Banyak orang tua sering tidak menyadari apa-apa yang dikatakan kepada anaknya. Merasa apa yang dikatakan wajar dan biasa saja, sebenarnya ada banyak hal yang berdampak buruk khususnya bagi perkembangan psikologis anak. Keadaan psikologi yang tertekan, terganggu, memiliki efek jangka panjang. Jika kita tidak menginginkan efek negatif tersebut, maka langkah pencegahan harus dilakukan mulai sekarang.

Pencegahan akan dianggap lebih efektif dibanding mengobati saat efek nagatif yang tidak diinginkan telah terjadi. Apakah Anda yakin apa yang Anda katakan kepada anak-anak tidak ada yang salah?

1. Anak-anak menumpahkan air, susu atau semacamnya di meja

Cara yang salah : “Bodoh amat sih kamu? Pegang gelas saja tidak bisa.” Bahkan ada yang menampar anak-anak.

Akibatnya : Orang dewasa dan anak-anak sama-sama marah, semuanya menjadi berantakan, anak-anak akan belajar memukul orang dari amarahnya untuk menyelesaikan masalah.

Cara yang benar : Menghibur anak : “Tidak apa-apa, nak, ayah/ibu tahu kamu tidak sengaja, lain kali hati-hati ya. Dan tolong kamu bersihkan mejanya, ya?”

Hasilnya : Si Anak mendapatkan pemahaman, lalu segera meminta maaf pada orang dewasa, dan dengan senang membersihkan mejanya. Dari sini anak-anak juga belajar menjadi toleran.

2. Mendapatkan nilai ujian yang mengecewakan

Cara yang salah : “Gimana sih kamu, masa hanya dapat nilai segini, apa kamu tidak malu ? Coba lihat si A, mengapa dia bisa dapat nilai 100 ? Kamu benar-benar bodoh ! Bikin kesel saja.” Bahkan ada orang tua yang menendang anak-anak.

Akibatnya : Batin anak-anak menjadi tertekan, dan terlintas dalam benaknya : “Kenapa aku begitu bodoh, sudah belajar semaksimal mungkin, tapi masih tidak mengerti juga.”

Cara yang benar : Menghibur anak : “Sayang, ibu tahu perasaanmu tertekan, tidak apa-apa hasil ujian kali ini mengecewakan, tapi yang penting kita harus tahu sebab kenapa hasil ujiannya tidak memuaskan, kemudian memperbaikinya, oke. Coba kita analisa sejenak. Ayah/Ibu percaya sama kamu, di lain kesempatan kamu pasti akan lebih maju.”

Hasilnya : Si anak dengan sungguh-sungguh berusaha menemukan sebab yang membuat nilai ujiannya tidak memuaskan, terlintas dalam benaknya : “Saya harus tekun dan berusaha keras, supaya tidak mengecewakan harapan ayah/ibu, dan saya yakin pasti bisa.”

3. Pergi tidur sebelum menyelesaikan PR sekolah

Cara yang salah : “Kamu benar-benar membuat ibu kesal, kenapa PR nya belum dikerjakan juga, sepertinya kamu harus diawasi, ayo cepat kerjakan !”

Akibatnya : Si anak tetap saja santai, berleha-leha, terlintas dalam benaknya : “Tidak apa-apa PR tidak selesai, kan ada ibu.”

Cara yang yang benar : Katakan dengan lembut tapi tegas pada si anak : “Nak, PR itu tugas kamu, dan kamu harus tanggung sendiri akibatnya, kalau tidak selesai juga PR-nya, pergilah tidur, tapi besok kamu sendiri yang menjelaskannya pada guru.”

Hasilya : Si anak menyadari kesalahannya, ia pun menyesali, dan terlintas dalam benaknya : “Habislah aku kali ini, bagaimana ya menjelaskannya pada guru, tampaknya PR itu harus diselesaikan secepat mungkin besok pagi, kalau tidak pasti dikritik lagi.”

4. Tulisan anak-anak seperti cakar ayam sulit dibaca

Cara yang salah : “Kog tulisannya berantakan seperti ini, apa kamu tidak bisa menulisnya dengan lebih rapi ?” Dan kalau emosinya memuncak bisa-bisa PR si anak itu akan dirobeknya.

