Perusahaan survey dan riset terkemuka dunia Nielsen dan majalah Campaign Asia-Pacific belum lama merilis laporan riset bersama yakni “Asia’s Top 1000 Brands 2016”. Samsung Electronics menduduki peringkat pertama, Apple dan Sony masing-masing di posisi kedua dan ketiga, akan tetapi tidak ada satu pun perusahaan RRT yang merknya masuk dalam urutan 100 besar.

Daftar peringkat “Asia’s Top 1000 Brands 2016” dihasilkan dari riset pasar yang diselenggarakan bersama oleh majalah Campaign Asia-Pacific bersama dengan Nielsen, berdasarkan hasil voting tingkat kepercayaan para konsumen terhadap merek terbaik.

Menurut informasi, survey ini dimulai sejak 2004 secara online melalui internet, meliputi konsumen dari 13 negara dan wilayah Asia Pasifik, dan mencakup 14 jenis produk dan layanan, serta 73 sub-jenis.

Negara yang disurvey adalah RRT, Australia, Hongkong, India, Indonesia, Malaysia dan lain-lain. 14 jenis produk meliputi elektronik, otomotif, finansial, retail, media massa dan telekomunikasi, pariwisata, gaya hidup, peralatan rumah tangga, perawatan diri, dan lain-lain.

Akan tetapi, RRT yang digadang-gadang sebagai negara produsen dan pengekspor terbesar dunia, hanya bisa menempati posisi di atas seratus, tidak ada satu pun perusahaan RRT yang masuk dalam peringkat 100 merk besar di Asia.

“Karena sebagai negara pengekspor terbesar bukan berarti memiliki merek kuat yang dikenal secara internasional. Selama dua hingga tiga dekade terakhir RRT hanya mengekspor produk merek internasional yang diproduksi di RRT. Perusahaan RRT tidak pernah benar-benar antusias dalam mengembangkan nilai dan reputasi mereknya sendiri,” kata Frank Tian Xie, professor Fakultas Ekonomi dari South Carolina University Aiken.

Sementara itu menurut pakar pemasaran, Lu Yu, perlindungan RRT terhadap hak kekayaan intelektual sangat lemah, menyebabkan penciptaan merek, riset, penciptaan produk baru, rancangan baru, serta kemasan baru menjadi sangat rentan untuk dijiplak. Hal ini menyebabkan pemegang merek sendiri tidak bisa mendapatkan royalty atas merek yang dimilikinya.

Angela Berndt dari perusahaan konsultan Kanada yakni Web-Presence-In-China mengatakan pada media, kurangnya kepercayaan konsumen tidak lain adalah karena terhambatnya pengembangan merek konsumtif dan retail RRT.

“Mengapa kepercayaan konsumen sangat kurang? Sebenarnya karena kurangnya kejujuran pabrik produsen dan pengusaha serta kurangnya upaya untuk membangun merek, kurangnya moralitas bisnis, yang menyebabkan merek sendiri dihancurkan sendiri,” kata Frank Tian Xie.

Selain kualitas produk yang tidak memenuhi syarat, produk palsu buatan RRT juga sangat merajalela. Obat-obatan palsu, kosmetik palsu, shampoo palsu, produk elektronik tiruan dan lain-lain, semuanya ada. Bahkan banyak situs belanja online ternama di RRT, juga ikut menjual komputer dan telepon genggam bekas yang direpro ulang.

“Sebenarnya ini terkait dengan kualitas moral seluruh bangsa yang telah merosot ini, semua orang tidak merasa malu bahkan merasa bangga karenanya, memanfaatkan kesempatan, menghalalkan segala cara untuk mendapat keuntungan. Produk bajakan masih dianggap beradab, karena produk beracun pun begitu banyak beredar,” kata Lu Yu.

Beberapa tahun terakhir, konsumen RRT sendiri pun lebih memilih produk-produk buatan Jepang, Korea Selatan, dan Amerika. Menurut informasi, bahkan penutup kloset buatan Jepang pun menjadi hadiah parsel di kalangan pejabat PKT.

Mengapa Jepang dan Korea Selatan yang juga negara Asia mampu menciptakan merek bertaraf internasional?

Menurut Lu Yu, merek hanya bisa diciptakan jika memiliki semangat yang besar. Baik kualitas produk, ataupun prinsip dan keteguhan untuk mempertahankan kesempurnaan ciptaan, harus mengatasi hal-hal seperti materi, laba, dan lain-lain, baru bisa mempertahankan prinsip ini. Di Kyoto, Jepang, terdapat banyak sekali merek yang telah bertahan ratusan bahkan ribuan tahun, itu adalah keteguhan prinsip yang sangat mulia.

Sebenarnya, produk unggulan Tiongkok pernah mendunia dalam sejarah. Sejak abad ke-1 SM, sutra Tiongkok dijual sampai ke Eropa melalui “Jalan Sutra”, juga porselen dan lain-lain begitu mempesona masyarakat Barat. Mengkoleksi porselen Tiongkok, mengenakan jubah yang dibuat dari sutra Tiongkok, menjadi tren bagi kaum bangsawan dan keluarga kerajaan di Eropa kala itu.

Lu Yu menjelaskan, kondisi RRT saat ini mulai dari pemerintah sampai masyarakat telah kehilangan kejujuran, meskipun ada perusahaan yang masih bermoral ingin berkiprah dalam hal ini, namun di RRT sangat minim akan lahan untuk mengembangkan produk yang bermerek ternama.

“Paham atheis PKT telah menyebabkan hilangnya kepercayaan, sehingga hal-hal yang bersifat spiritual dan mentalitas sudah tidak ada, semua orang hanya melihat uang, mengejek si miskin memuji pelacur, moral dan spiritual sudah tidak berharga, merosotnya moral juga tidak akan bisa menghasilkan merek yang hebat, lahan seperti ini sangat minim,” tutur Lu Yu.

Menurut informasi, laporan riset dan survey merek konsumen oleh Nielsen dan majalah Campaign Asia-Pacific ini adalah yang terbesar dan paling berpengaruh di wilayah Asia Pasifik. (ntdtv/wid/rmat)

Share

Video Popular