Penulis: Shu Xing

Huruf “aku” (我dibaca: “Wo” dalam Bahasa Tionghoa) kelihatannya sederhana namun mengandung arti yang rumit.

Sigmund Freud (1856 –1939 pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi) dari sudut pandang psychoanalysis telah  membagi personality structure menjadi tiga tingkatan besar: id, ego dan super-ego.

Ia beranggapan bahwa id, adalah kebutuhan pada tingkat yang paling dasar, terbentuk oleh naluri dan keinginan bawaan, tidak mempunyai kesadaran dan non rasional, yaitu yang sering disebut sebagai libido, berprinsip mengikuti “kesukaan”.

Ego, berada pada tingkat menengah, terdeferensiasi dari id, guna mengatur keseimbangan kontradiksi antar id dan super-ego, mengikuti prinsip realitas.

Super-ego, berada di tingkat paling atas dari struktur personalitas, merupakan ego yang termoralisasi, guna mengekang impuls dari id, dan mengendalikan ego, mengejar taraf kondisi yang sempurna, berprinsip mengikuti moralitas.

Lalu “aku” yang didengung-dengungkan oleh masyarakat dalam kehidupan ini sebenarnya aku yang mana sih?

Dengan melihat kehidupan masyarakat setiap harinya akan diketahui: dengan tergesa-gesa berangkat ke kantor mencari nafkah, sepulang dari kantor berhura-hura makan minum dan bersenang-senang. Dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, waktu dibiarkan menggelinding begitu saja, di dalam hidup yang dilalui dengan asal-asalan ini, setiap hal yang dikerjakan adalah dengan tujuan mengejar manfaat bagi diri sendiri, pola hiburan yang dipilih adalah untuk kesenangan panca indera diri sendiri.

Kebanyakan orang, bekerja – bukan karena sangat menyukai bekerja, melainkan karena untuk “mencari nafkah”, dedikasi pada pekerjaan- bukan karena memiliki rasa tanggung jawab, melainkan takut disidak pimpinan, bangun dari tidur – bukan karena tergugah oleh cita-cita, melainkan karena terganggu kebisingan weker; hidup – bukan berasal dari kecintaan akan hidup, melainkan dipaksa oleh ketidak-berdayaan hidup.

Itu sebabnya, masyarakat zaman sekarang, yang paling patut dikasihani dan paling menderita bukanlah tidak bisa mengisi perut, melainkan adalah kehampaan jiwa, tidak mengetahui apa yang diinginkan dan untuk apakah hidup ini. Hal-hal ini disebabkan oleh terjadinya metamorfosa/cacat bentuk karena terlalu cepatnya perkembangan peradaban materi, sedangkan perkembangan jiwanya belum memadai.

Orang-orang saat ini semua kelihatan sangat sibuk. Sibuk bekerja, sibuk berekreasi; sibuk mencari uang dan sibuk menghamburkan uang. Banyak sekali orang di sekitar penulis, selain bekerja, hampir semua waktunya sibuk untuk mengadakan berbagai entertaint dan mengadakan pertemuan, kira-kira pola dasar hidupnya sehari-hari adalah bangun – bekerja – berekreasi – tidur. Siklus kehidupan demikian terus berulang, sibuk dalam berbagai keinginan, sudah sangat jarang ada orang yang berdiam diri sejenak untuk menikmati keindahan alam, apa lagi berintrospeksi tentang makna hidup diri sendiri.

Sekarang ini terdapat banyak sekali orang yang sangat menyukai tamasya, tua maupun muda. Kaum muda mendambakan kebebasan, melaluinya dapat mengekspresikan nafas seni budaya; kaum manula mempunyai banyak waktu, melaluinya dapat ‘membunuh’ waktu. Namun tidak jelas apakah mereka sudah dapat memahami makna berwisata.

Kebanyakan orang, kelihatannya berwisata hanya untuk berwisata, karena merasa hampa maka pergilah berwisata, sesampainya di suatu tempat, lalu berkuliner-ria dan bersenang-senang di tempat baru, suasana baru, mengambil foto sebagai deklarasi yang membuktikan bahwa “saya pernah di sini”, kemudian melanjutkan kembali ke bentuk kehidupannya yang hambar.

Ada filsuf yang pernah mengatakan bahwa jagad raya merupakan tukang sulap yang paling agung. Kembali ke alam, manunggal dengan alam, maka akan memahami prinsip falsafat hidup yang dapat disadari dari dalam hukum alam, dengan demikian akan dapat membersihkan debu kotor di dalam hati. Tak heran, di zaman Tiongkok kuno dulu terdapat banyak sekali penyair tentang pegunungan dan pedesaan, yang baru dapat mengekspresikan perasaannya tentang pemandangan dan menciptakan konsepsi artistik yang sempurna.

Maka itu, makna sejati dari berwisata mungkin sekali adalah meminjam/melalui kekuatan alam, agar diri sendiri mendapatkan ketenangan batin, untuk berinterospeksi. Sedangkan arus kekuatan alam ini, hanya dapat diperoleh dengan menikmati dan meleburkan diri serta berfokus penuh didalamnya.

Dari sini terlihat, di zaman sekarang banyak sekali “aku” yang dijalani dalam hidup, hanyalah berhenti dalam “Id” dan “ego”, dua tingkatan yang tidak terhitung tinggi, itu sebabnya tidak mampu merasakan kegembiraan dari “super-ego”nya.

Aksara mandarin sangatlah gaib. Bila guratan pertama pada huruf “aku (我)” dihilangkan, akan ditemukan, huruf “我dibaca: wo, aku” telah beralih menjadi huruf “找dibaca: zhao, mencari”. “Aku” adalah sebuah kata benda, yang menyatakan keberadaan diri sendiri. “Aku” yang seutuhnya, mengetahui kehidupan diri sendiri secara lengkap, lengkap berarti mencakup jawaban mengapa diri sendiri dilahirkan dan mengapa menjalani hidup. “Mencari / zhao”, adalah “aku / wo” yang kurang satu guratan, merupakan sebuah kata kerja, menunjukkan proses sedang mencari. Sedangkan yang dicari justru adalah keyakinan dalam hidup yang paling kritis. Setelah ditemukan akan menjadi “aku” yang lengkap, akan dapat kembali kepada diri sendiri yang sejati, akan dapat merasakan kegembiraan “super-ego”; bila tidak ditemukan, akan hanya dapat melewati hari-hari dengan bimbang dan kosong secara asal-asalan saja, sampai di akhir hayatnya.

Dalam agama Nasrani, Tuhan menyebut manusia sebagai “anak domba yang tersesat”, maksudnya kira-kira jugalah demikian. Anak domba sendiri adalah lemah, kalau sampai tersesat tidak tahu jalan untuk pulang, akan lebih mengenaskan.

Setiap insan “aku, 我 (wo)”, guratan pertama dalam hidupmu itu, apakah telah ditemukan kembali? (pur/whs/rmat)

Share
Tag: Kategori: SERBA SERBI

Video Popular