Akibatnya : Si anak menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Cara yang benar : katakan dengan nada lembut tapi tegas padanya : Nak, ayah/ibu sudah bilang, tulisannya harus ditulis ulang kalau tidak rapi, karena tidak rapi, guru tidak bisa membacanya, coba lihat sendiri tulisanmu, apa kamu bisa membacanya, ini ketentuannya tidak boleh dirusak, karena itu, kamu harus menulis ulang. Coba lihat, kamu seharusnya menulisnya seperti ini (menjelaskan tentang cara menulis, tegak, lurus, vertikal dan horisontal, ukuran tulisan sama). Nak, selama kamu bisa menulis dengan lebih rapi dari tulisan sebelumnya, itu juga sudah cukup (kamu bandingkan sendiri), yakin bisa, kan ?”

Hasilnya : Si anak akhirnya mengerti akan pentingnya ketentuan , dan terlintas dalam benaknya : “Lebih rapi dari tulisan tadi, ah! Gampang.” Cetusnya dalam hati dengan penuh percaya diri.

5. Tidak punya tata krama, tidak menyapa ketika ada tamu berkunjung

Cara yang salah: “Kamu ini kog tidak sopan sama sekali ? Bagaimana biasanya ayah/ ibu mengajarimu, dasar tidak berguna.” (Di depan tamu)

Akibatnya : Si anak merasa harga dirinya terinjak, merasa malu, sehingga rasa rendah diri pun timbul seketika.

Cara yang benar : “Harap maklum, anak saya orangnya agak malu dengan sosok orang yang baru dikenal, tapi lama kelamaan juga akan terbiasa, karena biasanya ia cukup santun.” Ambil salah satu contoh dari bentuk sopan santun itu.

Hasilnya : Si anak sadar dengan kesalahannya, dan dalam benaknya : “Kali ini membuat malu ayah/ibu, lain kali tidak tidak boleh mengecewakan ayah/ibu lagi.”

6. Kaus kaki anak kotor

Cara yang salah : “Lepaskan kaus kakimu, biar ibu yang cuci.”

Akibatnya : Dengan santai si anak pun melepaskan kaus kakinya, dan dalam hatinya bergumam orang tua memang hadir untuk melayaninya, wajarlah, lagipula mereka juga tidak lelah.

Cara yang benar: Nak, kamu cuci sendiri ya kaus kakimu ? Ibu sangat lelah hari ini, dan kalau boleh kaus kaki ibu juga dicuci sekalian ya ? Terima kasih ya sayang.”

Hasilnya : Si anak merasa dihormati, dan kaus kakinya pun dicuci berikut kaus kaki ibunya, “rasanya saya perlu lebih memperhatikan ayah-ibu lagi, karena saya juga salah satu anggota keluarga, apalagi mereka juga tampak semakin tua.”

7. Ketika si anak mengajukan pertanyaan

Cara yang salah : “Jangan tanya yang tidak-tidak, fokus pada studimu saja, tidak jelas apa yang dipikirkan setiap hari.”

Akibatnya : Si anak akan berpikir : Ah, membosankan, selalu saja bilang belajar dan belajar, benar-benar membosankan, ya sudah kalau tidak boleh tanya.” Sejak itu, si anak pun hanya perlu tahu sekilas saja tidak perlu memahaminya lebih lanjut begitu menemui masalah.

Cara yang benar : Nak, kamu bisa menanyakan hal yang sulit ini, membuktikan kalau kamu memang benar-benar menguras otak (berpikir), bagus nak. Tapi ayah/ibu tidak bisa, bagaimana kalau kita mempelajarinya lebih lanjut, ok ?”

Hasilnya : Si anak sangat senang, di lain kesempatan saat menemui masalah pelik pasti akan belajar dengan lebih tekun dan mempelajarinya lebih lanjut.

8. Anak-anak enggan bangun di pagi hari

Cara yang salah : “Kamu kenapa belum bangun juga dari tadi ? Nanti terlambat ?!” Sambil melayangkan tangan, setelah itu sibuk menyiapkan dan memakaikan seragam sekolah pada si anak.

