JAKARTA – Praktisi Falun Gong di Jakarta menggelar aksi protes di depan Kedutaan Besar RRT di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (24/8/2016).  Aksi digelar sebagai bentuk menuntut untuk kebebasan rekan mereka di Tiongkok yakni Wang Zhiwen dari penganiayaan rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Dalam aksi kali ini, praktisi Falun Gong di Jakarta membentangkan spanduk dengan bertulisan, “Free Zhiwen Wang, Tortured in Chinese Prison for 16 Years for Practing Falun Dafa.” Pada acara ini sejumlah praktisi Falun Gong dengan berkostum serba putih-putih juga membawa foto-foto praktisi Falun Gong yang menjadi korban penganiayaan hingga terbunuh di Tiongkok.

Sebelumnya ditulis berdasarkan penuturan putri Wang Zhiwen, Wang Xiaodan,  yang digagalkan oleh PKT berkumpul kembali dengan ayahnya setelah 18 tahun terpisah,  bahwa dia harus mendobrak segala kepungan yang datang ke Beijing untuk memboyong sang ayah ke AS.

Kejadian bermula pada saat keberangkatan dari Provinsi Guangdong, paspor Wang Zhiwen digunting oleh petugas imigrasi Partai Komunis Tiongkok/PKT hingga gagal berangkat. Terpaksa  Wang Xiao dan suaminya pulang ke AS tanpa didampingi sang ayah yang sudah 18 tahun tak pernah ia temui.

Wang Zhiwen adalah salah satu mantan relawan penanggung jawab Asosiasi Penelitian Falun Dafa Tiongkok dan mantan insinyur di Departemen Kereta Api Tiongkok, dalam aksi gila-gilaan penindasan Falun Gong yang digerakkan oleh Jiang Zemin pada 20 Juli 1999 ia termasuk dalam kelompok pertama yang ditangkap.

Pada 27 Desember tahun yang sama ia jatuhi hukuman ilegal selama 16 tahun penjara. Putri semata wayangnya yang kala itu tinggal di AS dan masih berusia 19 tahun yakni Wang Xiao dan  menangis tiada henti dan mengupayakan pertolongan ke semua pihak yang dapat dia hubungi.

Pada Oktober 2014 Wang Zhiwen dibebaskan, namun masih dalam status tahanan rumah. Akan tetapi, pada Januari 2016 pengajuan permohonan paspornya diluar dugaan berhasil diurus dengan lancar.

Sebagaimana ditulis sebelumnya, Wang Xiao menuturkan bahwa pada masa persiapan ke luar negeri di Guangdong, suatu hari di tengah malam,  sebanyak 20 – 30 polisi menggedor pintu hendak memeriksa dokumen,  hingga akhirnya Wang Xiao bersama suaminya demi melindungi Wang Zhiwen menolak membukakan pintu dan menelpon meminta pertolongan dari pihak konjen AS. Setelah kejadian itu ketiga orang itu setiap hari diikuti oleh petugas intel.

“Berada di jalanan juga ada yang memotret kami, mereka pada menggunakan handphone yang persis sama, terkadang ada juga mobil yang menguntit. Hal seperti itu berlangsung selama beberapa hari, kira-kira ada puluhan intel yang telibat pengawasan kepada kami,” Kata Wang Xiaodan.

Jeff, suami Wang Xiaodan yang warga AS mengatakan, meskipun sudah beberapa tahun ini ia seringkali mendengar informasi tentang penindasan terhadap pengikut Falun Gong, tetapi menyaksikan dengan mata kepala sendiri, masih saja membuatnya terguncang.

”Di Amerika, jika saya menemui bahaya maka saya bisa mencari polisi…. namun paspor mertua setelah dianulir, saya kembali ke hotel, duduk termenung di sana merasakan ketidakberdayaan. Di Tiongkok saya tidak bisa mencari polisi, karena justru orang-orang itulah yang ini hendak kami campakkan. Saya tidak bisa menelpon siapapun, hanya bisa duduk seorang diri tanpa bantuan, ini benar-benar membuatku merasa sangat pilu.  Dan yang kami alami, adalah yang harus dihadapi setiap hari oleh pengikut Dafa di daratan Tiongkok, bahkan lebih parah ratusan-ribuan kali daripada kami,” kata Jeff.

Saat ini perhatian dunia terus meluas terhadap kasus Wang Zhiwen. Sejumlah aksi protes juga sudah disampaikan di depan Kedubes dan Konsulat Jenderal Tiongkok di berbagai belahan dunia.  Aksi tercermin dalam petisi “Free My Dad, Zhiwen Wang.” Petisi ini dapat dilihat di link ini. (asr)

Share

Video Popular