Oleh: Li Wei-dong

Begitu banyak misteri bulan yang masih membingungkan ilmuwan hingga kini. Mengapa struktur di balik belakang bulan itu begitu padat dan berlapis-lapis, sementara bagian depan begitu datar bak cermin? Mengapa lingkarannya, baik dari sisi ukuran dan kedalamannya sama? Mengapa bulan dikatakan sebagai objek berongga?

Asal mula terbentuknya Bulan

Sebelumnya telah berulang kali kita membicarakan tentang asal mula bulan, yaitu asal mula terbentuknya bulan di mata para ilmuwan, tapi itu bukan kesimpulan akhir, melainkan hanya sebuah hipotesis ilmiah saja, tidak lebih. Hingga kini, asal mula terkait terbentuknya bulan, masih menjadi perdebatan sengit para ilmuwan. Namun, setelah lebih dari satu abad, perdebatan ilmuwan bukan hanya tidak mencapai pengertian bersama, justru perbedaannya semakin bertambah lebar.

Raksasa dari tata surya, tirai pelindung Jupiter

Satu lagi kondisi lainnya, yakni di dalam tata surya ada satu raksasa, yaitu Jupiter, memiliki diameter143,200 km, setara dengan 11,23 kali, diameter bumi, karena densitasnya lebih kecil dari Bumi, dan meskipun volumenya 1.415 kali jauh lebih besar dari bumi, namun, massanya hanya 318 kali dari Bumi.

Kendati demikian, ia juga jauh lebih besar dari Bumi, memiliki gravitasi yang sangat kuat. Hasil tes simulasi komputer di Carnegie Institution of Washington DC menunjukkan, bahwa gravitasi Jupiter adalah sebuah tirai pelindung alaminya Bumi, yang menarik dirinya sendiri dari benda langit di luar tata surya, sehingga bumi terhindar dari hantaman meteorit raksasa.

Menurut pandangan mereka, jika tidak ada tirai pelindung Jupiter ini, maka kemungkinan bumi dihantam kekuatan eksternal akan meningkat 1.000 kali dari sebelumnya, yang akan terjadi sekitar 100.000 tahun sekali. Jika demikian halnya, maka tidak akan ada yang namanya manusia di bumi. Sementara itu, peristiwa komet yang menghantam Jupiter pada 1993 silam juga telah memberikan bukti atas pandangan ini.

Shoemaker-Levy 9 (SL-9)” adalah sebuah komet, berdiameter sekitar 10 km, dengan massa  500 miliar ton. Ilmuwan memperkirakan, komet ini ditangkap Jupiter ketika menyusup ke tata surya puluhan tahun lalu, dan menjadi satelit dari Jupiter. Pada 1992, komet SL9 hancur menjadi 21 keping oleh gravitasi Jupiter yang kuat ketika mendekati titik terdekat Jupiter. Diameter paling besar dari puing-puing komet ini sekitar 4000 meter. Sementara diameter rata-rata sekitar 2000 meter, dengan kecepatan hingga 160.000 km / jam.

Pada 17 Juli 1994 sekitar pukul 04:15, potongan pertama komet SL9 menuju Jupiter dengan kecepatan 210.000 km per jam. Jupiter melayangkan segumpalan awan jamur yang berwarna warni di atas ketinggian 1.000 km di angkasa, dan sebuah bola api hampir 2.000 kilometer bergulung-gulung di Jupiter. Sepuluh menit kemudian, sebintik gelap berdiameter ribuan km terbentuk di permukaan Jupiter.

Enam hari kemudian, potongan lain dari komet SL9 yang membentang sepanjang lima juta km secara berturut-turut menghantam permukaan Jupiter. Setelah hantaman itu, campuran yang kuat dari partikel bermuatan listrik, dihempaskan ke ruang angkasa mengikuti rotasi Jupiter, membentuk seberkas sinyal radio yang sangat kuat, melintang dalam jarak 700 juta km mengarah ke bumi, yang dapat diterima meski oleh penggemar radio amatir sekalipun.

Para ahli memperkirakan energi yang dilepaskan dari setiap potongan komet saat menabrak itu sekitar 1 miliar ton TNT, setara dengan 100.000 bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, atau 10.000 kali jauh dahsyat dari bom hidrogen terbesar saat ini. Sebenarnya, energi yang dilepaskan dari potongan komet dengan diameter lebih dari 2000 meter saat tabrakan itu setara dengan 300 – 500 juta bom atom yang dijatuhan di Hiroshima. Seandainya tidak ada Jupiter, kemungkinan komet “SL9” akan menerjang ke dalam lingkup gravitasi bumi.

Dengan demikian, jika bulan adalah benda langit di luar tata surya yang kebetulan menerobos masuk ke (gravitasi) bumi, maka besar kemungkinan ia (bulan) akan tertangkap oleh Jupiter yang berjarak 700 juta km dari Bumi, bukan oleh bumi. Tapi mengapa justru ditangkap oleh gravitasi bumi, ini sangat aneh, entah bumi yang menangkapnya atau sebaliknya justru ia yang menangkap bumi (Teori Penangkapan Bulan / Moon Capture Theory).

Fenomena astronomi yang tidak dapat dijelaskan.

Ketika memandangi langit dari bumi, sekilas bulan tampak tidak jauh berbeda dengan matahari dari sisi ukuran, tapi pada kenyataanya, keduanya sangat jauh berbeda. Hal yang menyebabkan ilusi atau kesan yang salah ini adalah pengaturan jarak yang ganjil, diameter bulan sekitar 3.476 km. Sementara diameter matahari adalah 1.392.000 kilometer, atau dengan kata lain, diameter matahari adalah 400 kalinya diameter bulan.

Di sisi lain, jarak Bumi ke matahari sekitar 149.600.000 kilometer, sedangkan jarak bumi ke bulan hanya 384.400 kilometer, tapi yang sulit dipercaya adalah jarak dari bulan ke bumi itu kebetulan adalah 1/400-nya jarak dari bumi ke matahari, oleh karena itu, ukuran bulan dan matahari terlihat sebanding jika dilihat dari bumi. Dengan demikian, bulan tepat berada di posisi yang bisa menghasilkan fenomena berupa gerhana total, bulan berukuran sedang, yang bisa secara tepat akurat berhimpitan dengan matahari.

Teori astronomi menyebut fenomena ganjil tersebut di atas sebagai “the astronomy accident”, karena tidak dapat dijelaskan dengan prinsip astronomi. Jika memang bulan itu ditangkap oleh (gravitasi) bumi, maka sungguh menakjubkan pengaturan jarak yang ajaib ini, dan sebagaimana yang dikatakan sejumlah ilmuwan, “Hal itu memang sangat ganjil meskipun terjadi secara kebetulan.” (Secretchina/Si Jing/joni/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular