Anak perempuan mungkin menunjukkan tanda yang jelas adanya paparan terhadap zat pengganggu hormon seperti pubertas dini, tanda lain yang lebih berbahaya mungkin tidak muncul sampai timbul penyakit.

Berikut adalah 11 langkah yang dapat Anda segera terapkan untuk melindungi diri sendiri dan anak-anak Anda dari paparan zat beracun yang umum yang dapat menyebabkan pubertas prekoks dan masalah kesehatan jangka panjang lainnya:

1. Usahakan untuk membeli dan makan produk organik, daging organik untuk mengurangi paparan terhadap tambahan hormon, pestisida dan pupuk. Hindari susu dan produk susu lainnya yang mengandung hormon pertumbuhan rekayasa genetika.

2. Lebih banyak makan makanan segar dan mentah. Makanan (semua jenis) yang sudah diolah dan dikemas oleh pabrik adalah sumber utama dari bahan kimia seperti BPA dan fthalates.

3. Simpan makanan dan minuman dalam wadah kaca, bukan wadah plastik. Hindari makanan dan minuman yang dikemas dalam plastik dan makanan kaleng (yang sering dilapisi dengan BPA).

4. Gunakan botol susu yang terbuat dari kaca dan cangkir bebas-BPA untuk anak kecil.

5. Pastikan mainan bayi tidak mengandung BPA, seperti dot, cincin untuk digigit saat bayi sedang tumbuh gigi dan benda pun yang diisap oleh bayi.

6. Hanya menggunakan produk pembersih alami di rumah Anda untuk menghindari produk yang mengandung fthalates.

7. Beralih ke merek alami untuk keperluan mandi seperti shampoo, pasta gigi, deodoran dan kosmetik.

8. Hindari menggunakan cairan pelembut kain atau wewangian sintetis lainnya karena dapat mengganggu keseimbangan hormon.

9. Ganti peralatan masak anti-lengket dengan yang terbuat dari keramik.

10. Ketika merenovasi rumah, mencari cat dan penutup lantai yang bebas racun dan aman untuk lingkungan.

11. Ganti tirai kamar mandi yang terbuat dari vinil dengan tirai kamar mandi yang terbuat dari kain.

12. Hindari susu kedelai yang tidak mengalami fermentasi, terutama jika Anda sedang hamil dan dalam susu formula bayi.

Vitamin D terkait dengan pubertas dini

Telah terbukti bahwa anak perempuan yang tinggal lebih dekat dengan khatulistiwa mengalami pubertas pada usia yang lebih lambat dibandingkan anak perempuan yang tinggal di daerah Utara. Peneliti memutuskan untuk menyelidiki apakah vitamin D terkait dengan paparan sinar Matahari terhadap pubertas. Setelah mengukur kadar vitamin D dari 242 anak perempuan yang berusia 5 tahun sampai 12 tahun, peneliti dari University of Michigan School of Public Health menemukan bahwa anak perempuan yang kurang kadar vitamin D nya dua kali lebih cenderung untuk menstruasi lebih dini dibandingkan dengan anak perempuan yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi.

Secara khusus, di antara anak perempuan yang menderita kekurangan vitamin-D, 57 persen anak perempuan tersebut mulai menstruasi selama penelitian, dibandingkan dengan 23 persen anak perempuan yang memiliki kadar vitamin D yang memadai. Namun, peneliti mendefinisikan vitamin D yang memadai adalah ≥ 30 ng / mL, yang sebenarnya masih terhitung menderita kekurangan vitamin D! Untuk mendapatkan kesehatan yang optimal, kadar vitamin D minimal harus 50 ng/mL, yang berarti jumlah anak perempuan yang menderita kekurangan vitamin D yang mengalami pubertas dini adalah jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh penelitian.

Semakin dini anak mengalami pubertas, maka semakin lama waktu anak terpapar dengan peningkatan kadar hormon estrogen, yang merupakan faktor risiko untuk kanker tertentu seperti kanker payudara. Hal ini telah menjadi “benang merah” utama antara pubertas dini dengan terjadinya kanker. Tetapi penting untuk memahami bahwa kekurangan vitamin D juga merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya kanker, penyakit jantung dan banyak penyakit lainnya. Jadi beberapa risiko penyakit meningkat akibat pubertas dini terkait dengan kadar vitamin D yang rendah.

Obesitas (yang menyebabkan anak perempuan untuk lebih banyak terpapar dengan estrogen karena estrogen disimpan dan diproduksi di jaringan lemak) adalah faktor kemungkinan lain terjadinya pubertas dini. New York Times melaporkan:

“Robert Lustig, seorang profesor pediatri klinis di University of California, Rumah Sakit Anak San Fransisco Benioff, menjelaskan, anak perempuan yang gemuk memiliki kadar hormon leptin yang lebih tinggi, yang menyebabkan kadar estrogen yang lebih tinggi, yang menyebabkan resistensi insulin yang lebih besar, yang menyebabkan anak perempuan tersebut memiliki jaringan lemak yang lebih banyak, , hingga tubuhnya matang secara fisik”.

Stres juga dikaitkan dengan pubertas dini, di mana anak-anak perempuan yang orangtuanya bercerai ketika mereka berusia antara 3 tahun sampai 8 tahun secara nyata cenderung mengalami pubertas prekoks. “Psikologi evolusioner menawarkan teori,” New York Times melaporkan. “Masa kanak-kanak yang penuh dengan stres cenderung menyebabkan tubuh untuk reproduksi awal; jika hidup sulit, jalan terbaik adalah menjadi dewasa muda. Tetapi teori ini sulit untuk dibuktikan”.

Yang menariknya, selain menghindari bahan kimia lingkungan, obesitas dan stres, serta mengoptimalkan asupan vitamin D, olahraga yang teratur tampaknya menjadi salah satu cara terbaik untuk mencegah pubertas dini.(Epochtimes/Vivi/Yant)
Selesai

Share

Video Popular