DENPASAR – Pusat Bimbingan/Pelatihan Falun Dafa di Bali menyurati redaksi Harian Pos Bali atas berita yang berjudul “Wisatawan Risih Terhadap Aktivitas Falundafa” pada halaman tiga tertanggal Senin (29/8/2016). Klarifikasi yang disampaikan oleh praktisi Falun Dafa sudah diterbitkan di harian Pos Bali, Rabu (31/8/2016).

Berikut isi surat yang dikirimkan oleh Pusat Bimbingam Falun Dafa di Bali :

Dengan hormat,

Di Tiongkok, negeri asalnya, Falun Dafa (disebut pula Falun Gong) sangatlah populer di tahun 90-an. Awalnya metode meditasi ini yang berlandaskan pada prinsip universal ‘Sejati-Baik-Sabar’ banyak dipuji media negara sebagai “menghemat biaya kesehatan negara” – atas kontribusi besarnya bagi peningkatan kesehatan jiwa raga masyarakat; Kedubes Tiongkok di Swedia dan Perancis bahkan pernah mengundang Master Li Hongzhi, pendiri Falun Dafa untuk memperkenalkan metode latihan jiwa raga Tiongkok tradisional tersebut ke Eropa. http://en.minghui.org/html/articles/2010/3/27/115628.html

Sejak diperkenalkan ke publik pada Mei 1992 hingga tahun 1999, survei Pemerintah Tiongkok memperkirakan di Tiongkok sudah ada sekitar 100 juta praktisi Falun Dafa. Perkembangan pesatnya telah menjadi titik balik bagi penguasa saat itu, Jiang Zemin (presiden Tiongkok dan Ketua Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa). Meskipun bukanlah gerakan politik, namun Falun Dafa dianggap sebagai ancaman oleh Jiang Zemin, karena dapat menarik massa yang sedemikian besar dan prinsip dasarnya ‘Sejati-Baik-Sabar’ (meskipun bukan agama) dianggap bertentangan dengan paham atheisme yang dianut Partai Komunis Tiongkok, otoritas tunggal di Tiongkok sejak tahun 1949 hingga sekarang.

Seperti kita ketahui, Tiongkok saat ini adalah salah satu negara yang paling ketat melakukan sensor berita dan internet. Semua opini di media maupun internet haruslah sesuai dengan opini penguasa, bila tidak akan menjadi sasaran sensor dan bahkan hukuman penjara.

Penganiayaan kejam terhadap para praktisi Falun Dafa di Tiongkok masihlah berlangsung. PBB, Senat Amerika Serikat, Parlemen Eropa dan parlemen di banyak negara lainnya telah mengeluarkan resolusi terkait untuk menyerukan penghentian kejahatan kemanusiaan, genosida yang dikendalikan oleh partai komunis tersebut terhadap rakyatnya sendiri yang berlatih Falun Dafa.

Terkait praktisi Falun Dafa di Bali – yang atas keinginannya sendiri membagikan brosur klarifikasi maupun bicara dari hati ke hati kepada para turis Tiongkok, justru adalah reaksi (dalam cara yang paling damai) dari praktisi Falun Dafa di Bali, untuk membangkitkan kesadaran publik, dan utamanya juga menjelaskan fakta-fakta sesungguhnya kepada turis Tiongkok – membantu mereka memahami, mendengar fakta-fakta yang tidak dapat mereka peroleh di negeri asalnya karena adanya sensor media dan internet yang ketat. Sesungguhnya banyak sekali turis Tiongkok yang menyatakan rasa terima kasih mereka atas upaya tulus kami, banyak yang mengungkapkan terima kasihnya dengan mengangkat jempol, meneriakkan ‘Falun Dafa Hao (baik)”, memeluk erat-erat rekan kami, meminta brosur untuk teman-teman mereka, bahkan banyak pula dari mereka yang meneteskan air mata mendengar penderitaan yang harus ditanggung praktisi Falun Dafa di Tiongkok.

Karenanya kami merasa tidaklah relevan jika keberadaan dan upaya tulus dan damai kami dianggap dapat mengancam pariwisata Bali (khususnya turis Tiongkok). Seperti kita semua ketahui dari statistik resmi, jumlah wisatawan Tiongkok yang mengunjungi Bali – terus mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun ini. Tentu saja kami memaklumi ada pihak yang berkeberatan bila turis-turis Tiongkok tersebut mengetahui fakta Falun Dafa yang sesungguhnya dan situasi penganiayaan terhadap rekan-rekan seperguruan kami yang terkini. Bukankah kejahatan selalu paling takut bila perbuatan aibnya diungkap?

Di tengah bencana kemanusiaan terbesar ini, saat jutaan orang dianiaya di Tiongkok karena ingin menjadi insan yang lebih Sejati, lebih Baik dan lebih Sabar – bagaimanakah kita bersikap? Di tengah urgensinya masalah tersebut, bagaimana kita bersikap bukankah juga merupakan refleksi dari nurani dan moralitas kita?

Mengenai upaya spontan dan damai beberapa rekan kami, UUD 45 sepenuhnya menjamin kebebasan warga untuk berekspresi dan menyuarakan hati mereka, semua dilakukan tanpa pemaksaan, apalagi kekerasan dan hal-hal lain yang bersifat anarkis dan merusak properti umum. Dilakukan dari hati ke hati, ada yang peduli, ada yang tidak, namun kami selalu temukan ada sangat banyak orang yang bernurani baik itu warga Bali sendiri maupun para turis Tiongkok, mereka dapat memahami masalah ini dengan jernih dan mendukung, bahkan menyemangati kami.

Patut kita ingat bersama, diperolehnya kebebasan dan kemerdekaan Republik Indonesia kita ini, juga tidak lepas dari upaya bersama masyarakat internasional, sebagai contoh: Perjuangan rakyat di Asia dan Afrika untuk bebas dari perbudakan (dengan puncak berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Bandung) dan lain-lain. Upaya bersama antarbangsa telah menghantarkan kita, bangsa Indonesia pada masyarakat yang ada pada hari ini, masyarakat yang memiliki kebebasan beragama dan berkeyakinan, bebas dari perbudakan, bebas dari pembodohan dan juga kebebasan pers yang kita miliki dan patut kita junjung ini.

Sebagai penutup surat kami, mari kita renungkan sejenak kisah sejarah berikut:

Tahun 1943, ketika Jan Karski, orang Polandia yang menjadi saksi mata kekejaman Holocaust, menyingkap kejahatan gneosida Nazi terhadap warga Yahudi, hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat, Felix Frankfurter berkata: “Saya tidak mengatakan anak muda ini tengah berbohong. Saya berkata, saya tidak bisa memercayainya. Ini berbeda.”

Januari 1945 ketika tentara Sovyet membebaskan kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia, dunia baru terguncang dan percaya dengan skala kekejaman Fasisme saat itu. Diperkirakan sedikitnya 1,3 juta orang telah dideportasi Nazi ke Kamp Auschwitz (antara tahun 1940-1945) dan 1,1 juta darinya terbunuh. Seandainya Felix Frankfurter merekomendasikan ke pemerintah AS, akan intervensi tentara Sekutu yang lebih dini, bukankah ratusan ribu orang mungkin dapat terselamatkan?

Dan hari ini, Ibu Bapak yang kami hormati, ratusan ribu rekan seperguruan kami di Tiongkok masih menjadi target kekejaman Partai Komunis Tiongkok, yang bahkan melebihi Holocaust.

Kepedulian kita semua terhadap bencana kemanusiaan di manapun itu terjadi, mungkin akan menjadi wujud pertanggungjawaban moral dan belas kasih kita terhadap sesama dan pada akhirnya bukankah kepada Sang Pencipta kita pula? Terima kasih

Terima kasih kepada redaksi, salam persahabatan dari kami.

Hormat kami,

Pusat Bimbingan / Pelatihan Falun Dafa di Bali


Wayan Sumiarta

Koordinator

Lampiran:
– Tabloid Minghui Internasional

Tembusan:

–  Yth. Ketua Dewan Pers Indonesia, Bapak Yosep Adi Prasetyo – up. Komisi Pengaduan Masyaraka

– Yth. Ketua Komnas HAM

– Yth. Kapolsek Kuta Selatan, Bapak Kompol. Wayan Latra

– Yth. LBH Bali – up.

(asr)

Share

Video Popular