JAKARTA –  Kebakaran hutan kembali terjadi dan lebih dari tiga ribu titik panas terpantau selama Agustus 2016.  Analisa Peta Kepo Hutan Greenpeace mengungkapkan banyak kebakaran terjadi di konsesi perkebunan milik industri yang sama dengan kebakaran tahun lalu.

Menurut Greenpeace, bencana ini terjadi berulang kali karena perusahaan mengabaikan peringatan  pemerintah sejak November 2015 lalu untuk segera menyekat kanal-kanal agar gambut kembali basah dan tidak mudah terbakar.

Juru kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Yuyun Indradi, mengatakan kebakaran hutan dan lahan bisa saja dicegah agar tak terjadi, jika sejumlah perusahaan pemilik konsensi perkebunan secara serius menolak kebakaran hutan dan lahan.

“Seperti jarum jam, kebakaran kembali terjadi. Perusahaan lebih tertarik memamerkan pemadaman dengan bom air, padahal sebenarnya kebakaran tersebut bisa dicegah dengan membasahi kembali gambut yang telah mereka keringkan untuk perkebunan kelapa sawit, kertas dan pulp,” kata Yuyun dalam rilsnya.

Menurut Yuyun atas pembakaran hutan dan lahan justru perusahaan lebih mengutamakan keuntungan daripada kesehatan masyarakat dan lingkungan, dan masih memperdebatkan apakah wilayah gambut masih bisa dieksploitasi.

Lebih jauh Yuyun menambahkan, kebakaran tahun lalu telah merenggut nyawa banyak balita dan orang tua, dan membuat hampir lima juta anak-anak tidak masuk sekolah selama sebulan. Menurut Yuyun, perusahaan-perusahaan yang telah menolak mengambil langkah untuk mencegah kembalinya kebakaran, tangan mereka bukan hanya penuh abu tapi juga darah. Oleh karena itu, pemerintah harus mengambil tindakan jika perusahaan mengabaikannya. (asr)

Share

Video Popular