Hingga saat ini pengetahuan manusia terhadap alam semesta yang teramat maha luas ini masih sangat minim. Banyak orang memilih untuk tidak peduli karena alasan amat jauh dan amat terlalu besar, dan hanya terfokus dengan apa yang disebut kenikmatan dari standard teknologi manusia masa kini yang terbatas itu. Akan tetapi, hampir dua bulan terakhir ini, telah terjadi sejumlah fenomena alam semesta misterius yang tak dapat dijelaskan oleh satu per satu ilmuwan. Sinyal apakah yang diisyaratkan fenomena tersebut?

Situs ilmiah Gizmodo baru-baru ini memberitakan, masa pergantian musim di akhir 2015 hingga awal 2016, pada lapisan stratosfir tiba-tiba muncul pergerakan yang misterius. Angin yang saling berotasi dari arah timur dan arah barat telah berubah aturannya. Angin barat tiba-tiba tidak bertiup ke arah bawah lagi, melainkan bertiup ke atas, dan bertabrakan dengan angin timur yang datang secara teratur.

Fenomena ini bertahan selama setengah tahun, hingga Juli 2016 baru kembali normal dimana angin timur dan barat saling berotasi (tanpa bertumbukan). Terhadap hal ini, para ilmuwan merasa sangat terkejut, tapi tidak bisa menemukan penyebabnya.

Di situs Gizmodo pula, pada Senin (5/9/2016) lalu juga diberitakan, para astronom kebingungan terhadap gugus bintang Eta Carinae yang berjarak 7.500 hingga 8.000 tahun cahaya dari bumi, karena ledakan yang terjadi setidaknya lebih dari 3 kali pada sejumlah benda langit tersebut, terutama antara 1998-1999, kecerahan sinar dari Eta Carinae tiba-tiba meningkat satu kali lipat. Ilmuwan tidak mengerti informasi apa yang hendak disampaikan kepada manusia lewat fenomena misterius ini.

Selain itu media massa AS yakni CBS pada 18 Agustus lalu melaporkan, meskipun para astronom telah mengukur kecepatan Daya Tarik Raksasa (Great Attractor) menarik galaksi, seperti Bimasakti yang terbang menuju Daya Tarik Raksasa dengan kecepatan 2,16 juta kilometer (sekitar 600 kilometer per detik), serta mengamati berbagai fenomena di gugus bintang tersebut, tapi hingga saat ini masih terus mencari sumber asal Daya Tarik Raksasa dan karakteristiknya. Daya Tarik Raksasa adalah tempat asal sebuah kekuatan tarik raksasa, adalah sebuah ruang dimensi.

Situs ilmu fisika lainnya yakni Phys.org pada 27 Juli lalu memberitakan, laporan riset yang dirilis oleh para peneliti pada tabloid Royal Astronomical Society Monthly dari Inggris menyatakan, “Kami telah mencoba berbagai cara untuk menjelaskan hasil pengamatan terhadap CX330, dan hanya bisa menjelaskan satu hal: bahwa ini adalah sebuah gugus bintang berusia muda yang berlokasi di pusat galaksi dan sedang tumbuh dengan cepatnya.”

Bintang ini diberi kode CX330, yang pertama kalinya terobservasi oleh teleskop Chandara dari NASA pada 2009 lalu. Hal yang membingungkan para ilmuwan adalah, CX330 dan bintang variabel Orion tipe FU dan bintang muda lainnya terus menjauh dari gugus bintang lainnya setidaknya sejauh lebih dari 1.000 tahun cahaya. Mengapa mereka meninggalkan posisi asal dimana mereka dilahirkan dan bergerak ke ruang yang kosong dan gersang? Jika mereka terbentuk dari posisi sekarang, misteri lain yang sulit dijelaskan adalah pada dimensi yang kekurangan substansi itu bagaimana bintang itu bisa terbentuk?

Pada 26 Juli lalu, laporan NASA menyebutkan, sistem galaksi dan gugus bintang di sekitarnya telah terbungkus di dalam sebuah gumpalan gas raksasa. Hasil observasi baru-baru ini menunjukkan, gumpalan gas ini (juga disebut lingkar gas Bimasakti) sedang berputar dengan kecepatan tinggi, kecepatannya hampir sama dengan kecepatan rotasi Bimasakti, dan berputar ke arah yang sama. Ilmuwan berpendapat, lingkar gas yang berotasi sendiri menjelaskan bahwa banyak substansi yang membentuk Bimasakti mungkin bersumber dari gumpalan gas yang panas ini.

Selama ini yang sangat membingungkan para ilmuwan adalah sejenis substansi gelap yang eksis pada hampir seluruh galaksi, dan di dalam galaksi sekitar 20% substansi biasa juga lenyap, kemudian di dalam gumpalan gas galaksi ditemukan kembali substansi biasa yang “menghilang” itu. Oleh karenanya para ilmuwan sangat berharap dapat secara mendalam memahami asal muasal terbentuknya Bimasakti ini.

