Satelit Gaia milik European Space Agency-ESA telah memetakan posisi dan kecerahan lebih dari satu miliar bintang sekaligus merangkai peta 3D paling akurat yang pernah dibuat dari galaksi Bima Sakti. Hal ini agar ilmuwan lebih memahami evolusi dari galaksi.

Rabu (14/9/2016) lalu, European Space Agency-ESA seperti dilansir Reuters, mengatakan, pemetaan yang dirilis ini didasarkan pada data yang dikumpulkan selama 14 bulan pertama, yang meliputi jarak dan peredaran lebih daridua juta bintang yang melintang di langit.

Teleskop Gaia diluncurkan pada Desember 2013 lalu dan mengorbit  di sekitar titik L2-1,5 juta km dari bumi (930.000 mil) dengan misi yang berlangsung selama 5 tahun. Dan diperkirakan mampu memetakan posisi, warna dan kecerahan sekitar satu miliar bintang di langit.

Rabu, 14 September lalu, Badan Antariksa Eropa-ESA, mengatakan bahwa satelit Gaia telah menerbitkan katalog bintang pertama yang terdiri lebih dari 1,14 miliar bintang, dan merangkai peta 3D paling akurat yang pernah dibuat dari galaksi Bima Sakti. (STR/AFP)
Rabu, 14 September lalu, Badan Antariksa Eropa-ESA, mengatakan bahwa satelit Gaia telah menerbitkan katalog bintang pertama yang terdiri lebih dari 1,14 miliar bintang, dan merangkai peta 3D paling akurat yang pernah dibuat dari galaksi Bima Sakti. (STR/AFP)

Satelit Gaia dilengkapi dengan dua teleskop yang terdiri dari berbagai ukuran lensa dan beragam bentuk, kemampuan pengamatan Gaia yang berbobot total 2 ton ini 100 kali jauh lebih baik dari satelit Hipparcos generasi pertama. Sementara pengukuran posisi dan peredaran bintang bahkan 200 kali jauh lebih akurat.

“Satelit Gaia berada di barisan depan dalam studi astrometri, mampu memetakan langit secara presisi yang belum pernah dicapai satelit buatan sebelumnya,” kata Alvaro Gimenez, direktur ESA of Science.

Para ilmuwan berharap penelitian ini dapat membantu mereka menelusuri masa lalu alam semesta, dan menjelajahi awal pembentukan dari segenap bintang di langit malam.

Selain itu, para astronom juga berharap Gaia dapat menemukan planet baru dan asteroid, serta supernova yang jauh dan quasar/planet mirip bumi, menemukan titik inti yang panas dan kecerahan dari semua galaksi.

National Aeronautics and Space Administration (NASA) juga terus melakukan program penelitian sejenis yang disebut “TESS” – Transiting Exoplanet Survey Satellite, dengan misi survei selama dua tahun, menggunakan sisi lebar kamera untuk memindai bintang paling terang dan terdekat jaraknya dari lingkungan bumi.

TESS diambil dari judul buku novel Tess of the d\’Urbervilles dari novelis terkenal asal Inggris Thomas Hardy. (Epochtimes/Ye Zi Wei/joni/rmat)

Share

Video Popular