Spirulina adalah algae berwarna biru kehijauan yang banyak mengandung protein, vitamin, antioksidan, dan nutrisi lainnya. Spirulina digunakan sebagai sumber makanan di Chad, pada abad ke-9 , dan oleh suku Aztec di Meksiko pada abad ke-16.

Spirulina, sejenis organisme bersel satu, namanya daiambil dari kata Latin untuk “spiral” atau “spiral” karena karakteristiknya. Di AS, spirulina banyak dikenal sebagai suplemen gizi atau bahan untuk nutrisi menambah daya untuk smoothies dan minuman hijau. Namun, di bagian lain dunia, spirulina dianggap sebagai sumber makanan yang berharga untuk mencegah malnutrisi.

Apa yang membuat spirulina sebagai bintangnya nutrisi?

Meskipun sering disebut sebagai “algae biru kehijauan”, spirulina adalah jenis sianobakteri. Sianobakteri digolongkan sebagai bakteri karena materi genetiknya tidak tersusun di dalam inti sel yang dikelilingi membran sel. Berbeda dengan bakteri lainnya, sianobakteri memiliki klorofil dan menggunakan sinar Matahari sebagai sumber energi dengan cara yang sama seperti tumbuhan dan algae lainnya.

Kaya akan protein yaitu 50% sampai 70% dari beratnya (sebagai perbandingan, daging merah hanya mengandung 27% protein). Juga mengandung semua asam amino esensial, 12 asam amino non-esensial, serta berbagai nutrisi ampuh lainya seperti:

  • Vitamin B (terutama kaya akan vitamin B-12), vitamin K, dan vitamin lainnya
  • Sumber asam gama-linolenat yang terbaik, ( asam lemak yang penting untuk jantung dan sendi)
  • Sangat kaya akan yodium alami
  • Mineral (meliputi kalsium, besi, magnesium, selenium, mangan, kalium, dan seng)
  • Asam lemak esensial lainnya, meliputi sulfolipid yang mencegah terjadinya infeksi HIV melalui sel T-pembantu
  • Fitopigmen (fitosianin, klorofil, dan karotenoid)
  • Senyawa metalo-tionin (protein bergabung dengan logam sehingga mengikat isotop radioaktif yang berbahaya)
  • Kadar karbohidrat yang rendah (15% sampai 20%)
  • 18 Macam asam amino

Selain kaya berbagai nutrisi, spirulina memiliki sifat khusus :

Protein yang terkandung di dalam spirulina sangat mudah dicerna (83% – 90% mudah dicerna), karena spirulina tidak memiliki dinding sel, seperti yang terdapat pada jamur dan klorela. Oleh karena itu penggunaan protein netto spirulina adalah tinggi (antara 53% – 61%) dan tidak perlu dimasak untuk meningkatkan khasiat proteinnya.

Penelitian membuktikan “rasio efisiensi protein” yang sangat tinggi untuk spirulina, yang artinya tubuh mampu menggunakan asam amino secara efisien.

Mengandung asam gama-linolenat yang sangat jarang dalam kadar yang tinggi dalam makanan dan biasanya disintesis dari asam linoleat oleh tubuh. Asam gama-linolenat adalah bahan pemula yang penting untuk biokimia, seperti prostaglandin, leukotrin dan tromboksan, yang berfungsi sebagai perantara kimia untuk reaksi radang dan reaksi imun.

Tidak mengandung asam lemak dan mengandung kadar asam lemak rantai bercabang yang sangat rendah. Manusia mempunyai kadar asam lemak dan asam lemak rantai bercabang yang tinggi, namun tidak dapat dimetabolis.

Mengandung kalsium, fosfor, dan magnesium yang sama seperti terkandung dalam susu. Kadar vitamin E (tokoferol) yang sama dengan yang terkandung dalam gandum. Spirulina mengandung vitamin B12 yang sama seperti yang terkandung dalam hati mentah!

Membantu memerangi gizi buruk

Spirulina tumbuh liar di danau dengan pH air yang basa di Meksiko dan Benua Afrika, meskipun secara komersial tumbuh dan dipanen di seluruh dunia. Berproduksi cepat, dan karena organisme individu cenderung mengumpul, mudah untuk memanen.

Produksi komersial dari spirulina diperkirakan mencapai 220.000 ton pada tahun 2020. Jepang adalah produsen dan juga konsumen terbesar, namun penggunaannya berkembang di India, juga.

Organisasi Antenna India memberikan permen spirulina kepada anak-anak yang berisiko menderita kekurangan gizi.

Peneliti telah membuktikan bahwa anak-anak yang mengonsumsi suplemen spirulina setiap hari selama lima hari setiap minggu selama dua bulan memperlihatkan status gizi yang membaik dan meningkat kecerdasannya dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengonsumsi spirulina.

Spirulina kaya akan zat gizi. NASA dan Badan Antariksa Eropa sedang meneliti manfaat spirulina dalam diet astronot di ruang angkasa dan planet Mars.

Di samping kaya akan zat gizi, spirulina juga bermanfaat untuk lingkungan hidup dan untuk mereka yang menanamnya. Sebagai contoh, tanaman spirulina kurang memerlukan air sebanyak 10 kali lipat dibandingkan dengan sayuran lain, dan dipanen sepanjang tahun. Menurut penelitian Antenna dari India, spirulina mengandung protein 20 kali lipat per 0,405 hektar lahan dibandingkan dengan kacang kedelai.

Mudah tumbuh di mana kecepatan pertumbuhannya sekitar 30% setiap hari, dibandingkan dengan tanaman padi.

Bermanfaat untuk kesehatan dan hampir mempengaruhi seluruh tubuh. Sebagai contoh, spirulina sangat bermanfaat untuk mengobati penyakit jantung dan pembuluh darah dengan cara memberi profil lemak yang lebih baik, mengendalikan tekanan darah tinggi, dan meningkatkan elastisitas pembuluh darah.

Penelitian pada binatang juga menunjukkan bahwa spirulina juga melindungi hati, karena mengandung kadar antioksidan yang tinggi dan mampu mensintesis atau mengeluarkan nitrat oksida. Pada penelitian tiga macam makanan yang kaya akan antioksidan (blueberry, bayam, dan sprirulina), spirulina terbukti sangat melindungi otak, karena berkemampuan untuk membasmi radikal bebas dan meredakan peradangan.

Terbukti bermanfaat bagi kondisi luas seperti keracunan arsenik alergi. Menurut sebuah penelitian, pasien yang diobati dengan spirulina dilaporkan menghilangkan gejala umum terkait dengan rhinitis alergi, seperti hidung meler dan mampet, bersin, dan gatal-gatal.

Waspadai kontaminasi

Dalam dosis aman sangat aman untuk dikonsumsi , di mana hanya beberapa kasus terjadi efek samping. Namun, jika spirulina dipanen dari air yang terkontaminasi, atau ditanam dengan cara yang salah, maka dapat menimbun racun dari lingkungan, oleh sebab itu sebaiknya hindari untuk mengonsumsi spirulina yang berasal dari perairan Jepang dan sekitarnya yang dipanen setelah tanggal 1 Maret 2011 karena terkontaminasi dengan radiasi akibat ledakan nuklir di Fukushima. Sebaiknya Anda mengonsumsi spirulina organik dari sumber kebun yang terpercaya yang menanamnya pada air yang tidak terkontaminasi.

Untuk mencegah terjadinya penyakit, dosis yang dianjurkan adalah 3.000 miligram setiap hari untuk orang dewasa, dan 500 miligram sampai dengan 1.500 miligram setiap hari untuk anak-anak. Untuk menyembuhkan penyakit, dosis yang dianjurkan adalah 1.000 miligram sampai 20.000 miligram setiap hari untuk orang dewasa. Yang harus diingat adalah spirulina mengandung banyak vitamin dan mineral yang penting serta pengusir racun yang kuat, maka sebaiknya mulai mengonsumsi dari dosis terendah. Jika merasa tubuh Anda memberi respons yang baik terhadap spirulina, maka tambahkan dosis secara bertahap. Beberapa efek samping yang dapat terjadi:

  • Demam ringan. Kadar protein yang tinggi yang terkandung dalam spirulina akan meningkatkan metabolisme, yang akan meningkatkan suhu tubuh.
  • Tinja berwarna hijau tua. Spirulina membuang sampah-sampah dari usus besar sehingga menyebabkan tinja berwarna hijau tua. Kandungan klorofilnya juga menyebabkan tinja berwarna hijau tua.
  • Sering buang gas. Hal ini menunjukkan sistem pencernaan yang tidak berfungsi dengan benar.
  • Perasaan bahagia dan mengantuk. Tubuh mengubah protein menjadi energi panas, yang akan menyebabkan rasa lelah secara sementara. Proses pengeluaran racun juga menyebabkan mengantuk, yang menunjukkan bahwa tubuh kelelahan dan perlu untuk beristirahat.
  • Gatal pada Kulit. Diakibatkan oleh proses pembersihan pada usus besar dan bersifat sementara.

Tubuh akan beradaptasi dengan spirulina. Untuk mengurangi timbulnya efek samping maka mulailah dengan dosis terendah yang kemudian dinaikkan secara bertahap untuk melihat reaksi tubuh. Beberapa orang tampaknya sensitif terhadap spirulina dan tidak dapat mentolerirnya, maka untuk orang yang sensitif sebaiknya tidak mengonsumsinya , sebaiknya mengonsumsi klorela dengan khasiat yang serupa. Sebagian besar orang dapat mentolerir klorela maupun spirulina.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular

Ad will display in 09 seconds