Baru-baru ini para astronom mengamati proses sebuah bintang yang ditangkap oleh lubang hitam supermasif. Gravitasi yang kuat dari lubang hitam tersebut secara perlahan-lahan menguliti bintang yang mengandung materi ini.

Oleh karena lubang hitam mengubah energi gravitasi menjadi radiasi elektromagnetik, dan menghasilkan multi panjang gelombang, serta sumber cahaya tampak sehingga membentuk sebuah piringan gas di sekeliling lubang hitam. Fenomena benda langit ini dikenal sebagai “relativistic jet”, yang ditemukan lima tahun lalu.

Pembentukan sebuah piringan gas di sekeliling lubang hitam (Video screenshot)
Pembentukan sebuah piringan gas di sekeliling lubang hitam (Video screenshot)

Lubang hitam supermasif menelan bintang

Petunjuk lebih lanjut terkait proses lubang hitam menelan bintang itu diungkapkan pada Maret lalu. Sementara untuk saat ini, para peneliti sedang mencatat fenomena yang berhasil diamati menggunakan “jaringan teleskop radio” seukuran bumi.

Tim astronom internasional yang dipimpin Jun Yang dari Sweden’s Chalmers University of Technology kini tengah meneliti Swift J1644+57 menggunakan jaringan teleskop radio bernama “The European VLBI Network (EVN).”

Pertama kali ditemukan pada 2011, “Swift J1644 + 57” adalah sebuah lubang hitam supermasif yang menelan bintang secara perlahan-lahan. Atau lebih tepatnya, terjadinya peristiwa astronomi yang luar biasa ini adalah begitu jauh jaraknya, sehingga cahaya perlu melakukan perjalanan 3,9 miliar tahun baru bisa  mencapai Bumi.

“Terkait bintang kuno yang ditelan lubang hitam ini, dimana cahaya dan jet partikel yang dihasilkannya ini setara dengan ukuran uang koin 2 Euro yang ditempatkan di bulan dan dilihat dari bumi,” kata Jun Yang.

Teleskop radio generasi berikutnya membantu memahami proses lubang hitam menelan bintang.

“Ini merupakan pengukuran paling jelas dari teleskop radio selama ini. Dan dengan menggunakan teknologi baru dari jaringan teleskop raksasa yang melintangi segenap planet baru memungkinkan mendapatkan akurasi seperti ini,” kata Jun Yang dalam sebuah pernyataannya.

Tim terkait menuturkan, bahwa temuannya itu hanya sebuah awal, ia (The European VLBI Network-Red) akan membuka wawasan kita lebih lanjut terhadap fenomena yang paling tidak bisa dipahami di ruang angkasa ini.

Sementara itu, dalam sebuah pernyataannya, Stefanie Komossa, seorang astronom di “Max Planck Institute for Radio Astronomy” mengatakan, “Pengamatan dengan teleskop radio generasi berikutnya akan memberitahu lebih lanjut kepada kita tentang apa sebenarnya yang terjadi ketika sebuah bintang ditelan oleh lubang hitam, selain itu juga tentang proses pembentukan dan evolusi jet yang kuat di sekitar lubang hitam.”

Senada dengan itu, Jun Yang juga mengatakan,  “Di masa depan, teleskop berukuran raksasa seperti FAST (Five hundred meter Aperture Spherical Telescope, teleskop radio berdimater lima ratus meter) dan SKA (Square Kilometer Array) memungkinkan kita mengamati lebih detail terhadap hal-hal yang ekstrim dan menarik ini.” (Secretchina/joni/rmat)

Share

Video Popular