Erabaru.net. Sebuah studi menyebutkan, bahwa secara relatif bagi orang dewasa, anak-anak dan orang tua terkadang jauh lebih rentan dipengaruhi stres. Karena itu, jangan abaikan masalah stres anak-anak semasa kembali di bangku sekolah.

Sehubungan dengan ini, reporter Epoch Times telah mewawancarai Sonia Lupien, seorang peneliti dari Universitas Montreal dan pakar masalah stres di Centre d’études sur le stress humain-CESH, Montreal, Kanada. Hal ini dimaksudkan agar orang tua bisa lebih memahami bagaimana membantu anak-anak mengatasi stres dengan benar. Memang tak terelakkan dalam kehidupan sehari-hari itu akan mengalami stres atau tekanan, namun, hal ini akan sangat bermanfaat sepanjang hayat apabila belajar bisa mengatasi tekanan.

Obat ampuh mengatasi stres : Teori CINE (Contrôle faible, Imprévisibilité, Nouveauté, Égo menace) (Bahasa Perancis)

Untuk mengatasi stres, pertama-tama kita harus memahami dulu stres itu. Kalau begitu, adakah obat mujarab untuk meredakan stres ? Sebetulnya, situasi yang bisa menimbulkan stres itu perlu salah satu atau beberapa dari empat unsur berikut ini, dan untuk selanjutnya kita singkat saja menjadi “CINE.”

1.  Contrôle faible-Kontrol terhadap diri sendiri:

Merasa sulit atau tidak sanggup mengendalikan situasi, misalnya banyaknya pekerjaan rumah.

2.Imprévisibilité atau Ketidakpastian :

Sejumlah faktor yang tak bisa diduga, misalnya bagaimana agar bisa masuk atau diterima sekolah ini.

3. Nouveauté – Hal-hal baru :

Hal-hal baru yang asing, misalnya lingkungan yang benar-benar asing atau tak dikenal.

4. Ego Menace-Rasa ego:

Ini adalah kondisi saat kompetensi kita diuji dan dipertanyakan. Misalnya, ketika akan berbicara di hadapan orang banyak.

Ketika seseorang dalam situasi yang disertai dengan salah satu atau beberapa faktor seperti tersebut di atas (makin banyak faktornya, tekanan-stres semakin besar), tubuh akan mengeluarkan hormon stres, seperti misalnya kortisol, hormon anti-inflamasi alami dan adrenalin, zat-zat ini dapat membantu tubuh kita bereaksi saat stres.

Menjelang tahun 2010, peneliti selalu menganggap bahwa timbulnya hormon stres merupakan suatu reaksi negatif. “Kami sekarang menyadari kurangnya hormon stres belum tentu hal yang baik, demikian juga sebaliknya tidak baik juga apabila berlebihan.” Dan ini tidak selalu berupa fenomena patologis, bisa jadi merupakan sinyal penyesuaian.” Pungkas Dr. Lupien menekankan.

Hormon stres juga merupakan faktor penting untuk memastikan kenormalan sistem memori : Kekurangan maupun kelebihan hormon dapat memengaruhi memori. Tapi jangan terlalu ekstrim terhadap reaksi stres, terlalu lama atau berulang. Adalah hal yang sangat penting tentang bagaimana secara tepat mengatasi tekanan dalam proses anak-anak menerima pendidikan hingga dewasa.

Baru-baru ini, direktur di lembaga pendidikan psikologi Universitas Montreal, Dr. Sophie Parent menemukan, bahwa anak-anak dari TK – SD juga akan mengalami tekanan semasa transisi.

Komunikasi sangat penting

Sebelum kembali ke sekolah, Anda sebagai orangtua bisa berbicara dulu dengan anak-anak, pahami sejenak kecemasannya, kemudian gambarkan tentang keseharian di sekolah, jelaskan apa saja yang bisa dipetik saat sekolah. Anda juga bisa menceritakan kepadanya tentang suasana di hari pertama sekolah Anda dulu, untuk membantu anak-anak membangun keberaniannya. Jangan memberikan beban berupa mata pelajaran pada anak-anak, biarkan dia menilai sekolah itu sebagai sumber sukacita dan pertumbuhan.

Sepanjang semester, Anda harus menjaga komunikasi yang baik dengannya, menyemangati mereka menghadapi situasi yang berbeda, dan mengatasi masalah yang tidak sama. Anda bisa membahas tentang faktor CINE dengannya, apabila stres anak bersumber dari ketidakharmonisan pergaulannya dengan anak lain, Anda harus menjelaskan kepadanya dan menghiburnya.

Selain itu juga harap diperhatikan, stresnya orang tua juga dapat mempengaruhi anak-anak. Jadi Anda harus menyadarinya dan mengatasi stres Anda. Dalam hal ini, Dr. Lupien telah memetik hasilnya dalam membantu anak-anaknya. Anak-anaknya tidak hanya telah belajar bisa mengatasi tekanan masing-masing, tetapi juga dapat mengamati dan menyarankan ibunya mengurangi stres : “Bu, engkau seharusnya pergi jalan-jalan sejenak!”

“Saya sering bergumam, ketika anak saya sudah menginjak usia 12 tahun, maka tugas saya adalah memastikan mereka mendapatkan teman yang baik, karena yang membimbingnya pada saat itu adalah teman-teman mereka, bukan saya lagi.” Kata Lupien. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular