Oleh Tara MacIsaac – Epoch Times

Bank di Indonesia dan Malaysia mendapat nilai yang terburuk berdasarkan sebuah platform online yang menelusuri dana dari perusahaan yang merusak hutan hujan di Asia Tenggara hingga ke bank-bank yang membiayai mereka. Tom Picken, direktur keuangan dan kampanye hutan RAN, mengatakan dalam siaran pers: “Hanya dengan memperketat regulasi sektor keuangan baru mampu menetapkan jenis standar mengikat yang diperlukan untuk menghentikan bank-bank memicu kejahatan hutan.

Kebutuhan bagi bank untuk mengadopsi kebijakan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan adalah topik meningkatnya minat di sektor keuangan. Platform ini dirilis pada 6 September 2016 lalu, yang bertepatan waktu dengan konferensi PBB tentang Prinsip untuk Investasi yang Bertanggung Jawab (Principles for Responsible Investment – PRI) di Singapura, yang berlangsung pada 6-8 September 2016.

Meningkatnya minat   investasi yang bertanggung jawab dibuktikan dalam peningkatan penandatangan PRI dari 100 (mewakili $ 6,5 triliun) pada 2006 hingga menjadi 1.380 (mewakili $ 59 triliun) pada 2015. Sebagian besar dari penandatangan ini dilakukan di Amerika Serikat (256) dan Eropa (696), namun ada juga yang ditemukan di pasar negara berkembang, seperti Brasil (57) dan Afrika Selatan (52).

Bank-bank di Malaysia dan Indonesia menjadi yang turut mendanai perusahaan disebut terlibat kebakaran hutan (Rainforest Action Network)
Bank-bank di Malaysia dan Indonesia menjadi yang turut mendanai perusahaan disebut terlibat kebakaran hutan (Rainforest Action Network)

Bank-bank di Asia adalah pelanggar terburuk untuk pembiayaan deforestasi, akan tetapi bank AS dan Eropa juga memberikan kontribusi untuk masalah ini, menurut penelitian yang menginformasikan tentang perangkat online baru tersebut.

Alat ini dikembangkan oleh Rainforest Action Network (RAN), bekerja sama dengan organisasi non pemerintah TuK dari Indonesia dan perusahaan konsultan Profundo. Ini terlihat pada investasi di sektor kelapa sawit, pulp dan kertas, karet, serta perusahaan kayu yang sudah lama dikenal karena kerap melakukan pengrusakan lingkungan dan pelanggaran HAM di Asia Tenggara.

Para peneliti di University of Maryland, AS, mengklaim pada 2014 bahwa tingkat deforestasi di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia karena sektor-sektor industri tersebut. Penelitian ini diterbitkan pada Agustus 2016 oleh para peneliti di Duke University, AS, yang baru mengidentifikasi lebih dari 200 spesies dengan risiko tinggi kepunahan akibat deforestasi di Indonesia.

Perangkat ini membuat peringkat bank pada skala nol sampai 30, dengan 30 menjadi yang terbaik dalam hal tanggung jawab sosial dan lingkungan yang terkait dengan investasi hutan industri.

Hutan yang terbakar untuk sawit di Kalimantan Tengah 1 November 2015 (Ulet Ifansasti/Getty Images)
Hutan yang terbakar untuk sawit di Kalimantan Tengah 1 November 2015 (Ulet Ifansasti/Getty Images)
Truk mengangkut kayu di Pelalawan, Riau 16 September 2015 (Adek Berry/AFP/Getty Images
Truk mengangkut kayu di Pelalawan, Riau 16 September 2015 (Adek Berry/AFP/Getty Images)

Bank-bank di Malaysia dan Indonesia, di mana praktik deforestasi sebagian besar berlangsung di sana, semuanya dinilai dengan rata-rata 0 atau 1 dari skala 30. China Bank juga mendapat nilai yang sama. Sementara ketiga bank dari Jepang mendapat nilai 10/30.

Skor terbaik diterima oleh bank-bank Belanda: ABN Amro (24/30) dan Rabobank (23/30). Untuk memberikan gambaran tentang kriteria penilaian RAN, ABN Amro mendapatkan skor tinggi dengan didukung oleh penilaian independen dari klien dalam kaitannya dengan legalitas, sosial, dan isu-isu lingkungan; untuk memiliki kebijakan secara khusus dalam melindungi hutan; memeriksa legalitas kepemilikan lahan; dan menjadi penandatangan perjanjian internasional utama yang terkait dengan kehutanan dan lahan bermasalah.

Citigroup adalah Bank Amerika yang mencetak skor terbaik, yakni 18/30. Ringkasan penjelasan perangkat RAN untuk Citigroup berbunyi: “(Citigroup adalah) penandatangan perjanjian keberlanjutan internasional utama dan memiliki kebijakan lingkungan dan sosial, tetapi akan membiayai operasi di hutan sensitif dan kawasan lindung.” Citigroup menginvestasikan sekitar $ 540 juta perusahaan yang berisiko merusak hutan dari 2010-2015.

Alat ini mendaftar semua kriteria penilaian yang didasarkan untuk masing-masing bank; namun hanya ringkasan singkat saja yang diberikan di sini. Morgan Stanley, yang menginvestasikan hampir satu miliar dollar AS pada 2010-2015, adalah Bank Amerika yang mencetak skor terburuk, 7/30. Penjelasan dari perangkat RAN untuk Morgan Stanely berbunyi: “(Morgan Stanley adalah) penandatangan PRI PBB dan memiliki kebijakan atas dasar lingkungan dan sosial, tetapi akan membiayai operasi di hutan yang sensitif dan kawasan lindung.”

Meskipun jumlah penandatangan PRI PBB telah meningkat tajam selama dekade terakhir, jelas kelompok-kelompok seperti RAN menganggap hal ini masih tidak memadai untuk memastikan investasi yang bertanggung jawab.

Bank hanyalah salah satu industri besar penyebab deforestasi hutan dan pelanggaran HAM di masyarakat hutan hujan, tetapi mereka juga memiliki kekuasaan yang cukup besar untuk melakukan perubahan. Investasi yang diperiksa oleh RAN berjumlah $ 38 miliar.

Sebuah laporan Program Lingkungan PBB berjudul “Greening Kelembagaan Institutional Investment” menyoroti daya untuk investor perubahan: “Investor merangsang tindakan pasar dan pengungkapan, dengan 100 investor yang mewakili $ 10 triliun menyerukan 77 bursa saham untuk memberikan pedoman ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola) bagi emiten pada akhir 2016. Investor juga mendorong lembaga pemeringkat kredit untuk mengintegrasikan faktor ESG ke peringkat kredit secara resmi.” (oscar/asari)

Share

Video Popular