2 Mei 2016 malam hari, pagelaran “lagu Merah (ekstrem kiri)” di Balai Kota Beijing dipandang sebagai pemulihan kembali “angin revolusi”. Ada informasi menyebutkan, “konser lagu Merah” di balai kota itu membuat Xi Jinping berang, dan menginstruksikan Kantor Administratif Pusat agar menyelidiki hal itu.

Majalah Hongkong “Contention (Zheng Ming)” edisi Agustus 2016 mengungkap informasi, pada akhir Juni 2016 lalu, mayoritas Dewan Politbiro Pusat PKT meloloskan resolusi yang diajukan oleh Wang Qishan, yang isinya meminta agar Mao Zedong Memorial Hall (yang didalamnya terdapat jenazah Mao yang dimumifikasi) yang terletak di Lapangan Tiananmen Beijing dipindahkan ke Gunung Shaoshan, provinsi Hunan (kampung halaman Mao). Xi Jinping menyatakan, masalah Mao Zedong Memorial Hall cepat atau lambat harus diselesaikan, tidak boleh dipertahankan dengan alasan apa pun.

Kepala Biro Riset Pembangunan Partai pada Akademi Partai Pusat PKT bernama Wang Changjiang dalam pelatihan bersama lebih dari 500 orang kader partai dari berbagai daerah, dalam pidatonya yang berdurasi 3 jam secara terbuka mengkritik Mao Zedong dan paham Marxisme.

Disebutkan paham Marxisme “bagus dilihat tidak layak dipakai”. Mao Zedong dikritik “tidak percaya diri” di akhir periode “Revolusi Kebudayaan”, karena masalah sandang dan pangan rakyat dibawah rezim Mao tidak terselesaikan dan lain-lain.

Wang juga terang-terangan mengatakan awalnya pendirian partai komunis bukan bertujuan membantu rakyat untuk memerintah. Menurutnya apa yang dilakukan adalah merusak dan mengacau. Dan yang melakukan hal itu bisa dipastikan bukan partai berkuasa (Kuomintang/partai nasionalis), jadi pasti partai yang melakukan revolusi (PKT).

Sebagai dosen pengajar sekaligus kepala Biro Riset Pembangunan Partai, isi pidatonya menyangkal Marxisme dan menyangkal ajaran Mao Zedong, serta menyangkal partai PKT. Hal ini berarti teori Marxisme dan pemikiran Mao Zedong yang sejalan dengan PKT telah ditinggalkan oleh para akademisi partai dan dosen pengajar, ideologi komunis pun telah runtuh.

Faktanya, pemerintahan Xi Jinping menerapkan penghapusan pengaruh Mao tidak hanya karena kebutuhan pemberantasan korupsi “memukul harimau” saja, juga merefleksikan sekelompok orang di dalam tubuh PKT berharap mengembalikan sejarah yang benar, mengembalikan wajah asli Mao Zedong, menyeret Mao Zedong turun dari altar dewa yang dipuja selama ini dan mendorong terbentuknya demokrasi di Tiongkok, serta harapan untuk menerapkan reformasi konstitusi.

Pada masa berkuasa Mao Zedong membuat jutaan jiwa rakyat Tiongkok mati penasaran, sebagian sesepuh PKT yang berseberangan dengan Mao juga ikut jadi korban. Oleh karena itu, Xi Jinping sebagai putra salah seorang sesepuh PKT yakni Xi Zhongxun yang juga dianiaya dan dijebloskan ke penjara oleh Mao Zedong selama 16 tahun, kebijakan demaoisasi bukan sekedar tekad Xi, melainkan juga mewakili niat dari cukup banyak sesepuh PKT dan juga generasi kedua mereka.

Berita menyebutkan, Xi Jinping akan segera menghapus sistem kepemimpinan tertinggi yakni: sistem Dewan Komisi Tetap Pusat dan diubah menerapkan sistem presidensial. Sebelumnya media Hongkong juga memberitakan, selama Dua Rapat Pleno PKT, anggota Komisi Politbiro Wang Huning memanggil tim pemikir senior sebanyak lebih dari 40 orang, untuk menghadiri seminar rahasia di Balai Riset Strategi Xishan, Beijing, guna membahas sistem demokrasi dan reformasi mekanisme. Topik seminar tersebut adalah “Seminar Sistem Demokrasi Masyarakat Paham Sosialis serta Reformasi Mekanisme dan Pengembangannya”.

Selama seminar, Xi Jinping tiga kali hadir dan berpidato, dan menyatakan “atas dasar tanggung jawab terhadap sejarah, terhadap kesetiaan jabatan, terhadap penghormatan pada ilmu pengetahuan yang mencari kebenaran dalam fakta, pikiran kita harus terbuka, singkirkan belenggu ideologi lama, kemukakanlah pandangan dan pendapat yang sesuai dengan kondisi negara, sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan”.

Kalangan luar menganalisa, tujuan dari rapat ini kemungkinan adalah membuka jalan bagi reformasi besar-besaran yang akan dilakukan oleh Xi Jinping. Berdasarkan berita ini, disimpulkan bahwa pemberantasan korupsi “memukul harimau” untuk menggulingkan Jiang dan melenyapkan pengaruh Mao ini, harus menempuh jalan dua arah, semua harus digasak bareng, tidak bisa menyisakan satu pun. (Ran Shazhou/sud/whs)

TAMAT

Share

Video Popular