Pada 12 Juli lalu, situs Gizmodo juga mengungkapkan bahwa pemikiran para ilmuwan telah salah kaprah terhadap galaksi UGC1382 yang ternyata pusatnya muda dan penampilannya tua, tidak seperti galaksi lain yang pusatnya tua tapi berpenampilan muda.

Surat kabar “Science Daily” edisi 29 Juni memberitakan, setelah para ilmuwan melakukan observasi selama 7 tahun menggunakan teleskop Herschel baru didapati bahwa hanya pada 1 milyar tahun cahaya lalu, lebih banyak debu kosmik telah berganti menjadi galaksi baru dengan cepat. Sejarah alam semesta 1 satu milyar tahun cahaya dibanding dengan 1,3 milyar tahun cahaya, pendeknya nyaris hanya ibarat baru kemarin saja. Dan hasil observasi menunjukkan, galaksi membentuk bintang jauh lebih cepat daripada sebelumnya, debu kosmik kian hari kian sedikit. Dengan kata lain, alam semesta makin lama makin terang.

Pergerakan aneh pada atmosfir, semakin terangnya galaksi setelah ledakan, munculnya bintang muda secara tiba-tiba, Bimasakti terbungkus oleh gumpalan gas raksasa, bintang yang pusatnya muda tapi permukaannya menua, debu kosmik yang semakin sedikit dan jagad yang semakin terang. Berbagai fenomena yang membingungkan para ilmuwan ini sedang memberitahu kita semua. Alam semesta kini sedang mengalami perubahan drastis, dan alam semesta sedang diperbaharui, dan di balik semua ini ada sebuah tangan yang tak terlihat yang melakukannya.

Lalu, apakah bumi yang terletak di dalam galaksi Bimasakti ini bisa mengabaikan perubahan alam semesta begitu saja tanpa mempedulikannya?

Jelas tidak bisa.

Di zaman dulu, ramalan bangsa Maya menyatakan “masa pembaharuan bumi” dimulai sejak 1992. Bagaimana “diperbaharui”?

Mari kita lihat bumi kita saat ini. Pencemaran lingkungan mengakibatkan krisis ekosistem serius. Merosotnya masyarakat dan perilaku umat manusia yang sembrono, perang yang terjadi silih berganti membuat banyak orang menjadi pengungsi. Ilmu pengetahuan yang berkembang tanpa batas membuat manusia berubah seperti iblis. Semua ini bersumber dari sifat egois dan tamaknya manusia, bersumber dari merosotnya moral manusia. Oleh karena itu, segala hal di atas bumi ini agar bisa diperbaharui, maka harus terlebih dahulu dimurnikan moralitas dan jiwa manusianya.

Pada 1992 suatu peristiwa besar yang memurnikan jiwa manusia muncul di Changchun, Tiongkok: suatu metode kultivasi (aliran spiritual) Falun Gong yang berprinsip “Sejati-Baik-Sabar” menyebar ke seantero Tiongkok bahkan ke seluruh dunia dengan cepat. Falun Gong mematut para praktisinya agar berasimilasi dengan karakteristik alam semesta yakni “Sejati-Baik-Sabar”, terus meningkatkan perbaikan moralitas, hingga mencapai tingkat tidak egois dan tidak ada ke-aku-an, mendahulukan orang lain daripada diri sendiri. Efek peningkatan moralitas pada praktisi begitu luar biasa, apakah ini hanya suatu kebetulan dengan ramalan bangsa Maya tentang “masa pemurnian bumi?”

Setelah ditindas dan dianiaya oleh Jiang Zemin (mantan ketua partai komunis dan kepala negara RRT) dan Partai Komunis Tiongkok/PKT sejak Juli 1999, praktisi Falun Gong yang tak bersenjatakan apa pun menghadapi rezim yang kejam itu, hanya mengandalkan keyakinan teguh, belasan tahun terpaan siksaan telah dilalui, mengalami berbagai macam tekanan dan penindasan. Fakta akan penindasan itu disebarkan ke seluruh dunia, dan ini tidak bisa dikatakan hal biasa. Apa yang ada di balik keajaiban ini?

Jika “pemurnian” yang disebut dalam ramalan bangsa Maya itu adalah penyebaran kepercayaan “Sejati-Baik-Sabar”, maka itu berarti sikap manusia terhadap “Sejati-Baik-Sabar” adalah kunci utama untuk dapat memasuki era baru umat manusia. Dengan kata lain, manusia harus mengikuti perubahan alam semesta, memurnikan dan memperbaharui diri, dengan demikian baru bisa melangkah menuju ke sebuah dunia yang baru. (Xu Ru/sud/whs/rmat)

Share

Video Popular