 juta orang. Jadi, kita jangan hanya produksi kardus dan kabel charger saja,” katanya di Bandung, Sabtu (20/8/2016).

Hal demikian dikatakan Menprin saat mengunjungi Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T), Besar Logam dan Mesin, Balai Besar Pulp dan Kertas, Balai Besar Keramik, dan Balai Besar Tekstil di Bandung, Jawa Barat.

Pada kesempatan itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Haris Munandar menyampaikan, aktivitas litbangyasa B4T Bandung memfokuskan pengembangan daya saing beberapa produk industri prioritas, diantaranya Industri Logam Dasar dan Bahan Galian Bukan Logam; Industri Barang Modal, Komponen, Bahan Penolong dan Jasa Industri; Industri Alat Transportasi; serta Industri Pembangkit Energi.

“Sesuai imbauan Menperin, agar para pelaku industri kecil dan menengah ikut juga memanfaatkan hasil inovasi dari B4T Bandung,” tuturnya.

Menurut Haris, pihaknya akan memetakan sektor industri yang rantai nilainya masih ada yang kosong serta pasokan dan permintaannya belum seimbang. Oleh karena itu,  balai-balai Kemenperin akan berperan mencari solusinya. Langkah ini juga akan dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait.

Misalnya, Kemenperin akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian terkait pengembangan prototipe mesin yang dapat membantu petani jagung saat panen. “Di samping itu, kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perkerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait penemuan untuk aspal jalan dengan campuran karet,” ungkapnya. (asr)

Share

Video Popular