Oleh Shi Xuan

Dalam beberapa masa terakhir ini, percobaan nuklir dan peluncuran roket oleh Korea Utara, isu sengketa Laut Timur antara Tiongkok dengan Jepang dan penempatan sisten anti rudal darat – udara THAAD milik AS di wilayah Korea Selatan membuat suhu ketegangan di bagian timur laut Asia ini mengalami peningkatan.

Pekan lalu Menteri Luar Negeri ketiga negara itu mengadakan pertemuan di Tokyo, Jepang. Dalam kesempatan itu pembicaraan bilateral antar pejabat Tiongkok dengn Jepang, Tiongkok dengan Korea Selatan juga dilakukan. Sementara itu, seorang pejabat Jepang pekan lalu mengadakan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok, sehingga hubungan ketiga negara tersebut  sedikit membaik.

Wang Yu ke Jepang dan Yachi Shotaro Ke Tiongkok

Pada 24 Agustus, Menlu Tiongkok Wang Yu, Menlu Jepang Fumio Kishida dan Menlu Korea Selatan Yun Byung-se bertemu dalam acara dialog di Tokyo, Jepang. Sementara itu, Korea Utara meluncurkan rudal balistik dari kapal selam (SLBM) ke perairan di semenanjung. Meskipun Menlu Wang Yu dengan Menlu Fumio Khisida tidak seirama dalam memandang isu Laut Timur dan Laut Selatan, namun mereka sama-sama menunjukkan kesediaan untuk meningkatkan hubungan bilateral. Menlu Wang Yu juga menemui Sekjen LDP yang pro Tiongkok Toshihiro Nikai.

Sementara itu, orang kepercayaan Shinzo Abe yang sedang menjabat Direktur Keamanan Nasional Jepang, Yachi Shotaro mengadakan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok untuk menemui PM. Li Keqiang dan Penasihat Negara Yang Jiechi, dan mengadakan rapat koordinasi untuk menghadiri KTT G-20 di kota Hangzjou bulan depan dan mengatur jadwal pertemuan dengan Presiden Xi Jinping.

Analis di luar berpendapat bahwa kunjungan yang saling menggema antara Wang Yu ke Jepang dan Yachi Shotaro ke Tiongkok menunjukkan bahwa kedua negara itu ingin mengubah sikap permusuhan karena memang saling membutuhkan.

Dari pihak Tiongkok, perbaikan hubungan dengan Jepang dipandang perlu setelah pihak Korea Selatan mengijinkan AS untuk menempatkan THAAD di wilayahnya. Sebuah tulisan di media ‘Ming Bao’ menyebutkan, pihak Tiongkok berharap kepada pihak Jepang untuk tidak menyinggung isu Laut Timur dan Laut Selatan dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan KTT G-20 di Hangzhou nanti. Begitu pula  pihak Jepang juga berharap kepada pihak Tiongkok untuk menghentikan patroli laut yang acap kali dilakukan polisi maritim ke perairan kepulauan Diaoyu termasuk kapal-kapal nelayan Tiongkok.

Abe selain ingin bertemu dengan Xi Jinping di Hangzhou. Lebih-lebih berharap bahwa KTT Tiongkok-Jepang-Korea Selatan bisa berlangsung dalam tahun ini, untuk menambah prestasi pada kinerja diplomatiknya.

Artikel di ‘Ming Bao’ menyebutkan, tampaknya kedua belah pihak secara diam-diam sudah bisa memahami ‘perasaan orang lain’, mengatakan bahwa ketegangan perairan Diaoyu itu terpicu oleh beberapa hal. Pertama penangkapan ikan oleh para nelayan Tiongkok. Kedua, kesalahan dalam spekulasi. Selain itu, ia menyinggung akan melarang nelayan menangkap ikan di sekitar kepulauan Diaoyu.

Demi kepentingan pertemuan dengan Xi Jinping, Abe besar kemungkinan akan menyepakati permintaan pihak Tiongkok untuk tidak mempermasalakan isu-isu di Laut Timur dan Selatan  dalam pernyataan bersama KTT Hangzhou nanti sebagai barteran.

Hubungan bilateral Tiongkok-Korea Selatan

Korea Selatan mengijinkan AS menempatkan THAAD memicu kemarahan Tiongkok, hubungan bilateral akhirnya memburuk. Namun dalam pertemuan Wang Yu dengan Yun Byung-se, mereka telah menyatakan kesediaan untuk melanjutkan dialog dan mengklaim bahwa THAAD bukanlah keseluruhan dari permasalahan hubungan bilateral. Tetapi saat ini THAAD memang menjadi isu yang membuat kedua negara bertolak dalam pandangan. AS sampai saat ini belum terlihat ada ruangan manuver untuk isu tersebut.

