Menurut ilmuwan, bahwa jagat raya yang terlihat sekarang adalah suasana alam semesta di masa lalu, dan besar kemungkinan hanya ilusi bukan dunia yang sebenarnya. Mengapa jagat raya yang disaksikan para astronom sekarang adalah suasana di masa lalu?

“Mungkin kita dibatasi oleh kecepatan cahaya dan ruang,” jawab Jillian Scudder, astronom di University of Sussex, Inggris, seperti dilansir dari laman Forbes baru-baru ini.

Hanya bisa melihat masa lalu

Jagat raya yang bisa kita amati saat ini sebenarnya bukan dunia yang kita saksikan sekarang. Contoh misalnya Jupiter, suasana atau pemandangan di Jupiter yang kita saksikan sekarang dari Bumi itu adalah suasana atau kondisi 30 menit yang lalu, bukan suasana ketika sedang akan terjadi sesuatu di Jupiter, karena cahaya dari Jupiter ke Bumi itu sekitar 30 menit.

Sebagian besar planet yang kita saksikan sekarang sebenarnya adalah suasana atau pemandangan beberapa tahun, ratusan, ribuan atau bahkan ratusan juta tahun yang lalu, bukan suasana planet sebagaimana yang disaksikan saat ini.

Pemandangan galaksi spiral NGC6946 pada 10 juta tahun cahaya yang lalu. (Sumber: NASA)
Pemandangan galaksi spiral NGC6946 pada 10 juta tahun cahaya yang lalu. (Sumber: NASA)

Mungkin planet yang sekarang telah meledak dan tercerai berai, namun, untuk mengetahui suasana planet yang mengalami kehancuran saat ini harus menunggu ribuan tahun lagi, karena pencapaian cahaya ke bumi perlu waktu yang sangat panjang. Artinya, Jagat raya yang bisa kita saksikan tak lebih dari dunia di masa lalu. Atau secara spesifiknya, yang terlihat pada pengamatan planet yang berbeda itu adalah planet masa lalu pada waktu yang tidak sama, jadi yang terlihat itu hampir semuanya bukan merupakan suasana planet seperti yang terlihat sekarang.

Bisakah laju kecepatan perubahan ruang itu lebih cepat daripada kecepatan cahaya, agar kita bisa melihat suasana Jagat raya masa depan itu seperti apa?

“Ruang menggambarkan tentang keberadaan dan segalanya dari alam semesta. Mungkin, kita hanya bisa mendapatkan pengalaman dan pelajaran dari masa lalu, dengan begitu baru bisa menuju ke masa depan,” ujar Scudder menambahkan.

Jagat raya itu tidak nyata

Sejumlah ilmuwan menuturkan, bahwa dunia tempat hunian kita ini hanya ilusi, tidak nyata, sama seperti hidup di alam dunia simulasi komputer.

Filsuf Nick Bostrom dari universitas Oxford menjelaskan bahwa terkait konsep dunia yang semu, dapat dibayangkan sebagai perangkat lunak komputer canggih yang mensimulasikan manusia secara cermat yang diciptakan oleh peradaban tinggi yang sangat maju, dan konten dari ilusinya itu termasuk nenek moyang manusia.

“Hidup manusia sejatinya mirip film Matrix. Bedanya, manusia tidak butuh alat bantuan yang ditancapkan ke otak untuk bisa masuk dalam dunia ilusi ‘Matrix’, sebab seluruh tubuh manusia sejak awal sudah masuk dalam ilusi,” ujar Nick Bostrom.

Konsep dunia yang semu ibarat “hidup bagaikan mimpi”

David Brin, ilmuwan sekaligus penulis asal Amerika mengatakan karena indera penglihatan, pendengaran dan peraba kita dan sebagainya itu ada kekurangannya, tidak lengkap, seperti misalnya ketika seseorang duduk di atas kursi, ia tidak bisa merasakan keseluruhan dari kursi itu.

Namun, untuk memahami alam semesta dan pengetahuan ilmiah dengan konsep ini, kita tidak akan pernah tahu tentang segenap alam semesta, dan besar kemungkinan yang dipahami itu adalah sesuatu yang semu. Hal yang disebut dengan fakta-fakta ilmiah yang diperoleh itu tak lebih dari sensasi yang tidak lengkap.

“Terkait Jagat raya ilusi, atau sebagai konsep fiktif atau simulasi itu sangat mirip dengan konsep konvensional, seperti konsep dalam peribahasa Tiongkok bahwa hidup itu bagaikan mimpi,” ujar Brin. (Secretchina/Chen Gang/joni/rmat)

Share

Video Popular