Erabaru.net. Talas adalah makanan yang digemari masyarakat, sehingga tidak heran kalau cukup banyak ditemui produk makanan dari olahan talas. Selain bisa dinikmati sebagai makanan sehari-hari, juga memiliki khasiat obat.

Berikut mari kita pahami sejenak beragam manfaatnya !

Talas atau araceae adalah keluarga dari tanaman berbunga monokotil atau dikenal sebagai keluarga talas-talasan. Rhizoma atau batangnya yang menjalar di bawah tanah (umbi) dapat dimakan sekaligus berkhasiat sebagai obat, adalah makanan pokok tradisional suku bangsa di Kepulauan Polinesia, Oceania.

Tanaman ini menyukai tanah yang gembur, yang kaya akan bahan organik atau humus dan lembab. Tanaman ini juga mempunyai keterkaitan dengan pemanfaatan lingkungan dan penghijauan karena mampu tumbuh di lahan yang agak berair sampai lahan kering. Tanaman ini mulai bertunas pada suhu 13 ~ 15 ℃, selama pertumbuhan tanaman talas menyukai tempat terbuka dengan penyinaran penuh serta tanaman ini mudah tumbuh pada lingkungan dengan suhu 27~30℃.

Jenis 

Pandan. Baunya ibarat pandan wangi kalau sudah direbus. Ciri-cirinya, sedikit ungu, dan pangkal pelepahnya agak merah.

Sutera. Mempunyai ciri daun berwarna hijau muda dan miliki bulu halus yang apabila disentuh miliki kesamaan dengan tekstur kain sutera. Umbi yang dihasilkan berwarna kecoklatan dengan ukuran sedang atau tidak terlalu besar.

Bentul. Mempunyai ciri batang berwarna keunguan dibandingkan dengan jenis lainnya. Umbi yang dihasilkan berwarna muda kekuningan dengan ukuran yang lebih besar.

Ketan. Mempunyai ciri daun berwarna hijau tua sedikit keungguan dan jenis ini akan lengket apabila selesai direbus, memiliki ukuran sedang atau tidak terlalu besar.

Khasiat dan gizi

Menurut kedokteran Tiongkok, talas memiliki khasiat merangsang nafsu makan, meredakan sakit, menguatkan energi dan ginjal, selain itu juga dapat mengobati diare, disentri, radang ginjal, nyeri sendi dan otot.

Menurut analisis gizi, talas mengandung banyak karbohidrat, serat makanan, vitamin C, vitamin B kompleks, potasium, kalsium, zinc dan sebagainya. Selalu mengonsumsi talas dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, bahkan dapat mencegah sekaligus mengobati kanker apabila selalu mengonsumsinya sebagai terapi makanan kesehatan, selain itu juga dapat menawar racun, sedangkan daunnya dipergunakan sebagai sumber nabati. Selain itu talas mengandung beberapa unsur mineral dan vitamin serta sangat mudah dicerna. Karena granula pati talas kecil, hanya sepersepuluh dari tepung kentang, mudah dicerna dan diserap, dapat diolah menjadi tepung talas.

Selain itu, daun dan tangkai talas juga memiliki khasiat khusus ; daun talas dapat menghentikan diare, dan berkhasiat menghilangkan pembengkakan. Tangkai pada dun talas mengandung zat yaitu saponin. Senyawa ini berfungsi menyingkirkan kolesterol dan antiseptik. Untuk itu seringkali orang menggunakan kulit dari bagian tangkai talas untuk membungkus luka. Sedangkan pada bagian pelepah juga dapat difungsikan sebagai obat gatal. Sementara umbinya dapat digunakan untuk mengatasi radang kelenjar ringan. Talas digunakan untuk obat pencernaan seperti tukak pada lambung, penyakit asma, dan gangguan bronchial.

Orang-orang yang memiliki gejala seperti berikut ini dihimbau sebaiknya tidak mengonsumsi talas.

Bagi mereka yang memiliki gangguan gejala alergi fisik (gatal-gatal, eksim, asma, alergi rhinitis), berdahak, gangguan nafsu makan, dan penderita diabetes sebaiknya jangan terlalu sering makan talas atau kalau bisa hindari, demikian juga dengan penderita nyeri lambung, pantang konsumsi talas.

Saat mengolah, baik dimasak atau dikukus, pastikan harus benar-benar matang, jika tidak getahnya dapat mengiritasi tenggorokan. Selain itu juga pantang dimakan bersamaan dengan pisang, karena dapat menyebabkan perut kembung.

Getah jangan dicuci

Getah yang khas dari talas bisa menimbulkan gejala pembengkakan dan rasa gatal, namun, khasiatnya justru terletak pada getahnya ini, jadi, saat akan mengolahnya (masak, kukus, bakar) getahnya jangan dicuci. Untuk menghindari tangan mati rasa karena getahnya, sebaiknya tangan Anda dan talasnya direndam dulu dengan air garam.

Cara membedakan keladi besar (alocasia macrorrhiza) dan talas untuk mencegah keracunan.

Alocasia macrorrhiza-keladi besar termasuk dalam keluarga araceae, secara fisik tampak mirip dengan talas, sehingga kerap disalahtafsirkan sebagai talas, asal tahu saja, batang di bawah tanah atau umbi, susunan bunga ditangkai dan getah pada tanaman alocasia macrorrhiza-keladi besar ini mengandung racun, yang bila termakan mentah atau kurang terolah dengan sempurna menyebabkan mulut kebas, nyeri tenggorokan dan perut serasa terbakar. Getahnya juga dapat menyebabkan rasa sakit yang tak tertahanka bila mengenai mata.

Untuk membedakan alocasia macrorrhiza-keladi besar dengan talas pada umumnya, Anda bisa percikkan air pada daunnya, apabila airnya terpecah dan menyatu, berarti itu adalah alocasia macrorrhiza-keladi besar. Sementara jika airnya berupa butiran begitu dipercikkan pada daun, bisa dipastikan itu adalah talas.

Selain itu, Anda juga bisa melihat warna daunnya, alocasia macrorrhiza-keladi besar umumnya berwarna hijau gelap dan mengkilap ; sedangkan daun talas pada umumnya berwarna hijau muda.

Jika tanpa sengaja termakan, atasi dengan minum air es, dan obati di rumah sakit. Apabila tersengat oleh sesuatu saat beraktivitas di kebun, Anda bisa mengatasinya dengan cara menghaluskan akar keladi besar, lalu oleskan pada bagian yang tersengat, hal ini untuk menawar racun dan menghilangkan pembengkakan, demikian juga bila tersengat oleh serangga atau lebah. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular