Gadis Sumbing

722

Pada masa Dinasti Qing, ada seorang gadis, dilahirkan dengan cacat bibir sumbing. Oleh karena itu tidak ada orang yang mau memperistrinya. Namun meski dia cacat, pada dasarnya dia adalah seorang gadis yang sangat baik, berbakti dan berbudi luhur, sangat berbakti kepada orang tuanya. Sebagai anak tunggal, dia harus membantu orangtuanya. Meski pun dirinya sangat lelah, tetapi tidak pernah mengeluh.

Suatu hari dia pergi ke ladang mengantar makan siang ayahnya yang sedang bekerja di ladang. Dia bertemu dengan seorang nenek yang belum pernah dia lihat. Nenek tersebut memandang dia dari atas dan ke bawah dan berkata, ” Benar-benar seorang gadis yang baik, alangkah baiknya jika bibir Anda tidak sumbing!”

Gadis ini mendengar perkataan sang Nenek jadi sedih, lalu menjawab, “Saya sejak dilahirkan dari orangtua sudah begini, jadi harus bagaimana?”

“Saya dapat membantu Anda menyembuhkan bibir sumbingmu, Apakah Anda bersedia?” tanya nenek itu.

Pertanyaan si nenek dijawab dengan anggukan ceria dari si Gadis.

Dia melihat nenek itu membuka keranjang bambu yang dibawa lalu merobek sedikit kulit roti dan diteteskan air dari tangannya ke atas kulit roti lalu ditempelkan di bibir sumbing gadis itu.

Nenek itu lalu mengatakan, “Hanya tiga hari maka bibir sumbingmu akan sembuh, tetapi harus diingat selama 3 hari tidak boleh tertawa. “

Gadis sumbing itu mendengar perkataan nenek langsung mengucapkan terima kasih sambil menundukkan kepala. Namun ketika dia mendongakkan kepala kembali, nenek tersebut telah menghilang. Dia tiba-tiba menyadari bahwa nenek tersebut adalah jelmaan dewa yang datang mengobatinya.

Sesuai pesan nenek, gadis itu selama 3 hari tidak tertawa. 3 hari kemudian, dia membuka kulit roti yang menempel dibibirnya. Terlihat tempat asli bibir sumbingnya sekarang telah benar-benar tertutup, seperti kulit bayi yang baru lahir putih mulus seperti dikasih bedak.

Walau pun, ada banyak ‘pasien’ dengan bibir sumbing, lalu kenapa dewa hanya menyembuhkan gadis ini?

Jawaban orang kuno adalah, ”Sifat bakti dan budi luhurnya yang menolongnya.”

Hal ini juga menunjukkan bahwa Dewa sangat serius memperhatikan moralitas manusia, maka kita harus benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan untuk melakukan menjadi seorang yang baik. (ebnet)