Akibatnya : Si anak akan seperti itu lagi.

Cara yang benar : “Say, cukup sekali ayah/ibu bangunkan kamu, kalau masih belum bangun juga, nanti kamu terlambat sekolah, dan ditegur oleh gurumu, tapi itu tanggungjawab kamu, terserah kamu.” Si anak tidak segera bangun, juga tidak sempat sarapan, dan akhirnya terlambat juga.

Hasilnya : Si anak akan segera bangun begitu dibangunkan, karena sudah merasakan terlambat sarapan dan teguran guru.

9. Terus terpaku pada TV, tidak mengerjakan PR sekolah

Cara yang salah : Naik pitam sambil mematikan TV, dan berteriak lantang pada si anak untuk segera mengerjakan PR atau tidur.

Akibatnya : Si anak pergi dengan muka cemberut dan kesal pada Anda.

Cara yang benar :“Sayang, PR-nya sudah dikerjakan belum, kalau belum diselesaikan nanti kamu ditegur gurumu lagi. Mau nonton TV sampai kapan ? Sepuluh menit lagi ya ? “Baik, tapi janjimu harus ditepati ya, nanti matikan TV-nya.” Masing-masing pihak mundur selangkah (mengalah).

Hasilnya : Si anak akan mematikan TV-nya begitu tiba waktunya, lalu mengerjakan PR atau tidur.

10. Orang dewasa melakukan kesalahan

Cara yang salah : Mencari-cari alasan atau menutup sebelah mata (tidak peduli/mengabaikan).

Akibatnya : “Huh, atas dasar apa ayah/ibu atau orang lain berbuat salah tapi tidak mau mengakuinya !? Hmm, enaknya jadi ayah-ibu / orang dewasa, tidak perlu dikritik meskipun berbuat salah.”

Cara yang benar : Mengakui kesalahan sendiri, dan meminta maaf padanya.

Hasilnya : Di lain waktu si anak akan meminta maaf langsung ketika sadar ia melakukan sesuatu yang salah, dan ia akan merasa memang sudah seharusnya seperti itu.

11. Orang tua dikritik wali kelas

Cara yang salah : Langsung melampiaskan kekesalan pada si anak, menghardik atau bahkan memukul anak-anak.

Akibatnya : Si anak tidak memiliki rasa percaya diri apa pun lagi, dan ujung-ujungnya kalau bukan belajar kekerasan, pasti menjadi anak yang penakut, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun, mulai belajar berbohong, tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya pada orang tua, karena takut dipukuli.

Cara yang benar : Jelaskan lebih dulu kelebihan-kelebihan si anak, kemudian analisa faktor atau sebab kekurangannya, dan berikan semangat padanya, yakin di lain waktu si anak pasti akan ada kemajuan.

12. Kehidupan sehari-hari anak

Cara yang salah : Orang tua telah mengatur sedemikian rupa kehidupan sehari-hari anak-anak, segalanya menurut pandangan orang dewasa, sementara si anak cukup menjalaninya sesuai dengan konsep ayah/ibu.

Akibatnya : Si anak menjadi boneka, tidak perlu menguras otak (berpikir), dan menjadi pasif. Semakin tidak bernyali, dan tidak percaya diri, tidak punya kemampuan (ketrampilan) yang berarti, tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Kontak batin semakin jauh jaraknya dengan orang tua, dan timbul gejala autis padanya.

Cara yang benar : Biarkan ia melakukan/menyelesaikan urusannya sendiri, dan mendorongnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Diskusikan dan selesaikan bersamanya sesuatu yang berhubungan dengan masalah keluarga, dorong semangatnya untuk menyampaikan pendapatnya sendiri, dan dengarkan dengan sungguh-sungguh.

Hasilnya : Dapat memupuk rasa tanggung jawab anak terhadap keluarga, tahu menyayangi orang tua, antusias dan suka berbincang-bincang dengan orang tua (ayah/ibu), berwatak periang dan percaya diri! (Secretchina/Jhn/Yang)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular