Peluit tanda usainya pertandingan belum lagi berbunyi, bintang sepak bola Jerman Bastian Schweinsteiger yang diberi julukan “Schweini (si babi)”, sudah menangis tidak bisa berkata sepatah pun. Penonton bertepuk tangan riuh, ada yang berteriak “kaisar bola”. Bastian terus menerus menghapus air matanya, berulang kali menyatakan terima kasih dan terharu.

Bastian telah mengabdi selama 12 tahun di tim nasional dan kini karir Bastian akan berakhir, seorang bintang sepak bola legendaris pensiun secara terhormat. Ini adalah pertandingan persahabatan antara tim Jerman melawan Finlandia, dilihat dari sudut teknis, tim Finlandia sama sekali bukan tandingan Jerman, akhirnya pertandingan dimenangkan Jerman 2:0. Pelatih utama Loew memanfaatkan pertandingan ini untuk menguji pemain baru.

121 Kali Kenakan Jubah Tanding, Kapten Tinggalkan Lapangan

Setelah Piala Dunia 2014, para pemain seperti Lahm, Klose dan kawan-kawan telah pensiun, tiba giliran Schweini, tim nasional Jerman menghadapi tahap pergantian pemain lama dan pemain baru. Loew mengutus sekelompok pemain baru, tidak termasuk Schweini (32 tahun), usia rata-rata seluruh tim adalah 22,6 tahun. Dan ia seorang diri telah mewakili Jerman (121 kali), lebih banyak daripada jumlah pertandingan seluruh anggota (117 kali).

Sebenarnya siapa pun tahu, urusan pertandingan adalah hal kedua, pertandingan ini sebenarnya adalah pertandingan perpisahan bagi Bastian Schweinsteiger selaku kapten tim Jerman yang bermain sebagai gelandang tengah itu membawa timnya dengan ban lengan sebagai kapten.

Bicara soal ban lengan kapten, mungkin pelatih Loew secara khusus telah mengatur, Loew sejak awal telah menetapkan sendiri penggantinya, tapi tidak diumumkan, oleh karena itu berpisahnya Schweini dengan lapangan rumput menjadi sebuah akhir yang sempurna.

Gagal Dalam Piala Eropa, Menyesal Seumur Hidup

2004, Schweini yang baru berusia 19 tahun menerima panggilan timnas Jerman, dan memulai karir cemerlangnya di tim nasional. Bastian telah menyumbangkan 24 gol bagi timnas Jerman. Dua gol pertama dicetak pada Juni 2005 saat melawan Rusia dengan skor seri 2:2. Gol kedua dicetak oleh Schweini dalam pertandingan tersebut.

Piala Dunia 2006 yang diselenggarakan di Jerman, Jerman tidak kuasa membendung Italia pada babak semi final di Dortmund, Schweini adalah salah seorang pemain yang paling sedih. Permainan itu juga menjadikannya sebagai bintang sepak bola yang terkenal di Jerman.

Piala Eropa musim panas tahun ini Schweini untuk kali pertama memimpin tim melawan Prancis, ini adalah ke-38 kalinya ia bermain bagi Jerman dalam ajang Piala Dunia atau Piala Eropa, menjadikannya sebagai pemain bola yang paling banyak bermain di ajang internasional. Di antaranya 18 kali pertandingan Piala Eropa menjadikannya sebagai pemain bola nomor satu Jerman.

Sebelum dimulainya Piala Eropa tahun ini, Schweini mengalami cidera kaki dan absen selama beberapa bulan, Loew tetap membawanya ke Prancis. Dalam pertandingan perdana Jerman melawan Ukraina, beberapa menit sebelum peluit Schweini berhasil mencetak satu gol, dan berhasil tampil sebagai pahlawan.

Lalu ketika melawan tuan rumah di babak semi final, karena pelanggaran handball di kotak penalty ia memberikan peluang tendangan penalti bagi lawan, dan berdosa bagi Jerman. Akhirnya kereta perang Jerman gagal mengalahkan Ayam Jago Prancis, impian Jerman kandas di babak semi final, Bastian pun berpisah dengan status juara Piala Eropa.

Pria Keras Menangis, Sulit Ucapkan Selamat Tinggal

Di usia kurang dari 20 tahun Schweini telah bergabung dengan timnas Jerman. Selama 12 tahun ia telah bertanding 121 kali bagi negaranya. Dari seekor domba kecil ia tumbuh menjadi sosok hebat di timnas Jerman, dan berhasil merebut Piala Dunia pada 2014.

Ia tahu, pesta perpisahan adalah momen yang paling mengharukan, ketika para penonton memberinya aplaus, ia benar-benar tersentuh, air mata pria perkasa itu pun tak terbendung. Ia berulang kali berkata, “Berjuang demi Jerman adalah kehormatan saya. Dukungan Anda semua sangat bermakna penting bagi saya, saya sangat berterima kasih. Terima kasih semua.”

Malam itu, Schweini telah bermain selama 66 menit, setiap kali ia menggiring bola, penonton terus memberinya aplaus. Setelah pertandingan berakhir, para pemain senior turun ke lapangan mengarak Schweini keliling lapangan sambil melemparnya ke udara. Pertandingan perpisahannya berakhir dengan sempurna.

Dua tahun lalu, permainannya yang spektakuler pada ajang Piala Dunia di Brazil sangat berkesan bagi para penggemar bola Jerman, terutama pada babak final. Ia berkali-kali mengalami pelanggaran keras dari pihak lawan, bahkan sampai wajahnya terluka dan berdarah. Namun ia hanya menepis luka itu lalu melanjutkan pertandingan. Akhirnya ketika berhasil menggondol piala Hercules itu, bersama anggota tim lain meneteskan air mata.

Sejumlah adegan yang berdarah-darah dan tetesan air mata itu bakal membekas mendalam di dalam ingatan para penggemar. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular