Selama bertahun-tahun, ahli kesehatan mengakui standard diet di Amerika Serikat yang menjadi penyebab meningkatnya jumlah penderita diabetes dan penyakit jantung. Tetapi ilmuwan juga tidak dapat mengharuskan apa yang boleh kita makan dan apa yang tidak boleh kita makan. Sebagai contoh, lemak jenuh.

Selama beberapa dekade terakhir, dokter menganjurkan untuk makan makanan yang mengandung sedikit lemak jenuh untuk menghindari terjadinya penyakit kronis. Lemak jenuh ditemukan dalam produk hewani seperti susu, telur, dan daging, serta tanaman tropis seperti kelapa dan sawit. Lemak jenuh juga terdapat dalam banyak makanan tradisional di seluruh dunia selama berabad-abad, namun kini dokter menegaskan bahwa lemak jenuh berbahaya untuk kesehatan kita.

American Heart Association menganjurkan untuk makan lemak jenuh tidak lebih dari 5% dalam makanan Anda. Organisasi ini mengatakan bahwa “selama dasawarsa ilmuwan” telah membuktikan bahwa lemak jenuh “dapat meningkatkan kolesterol jahat dan lebih berisiko menderita penyakit jantung”.

Namun, beberapa peneliti mempertanyakan apakah benar lemak jenuh seburuk yang dikatakan oleh para ahli medis itu. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Dr. Deanna Gibson, seorang ahli imunologi, ahli mikrobiologi, dan profesor Biologi di University of British Columbia (UBC), Kampus Okanagan.

Orang gemuk yang ingin kurus tidak tertarik untuk makan lemak. Namun, Dr. Deanna Gibson mengatakan bahwa kebutuhan biologi membutuhkan sejumlah lemak yang berkualitas setiap hari yang bermanfaat untuk fungsi jantung dan kesehatan tubuh yang baik.

“Kita hanya mempunyai tiga macam makanan untuk dimakan: karbohidrat, protein, dan lemak. Untuk sejumlah alasan, kami memilih lemak untuk dimakan. Semua membran di dalam tubuh terbuat dari fosfolipid. Hormon juga tergantung pada jenis lemak dan jumlah lemak yang kita makan.

Riset nutrisi

Label buruk untuk lemak jenuh begitu kuat hingga tahun 2000-an, di mana lemak-trans dipromosikan sebagai lemak sehat pengganti lemak jenuh. Kini, pedoman makanan yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat menganjurkan makan lemak dari sumber sayuran seperti kacang kedelai, jangung, bunga matahari, dan canola sebagai mengganti lemak yang bersumber dari daging dan susu. Tapi Gibson mengemukakan bahwa kebijaksanaan konvensional mungkin salah lagi.

“Berdasarkan hipotesa literatur sebelumnya ditemukan kesalahan-kesalahan. Saya terkejut bahwa sangat sedikit yang diketahui mengenai zat gizi secara ilmiah. Saya bingung bagaimana kami dapat sampai pada kesimpulan seperti ini, karena saya tidak sependapat dengan jawaban dianggap yang baik dari sisi pandangan ilmiah.”

Penelitian Dr. Deanna Gibson yang terakhir yang diterbitkan baru-baru ini di dalam Journal of Infectious Diseases memperlihatkan bahwa lemak jenuh lebih mudah dicerna di dalam usus daripada minyak sayur yang dipercayai lebih menyehatkan. Walaupun minyak zaitun yang mengandung lemak tak jenuh rantai tunggal yang terbukti paling bermanfaat untuk kesehatan usus, masih kalah dengan khasiat lemak jenuh karena lemak jenuh mengandung kadar asam lemak tak jenuh rantai ganda dan omega 6 yang tinggi.

“Memang benar bahwa minyak zaitun bermanfaat untuk kesehatan usus yang terbukti dalam penelitian yang saya lakukan. Tetapi yang penting untuk saya adalah perbedaan antara lemak tak jenuh rantai ganda dan Omega 6 dengan lemak jenuh yang sama-sama memicu terjadinya peradangan, namun lemak jenuh memberi banyak respons perlindungan jika tidak ada omega 6.”

Penelitian dilakukan terhadap tikus, namun Dr. Deanna Gibson dan rekannya merencanakan percobaan yang serupa yang akan menguji berbagai lemak yang berbeda pada penderita penyakit radang usus.

Peradangan kronis

Kita tidak perlu khawatir terhadap infeksi dan kekurangan zat gizi seperti para pendahulu kita, namun dunia modern memiliki masalah kesehatannya sendiri. Sebagian besar orang saat ini menderita peradangan kronis yang menurut Dr. Deanna Gibson sebagian penyebabnya adalah makanan yang mengandung kadar omega 6 yang tinggi.

“Jika Anda makan banyak makanan yang memicu respons peradangan, maka tubuh Anda tidak tahu bagaimana harus menghentikan masuknya makanan tersebut,” katan Dr. Deanna Gibson. “Jika kita makan macam-macam lemak, hal ini tidak menyebabkan masalah. Namun orang zaman sekarang makan makanan yang banyak mengandung omega 6 dan tidak makan lemak jenuh, sehingga menimbulkan masalah di kemudian hari.”

Dr. Sanjoy Ghosh, seorang peneliti bidang gizi di University of British Columbia menyoroti masalah lain yang diakibatkan oleh minyak sayur yang mengandung lemak tak jenuh rantai ganda yang tinggi. Penelitian yang ia terbitkan tahun lalu menemukan bahwa lemak pada minyak sayur menyebabkan perilaku tidak aktif dan cenderung menyebabkan resistensi insulin di mana penderita membutuhkan lebih banyak insulin daripada normal untuk mengendalikan kadar gula darahnya, yang dijumpai pada penderita diabetes Tipe-2.

“Saya telah meneliti lemak selama 12 tahun. Pada penelitian saya yang terdahulu saya menemukan bahwa minyak bunga matahari lebih buruk dampaknya daripada minyak sawit, namun orang-orang tidak mempercayainya. Walaupun demikian, saya tetap percaya diri dengan hasil temuan saya dan kini orang-orang sudah memahami bahwa lemak jenuh tidak seburuk yang mereka sangka,” kata Dr. Sanjoy Ghosh.

Munculnya minyak nabati

Dr. Sanjoy Ghosh mengatakan bahwa orang-orang percaya hasil ilmiahlah yang menuntun pembuatan pedoman diet, padahal pedoman diet sering dihasilkan akibat tekanan kepentingan sosial, politik, dan ekonomi. Kenyataannya, diperlukan beberapa dekade untuk membuktikan kebenaran ilmiah untuk mengalahkan kepentingan tersebut.

Dr. Sanjoy Ghosh mengatakan,”Hal ini terjadi pada lemak-trans yang sejak tahun 1980-an telah kami ketahui berdampak buruk, namun baru 20 tahun kemudian pemerintah akhirnya setuju. Namun kemudian perusahaan makanan yang besar mengatakan,’Hei, kami tidak dapat menggantikan minyak kami sedemikian cepat itu. Kami membutuhkan waktu, karena minyak yang baru akan mengubah rasa makanan kami.’”

Menurut Dr. Sanjoy Ghosh, kutukan terhadap penggunaan lemak jenuh lebih mengarah kepada memberi keuntungan untuk pundi-pundi perusahaan makanan daripada berdasarkan fakta ilmiah.

Dr. Sanjoy Ghosh mengatakan bahwa,”Pada tahun 1950-an dan 1960-an, petani kebun tanaman penghasil minyak di Amerika Utara terpukul oleh masuknya minyak kelapa dari Malaysia dan Indonesia. Hal sama terjadi saat ini pada pabrik di Amerika Serikat yang terpukul dengan hasil industri dari Tiongkok. Yang penting diketahui bahwa tidak ada tanaman yang mengandung lemak jenuh yang dapat tumbuh subur di Amerika Utara, maka yang ditanam adalah minyak bunga matahari, safflower, canola, jagung, dan lain-lain. Maka sejak tahun 1950-an, lemak jenuh dianggap memberi dampak buruk.”

Dr. Sanjoy Ghosh mengatakan,”Dalam 30 tahun terakhir, konsumsi lemak di Amerika Utara berubah secara dratis. Dahulu orang di Amerika Utara menggunakan minyak babi untuk masak, namun kini tidak seorang pun melakukannya. Kami makan apa yang sudah disajikan. Semua yang dijual di pasar sudah tidak mengandung lemak jenuh. Asupan lemak jenuh tidak meningkat selama 30 tahun terakhir, tetapi mengapa penyakit jantung masih meningkat? Logikanya, jika lemak jenuh sebagai penyebab penyakit jantung, seharusnya penyakit jantung menurun seiring sudah tidak mengonsumsi lemak jenuh.”

Menurut data statistik penyakit jantung dan stroke yang dikeluarkan oleh American Heart Association pada tahun 2015, penyakit jantung adalah penyebab utama kematian, yaitu sekitar 17 juta kematian akibat penyakit jantung terjadi setiap tahun. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 24 juta kematian akibat penyakit jantung pada tahun 2030.(Epochtimes/Vivi/YAnt)

Share

Video Popular