Mereka yang pernah berkunjung ke Jepang, mungkin akan menemukan kalau di kasir mana pun di Jepang itu tidak ada detektor uang (palsu). Tidak ada kasir yang akan melihat dengan seksama apakah uang yang anda bayar itu asli atau bukan. Dan yang lebih mengejutkan lagi tidak pernah melihat adanya money detector di bank.

Apakah orang Jepang tidak khawatir mendapatkan uang palsu?

Jangankan mendapatkan uang palsu, bahkan laporan tentang uang palsu juga sangat jarang terdengar.

Lantas mengapa tidak ada uang palsu Yen Jepang?

Mari kita pahami sejenak tentang Yen Jepang ini.

Pertama, dari sisi kertas, pencetakan, dan watermark (tanda air) pada uang kertas yen Jepang itu sangat sempurna pembuatannya, dan diakui sebagai salah satu uang yang paling sulit dipalsukan.

Hal ini terutama karena uang kertas yen Jepang menggunakan kertas sintetis, dalam proses pembuatannya diresapi dengan cairan khusus dari sejenis kulit pohon khas Jepang, ciri pohon ini liat dan memiliki kilau yang khas, berwarna kuning muda. Selain itu juga menggunakan tinta khusus, yang mengandung magnetic pada gambar tokoh dan huruf yang tertera pada nilai nomimal.

Atsushi Mizoguchi, salah seorang pengarang terbaik di Jepang, mengatakan, bahwa membuat uang palsu risikonya sangat tinggi dan hukumnya sangat berat di Jepang.

“Karena biayanya yang tinggi, risiko hukum juga sangat berat, tidak sebanding dengan uang yang diperoleh, sehingga tidak ada orang Jepang, setidaknya warga asli Jepang sendiri, yang membuat uang palsu, kecuali uang palsu itu dibuat di luar Jepang, dan disebarkan di Jepang,” kata Mizoguch.

Selain itu, dibandingkan dengan uang kertas nominal ¥ 2.000 edisi tahun 2.000, pada November 2004 lalu, uang pecahan seri baru dengan nominal ¥ 1.000, ¥ 5.000 dan ¥ 10.000,- yang dikeluarkan Bank of Japan itu kembali diberi tambahan barcode watermark. Hal ini untuk meningkatkan variasi cahaya untuk mencegah pemalsuan.

Sebenarnya, orang Jepang bukan hanya tidak waspada sedikit pun pada uang kertas mereka, pada kenyataannya, di pasar-pasar Jepang tidak ada barang apapun yang ditandai dengan Anti-Counterfeit Labels (Label Stiker Hologram Anti Pemalsuan Produk). Sebagai orang asing, mungkin akan bertanya, mengapa tidak ada Anti-Counterfeit Labels pada barang-barang komersial di Jepang? Dengan tidak adanya Anti-Counterfeit Labels, apa bisa menjamin barang  yang dibeli itu asli atau bukan?

Hal ini rasanya terkesan lucu di mata orang Jepang, karena bagi orang Jepang, menjual barang asli itu memang sudah sewajarnya, tidak perlu antispasi atau pembuktian.

Tapi, sistem kejujuran demikian pasti terdapat suatu fenomena seperti ini, yaitu konsekuensinya pasti sangat serius jika terjadi pelanggaran. Terkadang ada juga fenomena penipuan dalam perdagangan di Jepang, misalnya produk asing dipalsukan sebagai produk lokal Jepang, bangsa Jepang percaya bahwa negara mereka adalah yang terbaik, sehingga, orientasi penipuannya berlawanan dengan Tiongkok.

Beberapa tahun yang lalu, pernah terjadi beberapa kali peristiwa terkait ikan sidat Tiongkok yang dipalsukan sebagai produk domestic Jepang, dan akibatnya:

Pertama, pimpinan meminta maaf secara terbuka.

Kedua, bank berhenti memberikan pinjaman,  mitra kerjasama menghentikan hubungan bisnis, sehingga perusahaan bersangkutan pun bangkrut.

Ketiga, pemilik perusahaan yang berusia lanjut akan memilih jalan pendek karena tak mampu untuk bangkit kembali dari keterpurukan, misalnya bunuh diri.

Beberapa waktu lalu, dimana setelah terkuaknya skandal pemalsuan tesis akademik Dr. Haruko Obokata yang menggegerkan dunia kedokteran Jepang, Prof. Yoshiki Sasai, seorang ilmuwan terkemuka Jepang yang terlibat dalam skandal pemalsuan hasil riset sel punca (stem cell) dan merupakan pimpinan Dr. Obokata itu ditemukan tewas gantung diri di laboratoriumnya.

Karena skandal pemalsuan yang melibatkannya, sehingga Yoshiki Sasai, seorang ilmuwan Jepang yang disegani itu pun merasa bersalah, sampai-sampai tewas bunuh diri karena malu. Selain sangat disayangkan, sekaligus membuat kita mendesah betapa tingginya harga sebuah pemalsuan yang harus dibayar di Jepang.

Contoh lain misalnya, pembohongan oleh seorang figur publik, di Jepang, mereka yang diketahui berbohong tidak bisa lagi memberi penjelasan apa pun untuk bela diri.

Karena itu, pemalsuan di Jepang adalah satu hal yang jauh lebih serius daripada mendekam di penjara. Pada dasarnya jika ditemukan adanya penipuan, itu berarti masa depan oknum ini sudah berakhir. Bahkan bunuh diri yang dilakukan para pemilik atau pimpinan suatu perusahaan karena pemalsuan atau penipuan itu tidak akan menarik simpati orang-orang, karena mereka hanya menganggap anda telah memperbaiki kesalahan dengan cara bunuh diri.

Jepang adalah bangsa yang cermat, ketat (disiplin), ulet, teguh dan perfeksionis. Inilah salah satu faktor utama  yang menjadikan Jepang sebagai negara yang kuat dan makmur. (ntdtv/sui shi/joni/rmat)

Share

Video Popular