Oleh: Xia lǜ De

Proxima B, sebuah planet mirip bumi yang diduga layak huni ini telah ditemukan European Southern Observatory. Sementara itu, menurut astronom asal Belanda Ignas Snellen, kemungkinan adanya kehidupan di Proxima b itu jauh lebih besar dari planet merah Mars. Sedangkan Guillem Anglada-Escudé, seorang astronom Inggris juga menuturkan, bahwa banyak planet mirip bumi di sekitar bintang, “Tapi yang menggembirakan adalah planet Proxima ini jaraknya paling dekat dari bumi.”

Planet bernama Proxima B ini bergerak di orbit Proxima Centauri. Proxima B seukuran Bumi berjarak sekitar 4,2 tahun cahaya dari sistem solar Bumi, jarak ini memang jauh, namun, dalam perspektif astronomi sangat dekat jaraknya.

Menurut para astronom, “Proxima B” mungkin dapat mendukung kehidupan, meski begitu, mereka sendiri tidak memberikan jaminan bahwa planet Proxima B benar-benar sanggup menopang kehidupan manusia di masa depan. Mereka masih belum mengetahui atmosfer dan elemen pembentuk dari planet tersebut.

“Dalam tata surya kita, planet berukuran kecil atau sebagian besar terbuat dari batu. Namun di tata surya lain, kita belum benar-benar mengetahuinya,” kata Bruce Macintosh, Profesor Fisika di Universitas Standford.

Menurutnya keadaan Proxima B masih belum diketahui apakah akan seperti Bumi atau seperti Neptunus dengan atmosfer yang luas dan gas hidrogen, ataupun Jupiter yang merupakan kombinasi dari es dan air.

Faktor yang menjadi kemungkinan dapat dihuninya Proxima B adalah karena orbit Proxima Centauri merupakan bintang yang cukup aktif.

Jika planet Proxima B tidak memiliki atmosfer, maka suhu di sana akan menjadi lebih dingin dengan temperatur yang diperkirakan mencapai minus 40 derajat Fahrenheit. Namun jika sebaliknya, itu berarti planet tersebut memiliki sumber air di permukaannya yang menandakan bisa dihuni oleh manusia.

Dengan teknologi saat ini, manusia masih membutuhkan ribuan tahun untuk mencapai Proxima B. Masa hidup satu generasi saja tidak cukup.

“Pastinya, ke sana sekarang adalah fiksi ilmiah. Namun, orang akan berpikir, bukan hanya bayangan para akademisi untuk mengirim wahana antariksa ke sana,” kata Guillem Anglada Escude, astronom dari Queen Mary University of London, Inggris. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular