Oleh: DR. Frank Tian, Xie*

Tokoh akademis AS mendeskripsikan Tiongkok dan Rusia dalam barisan negara kedua umumnya memakai istilah “negara besar” (Great Power). Tentu saja orang Amerika sendiri mendeskripsikan negaranya sendiri dengan istilah negara “Super Power”. Dulu bekas negara Uni Soviet juga disebut sebagai negara “Super Power”, tapi sekarang negara Rusia sudah tidak mendapat gelar itu lagi. Dari “Super Power” merosot menjadi “Great Power” adalah kesenjangan yang sangat besar, tidak begitu megah lagi.

Saat negara-negara seperti RRT dan Rusia menghadapi negara super power seperti Amerika Serikat, tentunya mempunyai harapan dan sikap yang berbeda, mengamati pandangan negara lain terhadap negara sendiri serta perencanaan strategi militer berbagai negara, seharusnya bisa bermanfaat untuk memahami kondisi hubungan internasional saat ini.

Memasuki batas seratus hari terakhir ajang pilpres AS, capres kedua partai mengeluarkan jurus-jurus pamungkas untuk menyerang lawannya dan di saat yang sama menaikkan pamor diri. Prinsip politik kedua belah pihak walaupun saling berseberangan, namun yang mengejutkan adalah adanya kemiripan slogan yang dipakai. Slogan Donald Trump adalah “Make America Great Again”, sedangkan Hillary Clinton mempunyai slogan “Stronger Together”. Tentu bagaimana konkritnya pemahaman terhadap slogan ini tergantung dari masing-masing warga pemilih.

Keterangan foto kapal induk: Kapal induk USS America CV-66 sebelum ditenggelamkan oleh AS sendiri dalam rangka uji coba kemampuan militer terkini mereka. Hanya negara yang besar (great) dan juga kuat (strong), yang memiliki keyakinan diri seperti itu. (internet)
Keterangan foto kapal induk: Kapal induk USS America CV-66 sebelum ditenggelamkan oleh AS sendiri dalam rangka uji coba kemampuan militer terkini mereka. Hanya negara yang besar (great) dan juga kuat (strong), yang memiliki keyakinan diri seperti itu. (internet)

Kuat (Strong) Tidak Sama Dengan Besar (Great)

Baik pemerintah maupun rakyat AS berharap negaranya menjadi “Great (besar dan mulia)”, sedangkan Beijing dan sebagian warga RRT berharap negaranya menjadi “besar dan kuat”. Great dengan Strong, sangat kecil perbedaannya, makna dan tingkatannya juga sangat berbeda, bahkan bisa dikatakan ibarat langit dan bumi. Yang dimaksud dengan “great”, ini tak perlu diperdebatkan lagi; yang dimaksud dengan “powerful”, atau “strong”, bisa juga diartikan “formidable” (kuat yang menakutkan).

Seseorang yang Great (besar dan mulia), adalah orang yang memiliki kemampuan, karakter, bobot dan keunggulan melebihi rata-rata dan orang pada umumnya. Perpanjangan dari makna ini bisa mencakup kebesaran, kemegahan, keagungan, kemuliaan, yang mengharukan orang lain.

Seseorang yang kuat (strong), bisa berteriak dan mampu bertarung, tangguh dan keras, tapi juga bisa membuat orang lain takut dan ngeri.

Great mencakup kuat, tapi melampaui kuat, adalah suatu kekuatan yang positif, yang baik, yang kaya akan kekuatan dan energi positif; strong adalah kondisi awal untuk menjadi Great, mungkin merupakan pondasi untuk menjadi Great, tapi tidak semata bagian utama yang membentuk kebesaran itu, karena kuat juga mungkin merupakan kumpulan dari unsur energi yang tidak positif, yang tidak baik.

Kuat (strong) tidak dapat menjamin Anda tidak akan kalah, karena kuat hanya tangguh bertenaga, berbadan besar, kepalan tinju besar, belum tentu memiliki kemuliaan moral dan keadilan. Contohnya seperti orang berbadan besar, berotot, kekar, di lingkungan mana pun, belum tentu bisa menjadi orang yang selalu dapat meraih kemenangan. Sedangkan Great atau agung, karena memiliki elemen moral dan faktor psikologis yang kuat, adalah orang yang akhirnya menjadi pemenang mengalahkan musuhnya, bisa menaklukkan musuh tanpa harus berperang.

Negara yang Great TIdak Bisa Hanya Mengandalkan Militer yang Kuat

PM Singapura Lee Hsien Loong baru-baru ini berkunjung ke AS, memperingati 50 tahun hubungan bilateral kedua negara. Pemaparan Lee Hsien Loong tentang AS cukup tepat, yang sebenarnya telah mewakili pandangan dan pengakuan negara lain terhadap AS. Lee Hsien Loong berkata, AS adalah sebuah negara yang besar (Great), tidak hanya karena kekuatan militer dan kekayaannya, tapi juga karena prinsip Amerika yang luhur, keterbukaannya, jiwa besarnya serta kemurahan hati dalam hal mental.

Orang Amerika berkata ingin membangun negara yang besar (great), tentu saja termasuk kekuatan militer yang besar, tapi juga mencakup kekuatan mental, kekuatan moral, dan kekuatan sosial yang patut dihormati. RRT berkata ingin membangun negara yang kuat, yang diharapkan adalah kuat secara militer, PKT juga berkata ingin membangun AL, AD, dan AU yang kuat. PKT juga terus mendoktrin rakyatnya, mengatakan hanya jika RRT telah menjadi “kuat”, maka tidak “menjadi sasaran pukul”.

Karena ingin menjadi “kuat” maka harus mati-matian mengembangkan kekuatan militer. Setelah persenjataan dan perlengakapan perang versi terbaru AS diluncurkan mulai dari pesawat siluman, pesawat tanpa awak, senjata antariksa, sampai kapal perang siluman, seluruh dunia pun tahu tak lama lagi tiruan bikinan RRT akan segera muncul.

Negara yang mengejar menjadi “kuat (strong)”, karena dipaksakan, pasti akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk membesar-besarkan, gembar-gembor, melebih-lebihkan, bahkan ketika ditertawakan pun tidak peduli lagi akan kehormatan. Negara yang mengejar menjadi “besar (great)”, tidak akan sesumbar, karena membual tidak sesuai dengan “kebesarannya”, membual dan melebihkan kemampuan diri adalah sifat yang sangat buruk, sama sekali tidak bisa dianggap besar, justru sangat kerdil, jadi tidak akan sesumbar, terlebih lagi tidak akan sesumbar soal kekuatan negaranya sendiri.

Media asing berbahasa Mandarin yang pro-PKT menerbitkan artikel berjudul “Tanda Tangan Kontrak Besar Senilai 30 Milyar, RRT Akan Lampaui Amerika!”. Artikel menyebutkan Zhongren Group di Shenzhen telah menandatangani kontrak dengan Departemen Sumber Daya Alam Rusia yakni “Kesepakatan Kerangka Kerjasama Strategi”, yang akan mengimpor minyak mentah senilai RMB 30 milyar. “Pesanan besar” senilai RMB 30 milyar ini setara dengan USD 5 milyar. Impor minyak mentah sebesar USD 5 milyar ini, apakah bisa membuat RRT “melampaui Amerika?”

Setiap tahunnya AS mengimpor sekitar 30 milyar barel minyak mentah, setiap tahun menghabiskan sekitar USD 330 milyar untuk mengimpor minyak mentah!

Pada 2005, untuk melakukan uji coba kemampuan kapal induk AL, pihak militer AS tidak ragu mengorbankan sebuah kapal induk yang telah usang dan non-aktif (USS America CV-66) ditarik ke laut lepas untuk dijadikan sasaran tembak, rudal, bom, torpedo dari udara, atas laut, dan bawah laut ditembakkan bersamaan selama sebulan, USS America CV-66 ditenggelamkan oleh orang Amerika sendiri ke dasar laut. Saat kapal induk itu tenggelam perlahan, sejumlah jendral AL Amerika berdiri tegak dan memberi hormat kepada kapal induk yang telah berkorban bagi negaranya.

Peristiwa ini bagi rakyat RRT ibarat dongeng, sesuatu yang mustahil. Rakyat RRT akan merasa menenggelamkan sebuah kapal perang yang diberi nama negaranya sendiri adalah akan membawa sial, adalah sesuatu yang sulit dibayangkan. Negara yang kuat (strong) tapi tidak besar (great), tidak akan memiliki keyakinan dan jiwa seperti itu dan hanya negara yang besar (great) dan juga kuat (strong), yang memiliki keyakinan diri seperti itu. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

*John M. Olin Palmetto Professor in Business University of South Carolina Aiken

Share

Video Popular