Munculnya media sosial awalnya sangat digemari oleh para kawula muda, namun menurut penulis dan peneliti di Amerika, saat ini tidak sedikit kaum muda Amerika mulai mengatakan “Tidak” pada media sosial seperti Facebook, Instagram atau Snapchat, mereka sudah bosan dan lelah untuk mengklik “like” atau simbol semacamnya di internet.

Sekitar 92% dari remaja-remaja usia 13 – 17 tahun di Amerika Serikat setiap hari berselancar di dunia maya, sementara 24% “hampir selalu” mampir sebentar di internet (tidak antusias untuk berselancar), di antaranya 71% adalah pengguna Facebook, setengahnya adalah instagram, dan 41% adalah pengguna Snapchat, demikian laporan Pew Research Center 2015 lalu.

Laporan terkait juga menyebutkan, bahwa hampir 75% remaja menggunakan lebih dari satu situs media sosial, dan umumnya pengguna-pengguna internet ini rata-rata memiliki 145 “teman Facebook,” dan 150 pengikut Instagram.

Dalam tulisannya di “Wall Street Journal”, peneliti Christine Rosen dari New America Foundation menganalisa, bahwa para kawula muda yang tidak suka internet atau media sosial itu bukannya takut dengan teknologi, justru sebaliknya mereka adalah pengguna informasi mobile, kerap mengirim pesan teks, suka dengan internet, dan meresap dalam budaya populer, tetapi tidak ingin terpaku sepanjang hari di media sosial, tidak tahu apa ada artinya seperti itu.

Mengutip pernyataan dari hasil analisa peneliti Jacqueline Nesi di University of North Carolina, sekitar 5% – 15% dari kawula muda adalah komunitas yang menolak media sosial. Bagi komunitas ini, mereka sudah merasa bosan dan lelah mengklik “Like” atau symbol semacamnya di internet.

Artikel terkait menyebutkan, bagi mereka yang menolak internet ini, komunikasi secara langsung (tatap muka) jauh lebih akrab daripada hubungan secara online, lebih baik bertemu langsung dengan teman-teman, bukan bertemu di dunia semu seperti Twitter atau media sosial lainnya. Mereka tidak merasa rugi apapun dalam pergaulan sosial atau seakan-akan kehilangan sesuatu jika tidak berselancar di dunia maya.

Diskusi umum tentang pro dan kontra dari media komunitas sering difokuskan pada cyberbullying atau plunderer (perampas), tapi bahaya jangka panjangnya adalah, mendorong remaja menjadi suka membandingkan-bandingkan dengan rekan-rekannya, tetapi tidak semua pembandingan itu sehat. Kehidupan di media sosial semua orang mungkin benar-benar indah dan menyenangkan, tapi kuncinya harus menyadari akan situasi aktual dari masing-masing individu.

Menurut Christine Rosen yang mengutip hasil wawancara dengan kawula muda, bahwa pada satu dekade mendatang, tren media sosial mungkin hampir akan tamat riwayatnya, dan bila tiba saatnya, orang-orang pasti akan menemukan cara yang berbeda dalam melewatkan waktu luangnya. (Dikutip dari Central News Agency –Taiwan) – (Jhon/asr)

Share

Video Popular