Arrtikel dalam media ‘East Net’ menyebutkan, Xi Jinping mungkin akan bertemu dengan Park Geun-hye selama KTT G-20 nanti, dan meski masalah THAAD tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi pertemuan kedua kepalla negara itu setidaknya dapat meningkatkan saling pemahaman dan komunikasi untuk mencegah ambrolnya hubungan bilateral kedua negara itu.

Hubungan Jepang – Korea Selatan

Adapun hubungan buruk antara Jepang dengan Korea Selatan masih terkait isu peninggalan sejarah, yaitu Ianfu atau wanita penghibur.

Meskipun Jepang mengeluarkan 10 miliar Yen untuk menyantuni keluarga Iafu di Korea Selatan, tetapi Jepang tetap tidak bersedia untuk meminta maaf, bahkan menekan Korea Selatan, meminta rezim Korsel untuk memindahkan patung wanita penghibur yang diletakkan di depan gedung Kedutaan Jepang di Seoul. Tetapi sejauh mana rezim mampu memenuhi permintaan Jepang itu tergantung dari opini warga masyarakat Korea Selatan.

Ada analisis yang menunjukkan bahwa Shinzo Abe tetap ingin mengadakan pertemuan tingkat tinggi ketiga negara itu selama berlangsungnya KTT G-20 di kota Hangzhou. Abe menemui Park Geun-hye dan mengadakan dialog demi menambah prestasi diplomatiknya.

Sejarah dan fakta hubungan Tiongkok – Jepang – Korsel yang saling konflik

Secara histiris, Tiongkok dan Korea Selatan sama-sama telah menderita akibat dari agresi militer Jepang. Pada hari ulang tahun Jepang menyerah (15 Agustus) tahun ini, PM Shinzo Abe dan Menhan Jepang yang baru Tomomi Inada tidak mengunjungi kuil Yasukuni untuk berdoa bagi para arwah pahlawan yang berkorban bagi kekaisaran Jepang. Selain itu, Jepang pada hari itu juga telah memberikan dana kompensasi untuk keluarga Ianfu sebagai upaya untuk menghangatkan hubungan kedua negara tersebut.

Sedangkan Tiongkok pernah berperang dengan Korea Selatan dalam Perang Korea (1950 – 1953). Tetapi sejak kedua negara ini menjalin hubungan diplomatik pada 1992, hubungan bilateral mengalami kemajuan yang cukup pesat. Rezim Korea Selatan bahkan berulang kali mengirim ke Tiongkok jenasah para relawan yang gugur dalam medan perang di Korea Selatan.

Namun, fakta tentang keamanan dan konflik geopolitik antar 3 negara tampaknya berkembang lebih kompleks. Jepang dan Korea Selatan jadi sekutu AS dalam usaha untuk ekspansi ke Asia. Sangat mengandalkan bantuan AS dalam isu keamanan nasional yang sama-sama juga berada dalam ancaman nuklir dan rudal Korea Utara. Sedangkan sengketa kedaulatan kepulauan Diaoyu antar Tiongkok dengan Jepang sudah terjadi sejak jaman dahulu. Jepang terlibat dalam isu Laut Selatan yang ikut mengancam Tiongkok. Karena itu, pihak Tiongkok mengirim sejumlah besar kapal patroli maritim dan kapal-kapal penangkap ikan keperairan sekitar Diaoyu yang membuat perselisihan bertambah runcing.

Korea Selatan yang sebelumnya berharap kepada Tiongkok untuk mendesak Korea Utara menghentikan percobanan senjata nuklir kemudian kecewa terhadap kinerjanya dan beralih dengan mengijinkan AS menempatkan THAAD di wilayah dekat perbatasan dengan Korut.

Ketiga negara termaksud pernah memiliki kerjasama pembangunan yang relatif stabil pada masa 90-an. Tetapi memasuki abad 21, serangkaian peristiwa telah merusak suasana itu, seperti percobaan senjata nuklir Korea Utara, AS mengimplementasikan strategi kembali ke Asia, pemimpin Jepang acap kali mengunjungi kuil Yasukuni, pihak Tiongkok mengekploitasi minyak dan gas alam lepas pantai Laut Timur, dan Jepang menasionalisasikan Kepulauan Diaoyu dan lain sebagainya.

Analis memperkirakan bahwa inilah dasar perubahan yang membuat ketegangan ketiga negara itu terus berkembang sampai sekarang.

Analisis ‘Ming Bao’ menyebutkan bahwa Korea Utara menjadi pengrusak hubungan antara Tiongkok – Jepang – Korea Selatan dan membuat ketidakstabilan politik di wilayah timur laut Asia. Tindakan brutal yang dilakukan Korut membuat pendukung terbesarnya yaitu Tiongkok komunis kehilangan akal. Namun demikian, Pengembangan hubungan bilateral Tiongkok – Korea Selatan mungkin akan memainkan peran dalam menentukan arah program nuklir dan senjata rudal Pyongyang di masa mendatang. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular