Oleh: Li Wei-dong

Begitu banyak misteri bulan yang masih membingungkan ilmuwan hingga kini. Mengapa struktur di balik belakang bulan itu begitu padat dan berlapis-lapis, sementara bagian depan begitu datar bak cermin? Mengapa lingkarannya, baik dari sisi ukuran dan kedalamannya sama? Mengapa bulan dikatakan sebagai objek berongga?

Asal mula terbentuknya Bulan

Sebelumnya telah berulang kali kita membicarakan tentang asal mula bulan, yaitu asal mula terbentuknya bulan di mata para ilmuwan, tapi itu bukan kesimpulan akhir, melainkan hanya sebuah hipotesis ilmiah saja, tidak lebih.

Hingga kini, asal mula terkait terbentuknya bulan, masih menjadi perdebatan sengit para ilmuwan. Namun, setelah lebih dari satu abad, perdebatan ilmuwan bukan hanya tidak mencapai pengertian bersama, justru perbedaannya semakin bertambah lebar.

Pada 1969 lalu, ketika Amerika menjalankan program pendaratan Apollo di bulan, banyak ilmuwan bisa bernafas lega sejenak, karena program pendaratan manusia di bulan ini bisa menjadi akhir perdebatan tentang asal mula terbentuknya bulan. Namun, tak disangka, program pendaratan Apollo di bulan itu bukan hanya tidak membawa serta jawaban yang dinanti-nantikan ilmuwan, justru membawa sejumlah besar tanda tanya baru dari pendaratan di bulan sebelumnya. Sehingga, perihal tentang asal mula pembentukan bulan pun sekali lagi menjadi fokus perdebatan yang menjadi pusat perhatian dunia.

Sejauh ini, telah dikemukakan 3 hipotesis terkait asal mula pembentukan bulan. Pertama: Teori Penangkapan Bulan (Moon Capture Theory), Teori Kondensasi Bulan (Moon Condensation Theory), Teori Fisi Bulan (Moon Fission Theory).  Namun, hingga sekarang, ketiga hipotesis ini belum mendapatkan bukti yang kuat.

Teori Penangkapan Bulan (Moon Capture Theory)

Adapun yang dimaksud dengan Teori Penangkapan Bulan (Moon Capture Theory) ini, mengacu pada gravitasi Bumi menarik Bulan yang terbentuk di tempat berbeda dalam tata surya, sehingga bulan pun yang tadinya merupakan planet menjadi satelitnya bumi. Secara garis besarnya, prosesnya kira-kira seperti ini. Dalam proses terbentuknya alam semesta, segumpalan debu kosmik belakangan menjadi sebuah planet kecil, yang bernama Bulan. Tentu saja, kampung halaman (asal) Bulan ini tidak begitu jelas, mungkin di tata surya atau di galaksi, atau barangkali di suatu tempat di kedalaman alam semesta.

Setelah pembentukan Bulan, ia menjadi sebuah planet yang bebas, segaris orbit yang tidak kita ketahui membentang di alam semesta yang maha luas ini, menembus diantara galaksi yang tak terhitung banyaknya. Pada suatu ketika, bulan tiba di tata surya, ketika melintasi tata surya, terjadilah sesuatu pada bulan. Ia merasakan seberkas kekuatan yang tidak diketahui dari mana asalnya itu tiba-tiba menghempasnya dengan keras, dan membuatnya bergetar, dan dalam getaran seketika itu, orbit bulan berubah.

Selanjutnya terjadi serangkaian perubahan padanya (bulan). Tepat di saat itu, bulan baru mengetahui ternyata kekuatan yang menghempasnya itu berasal dari sebuah planet biru, dan kebetulan bulan juga ingin melihat keanggunan dari planet biru ini, sehingga ia pun menetap di sana, dan akhirnya menjadi bulan yang melengkapi dalam kehidupan kita.

Hipotesis teori ini terdengar sangat romantis, dan ditilik secara fisik tampaknya juga cukup rasional. Meskipun teori ini indah dan romantis, namun, tidak mampu menarik antusias para ilmuwan. Karena ditilik dari sudut pandang mekanika benda langit, ada banyak kelemahan yang fatal juga tidak dapat dipertahankan secara ilmu statistik. Tidak heran banyak astrofisikawan beranggapan, bahwa penangkapan bulan oleh bumi sebagai satelitnya itu kemungkinan sangat kecil, bahkan mustahil.

Sanggupkah gravitasi Bumi menangkap bulan seperti capture di atas?

Sepertinya kemungkinnya kecil. Kita tahu, diameter bulan adalah 25%-nya dari diameter bumi, yakni 3476 km. Dengan massa dan gravitasi bumi yang relevan, sepertinya mustahil mampu menangkap bulan yang sedemikian besar dan di kejauhan 384,400 km. Kita akan tahu setelah melihat skala antar satelit dan planet lainnya di alam semesta. Misalnya, satelit terbesar galaksi, selain bulan adalah Ganymede-nya Jupter III, namun, diameternya hanya 1/7 dari diameter Jupiter. Jadi jelas, bulan itu memang sangat besar skalanya (ukuran). Apalagi kalau kita pertimbangkan kecepatan bulan di antara matahari-bulan ketika itu, jelas mustahil (gravitasi) bumi bisa menangkap satelit (bulan) yang sedemikian besarnya di alam semesta.

Sementara di sisi lain, meskipun bulan tetap berada di orbit Bumi, dengan jarak yang sedemikian jauhnya dari Bumi. Padahal, pada posisi lintasan bulan sekarang, dampak gravitasi bumi terhadapnya tidak sekuat dari gravitasi matahari. Hanya dari gravitasinya saja, kemungkinan bulan ditangkap (gravitasi) matahari jauh lebih memungkinkan daripada gravitasi bumi. Tapi entah mengapa Bulan justru rela ditangkap gravitasi bumi, dan menjadi satelitnya bumi, bukankah sangat aneh? (Secretchina /Si Jing/joni/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular