Cynthia Darling, sangat menyadari akan dampak obat antidepresan; putranya diberi obat antidepresan oleh seorang pembimbing di perguruan tinggi dan mengalami efek negatif yang nyata yang hampir merenggut nyawanya. Cerita di bawah ini memberitahu kita bahwa kita semua perlu merawat orang yang kita cintai dengan hati-hati.

Seorang ibu yang buta pengetahuan

Saya selalu berpikir bahwa saya telah mejalankan tugas sebagai seorang ibu yang baik. Saya percaya saya cukup pandai membaca perasaan putra saya. Saya dan putra saya selalu berbicara secara bebas mengenai apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Jadi, ketika ia pulang ke rumah pada liburan kuliah musim panas, saya senang melihat ia tampak senang, bahkan gembira. Memang benar, ia sekarang jauh lebih agresif saat mengendarai kendaraan, bahkan ia berteriak pada pengendara lain. Sekali waktu ia pernah keluar dari mobil untuk memberi ceramah kepada seorang pria yang mengendarai mobil di belakang mobil kami. Saya sempat berpikir mengapa mereka berdua menjadi pengendara yang saling bersaing?

Selanjutnya, saya melihat keringat yang bercucuran di wajah dan tangan putra saya walaupun cuaca dingin. Saya ketahui kemudian bahwa karena keringat yang bercucuran ini sangat mengganggunya maka ia mengambil langkah drastis dengan cara menjalani operasi untuk menutup kelenjar keringatnya di Tai Pei. Saya merasa ia tidak seperti putra saya yang dulu. Andai saya tahu lebih banyak mengenai efek samping obat, saya akan mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi dalam hidup putra saya. Saya pribadi tidak pernah bersentuhan dengan obat antidepresan.

Ia berkata kepada saya bahwa ia tidak takut apa-apa dan memiliki mentalitas ‘aku tidak peduli’. Tak lama kemudian, ia mulai minum minuman keras dan menerima surat teguran berkendara di bawah pengaruh minuman keras, dan aku mulai sungguh khawatir. Dia menantang orang di bar. Saya pikir ia membutuhkan seorang terapis karena ini adalah masalah kesehatan mental. Aku mulai bertanya-tanya apakah ia telah mewarisi kelainan mental ibu saya, yang berarti ini adalah kesalahan saya. Saat itu putra saya berusia awal dua puluh tahun. Apakah ini awal timbulnya skizofrenia?

Tangan putra saya mulai gemetar ketika ia bercerita kepada saya bahwa ia harus menghadap pembimbing perguruan tinggi ketika kembali kuliah dan ia sangat cemas akan hasil laporan yang akan didengarnya. Pembimbing tersebut membagikan antidepresan kepadanya dan menyuruhnya untuk datang kembali jika ia membutuhkan lebih banyak.

Putra saya mengatakan bahwa pada awalnya ia sangat hebat. Ia sangat energik, tidak ada perasaan khawatir, semuanya baik-baik saja. Tetapi, secara bertahap, ia membutuhkan lebih banyak pil antidepresan untuk mendapatkan efek yang sama. Ketika ia memutuskan untuk mengurangi konsumsi pil tersebut, dia menjadi gelisah, tidak bisa tidur dan menderita secara fisik maupun mental. Ia tidak ingin memberitahu saya bahwa ia telah ketinggalan kelas kuliah, menjadi peminum atau berkeinginan untuk bunuh diri.

Ketika dia pulang kembali ke rumah, saya tidak buta pengetahuan lagi. Kondisinya telah memburuk sedemikian rupa sehingga ia ia tidak ingin pergi ke luar dan hanya tinggal di kamarnya. Ia mengatakan bahwa saya tidak akan mengerti mengenai kondisinya. Ia memutuskan untuk berhenti mengonsumsi obat antidepresan. Ia mengatakan ia dipaksa untuk mengonsumsi obat antidepresan, karena para dokter mengatakan kepadanya bahwa efek samping yang ia alami adalah akibat masalah mentalnya, bukan akibat efek samping obat antidepresan itu sendiri. Para dokter bersikeras supaya ia tetap mengonsumsi “obat “

Bulan-bulan berikut bagaikan neraka. Saya bangga padanya bahwa ia tidak menyerah dan tidak kembali mengonsumsi obat antidepresan. Ia menderita tremor, depresi, teringat masa lalu dan ketakutan bahwa dia akan gila. Pemulihan berlangsung lambat dan menyakitkan selama berbulan-bulan. Dia mengonsumsi semua jenis vitamin dan melakukan latihan fisik sampai ia kelelahan. Ia berbagi pengalaman dengan para mantan pengguna obat antidepresan yang memberinya simpati dan membimbingnya ke jalan yang benar. Efek samping terakhir adalah kesemutan semua jari tangannya selama berbulan-bulan.

Suatu hal yang baik terjadi. Ia membeli seekor anak anjing gembala Jerman yang perlu diajak jalan-jalan, diberi makan, dicintai dan dirawat selama 24 jam sehari. Anjing tersebut telah menjadi penyelamat hidup putra saya sehingga saya mendapatkan putra saya yang dulu kembali.

Sekarang ini, saya mendapatkan putra saya yang dulu kembali. Ia memiliki anjing tersebut dan seorang gadis yang menyenangkan. Ia masih menyesal akan masa lalunya yang gelap, tapi saya bangga akan putra saya yang telah memenangkan pertempuran. Penyesalan saya yang terbesar adalah betapa sedikit pengetahuan akan efek samping obat antidepresan yang saya ketahui pada waktu itu sebagai penyebab penderitaannya.

Selama dua dekade terakhir, penggunaan pil antidepresan di Amerika Serikat telah meroket, di mana satu dari empat wanita yang berusia 40 tahun sampai 50 tahun mengonsumsinya. Apakah kita sungguh membutuhkan pil antidepresan yang diresepkan atau akibat kesalahan diagnosis yang menjadi bahaya yang nyata dalam budaya kita? Cukup banyak penelitian yang memperingatkan kita untuk berhati-hati akan hal ini. Penelitian baru terhadap binatang yang dilakukan oleh Wake Forest Baptist Medical Center telah menyarankan untuk berhati-hati mengonsumsi Zoloft, yaitu obat antidepresan yang sering diresepkan, yang dapat mengubah otak penderita depresi dan otak orang yang tidak menderita depresi dengan cara yang berbeda.(Epochtimes/Cynthia Darling/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular