JAKARTA – Pilkada DKI Jakarta 2017 yang akan dilaksanakan sekitar 5 bulan mendatang, kini mulai memasuki tahapan pendaftaran yang akan dilanjutkan dengan pengumuman bakal calon pasangan yang akan bertarung. Meski demikian Pilkada DKI Jakarta akan tetap kompetitif  dengan kemungkinan dua putaran dan istilah calon petahana tak bisa dikalahkan akan semakin kecil.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda memprediksi bahwa hanya ada dua dan tiga poros yang akan muncul pada Pilkada kali ini. Poros pertama adalah PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Hanura, dan Partai Nasdem dengan kandidat Basuki Tjahja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat.

Poros kedua adalah Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan, yang diprediksi akan mengusung Yusril Ihza Mahendra sebagai calon gubernur. Sedangkan Poros ketiga adalah Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera, yang diprediksi mengusung pasangan Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera.

Menurut Hanta, kemungkinan bakal calon pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur yang akan maju jika kemudian tiga poros maka pilkada DKI Jakarta akan berlangsung dengan dua putaran. Jika kemudian hanya berjumlah dua poros dengan hanya memunculkan dua bakal calon maka pilkada akan berlangsung satu putaran.

“Kalau Tiga, empat pasangan berarti berpotensi dua putaran, karena ada persyaratan 50 persen karena sulit mendapatkan 50 persen untuk konteks DKI,” kata Hanta dalam talkshow di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (17/9/2016).

Pilkada DKI Jakarta, lanjut Hanta, akan berlangsung lebih menarik dan kompetitif jika kemudian Tri Rismaharini ternyata ikut bertarung pada Pilkada DKI Jakarta. Risma justru adalah lawan berat dari Ahok sebagai kandidat petahana.

Temuan Poltracking berdasarkan data survei terakhir bahwa bagi petahana sebagaimana dikultuskan sulit dikalahkan,  berpotensi mendapatkan perlawan dalam perolehan suara. Survei ini menunjukkan bahwa  kultus petahana tak bisa dikalahkan semakin memiliki peluang kecil. Oleh karena itu, bagi Ahok dan timnya berada pada posisi semakin rentan hingga disarankan menyiapkan langkah-langkah politik dengan berbagai macam opsi untuk memenangkan Pilkada.

Namun demikian dengan muncul fenomena asal bukan Ahok, tak berarti bahwa kandidat selain Ahok akan dipilih oleh masyarakat Jakarta. Hal ini dikarenakan masyarakat Jakarta sudah memiliki pilihannya masing-masing. Seperti misalnya, warga Jakarta yang disebut-sebut tak menyukai Ahok bukan berarti akan memilih seperti Sandiago Uno-Mardani Ali Sera.

“Data-data ini seperti laboratorium, trennya seperti apa hanya membaca tren hari ini, padahal pilkada masih lima bulan, semuanya bisa berubah dalam konteks Jakarta, menurut saya harus diperhatikan semua kandidat,” pungkas Hanta. (asr)

Share

Video Popular