Dalai Lama bertemu dengan sekelompok psikoterapis Barat. Dia bertanya masalah apa yang paling sering terjadi ketika mereka bertemu secara tak terduga dengan klien mereka. Mereka menjawab harga diri yang rendah.

Dalai Lama tidak pernah mendengar masalah harga diri yang rendah. Ia mengatakan bahwa dalam kebudayaan Tibet, anak-anak tidak dibesarkan untuk memandang harga diri sebagai masalah. Sangat berbeda dengan dunia Barat!

Kita menghabiskan seluruh hidup untuk diri kita sendiri; itulah hubungan yang terlama dan terintim. Dengan demikian bukankah sudah jelas jika kita harus mencintai diri kita sendiri?

Nyatanya kita dengan mudah membenci diri kita sendiri dan terus-menerus mencari kesalahan diri sendiri. Kita terus-menerus mengalami keraguan: jika saya berkata salah apakah orang-orang akan menertawakan saya? Apakah saya sudah cukup baik? Bagaimana supaya orang lain menyukai saya? Apa yang saya lakukan dalam hidup saya? Mengapa saya selalu melakukan kesalahan?

Begitu terdengar suara buruk di kepala yang berkata: ”Anda tidak baik, Anda tidak berguna.” Kita mempercayainya. Sepanjang suara itu menguasai kita, maka kita kalah tak berdaya.

Tampaknya tidak masuk akal jika kita tidak menyukai seseorang dalam kehidupan kita. Kita mempunyai kesempatan untuk mencintai diri kita sendiri daripada menghujat diri kita sendiri sebagai orang yang tidak berguna.

Tidak ada yang lebih layak untuk mencintai diri sendiri, dan di setiap saat kita memiliki kesempatan untuk memahaminya.

Ego akan membuat kita berpikir tak ada harapan, maka kita perlu tetap sadar supaya tidak diperdaya oleh ego.

Dalam keheningan kita menciptakan ruang sekilas pikiran: harga diri yang rendah, keraguan diri, rasa takut, rasa tidak percaya, atau emosi lainnya. Apa pun yang muncul itu hanyalah sekilas pikiran, dan kita memiliki kecerdasan dan keterampilan untuk memilah-milah sekilas pikiran, apakah pikiran itu berdampak buruk atau bermanfaat.

Jika kita berjuang untuk menolak sekilas pikiran tersebut maka sekilas pikiran itu akan menghantui kita ke mana pun kita pergi; jika kita percaya sekilas pikiran tersebut akan terjadi, maka itu adalah ego yang menuntut untuk diakui. Ketika kita menyaksikan sekilas pikiran tersebut tanpa penolakan atau keterikatan, maka keraguan diri tidak lagi menguasai dan tidak lagi mempengaruhi kita.

Berteman dengan pikiran kita sendiri menunjukkan kepada kita bahwa kesulitan yang tersulit adalah kebahagiaan sifat sejati kita. Oh sungguh melegakan!(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular