Sindrom polikistik ovarium( Polycystic Ovarian Syndrome PCOS) adalah gangguan hormonal yang paling sering terjadi di kalangan wanita usia reproduksi, yaitu sekitar 7-15 persen wanita di seluruh dunia.

Sindrom polikistik ovarium dapat menjadi suatu misteri bagi dokter maupun penderita. Tanda klasik dari gangguan ini adalah obesitas, jerawat, menstruasi yang tidak teratur, dan tumbuh rambut di wajah, namun beberapa wanita tidak pernah menampilkan gejala ini. Akibatnya, banyak wanita tidak menyadari jika mereka menderita sindrom polikistik ovarium karena mereka tidak memiliki gejala seperti yang tertera dalam buku teks.

Pada sindrom polikistik ovarium, ovarium menghasilkan kadar hormon seks pria (androgen) yang lebih tinggi dari normal yang menimbulkan berbagai gejala, termasuk timbulnya kista-kista kecil di ovarium, sesuai dengan namanya. Jika tidak diobati, ketidakseimbangan hormon ini dapat menyebabkan masalah kesehatan kronis yang serius, seperti diabetes dan penyakit jantung.

Dr. Fiona McCulloch adalah seorang praktisi naturopati di Toronto, Kanada, yang mengkhususkan diri pada terapi untuk sindrom polikistik ovarium, kesehatan tiroid, infertilitas, pengendalian berat badan dan kondisi lain yang seringkali disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon. Naturopati adalah metode pengobatan yang menggunakan sarana alami seperti makanan, latihan fisik, panas, udara, air, cahaya, dan sarana fisiologis lainnya.

Epoch Times mewawancarai Dr. Fiona McCulloch tentang pengalamannya mengobati sindrom polikistik ovarium, pentingnya diet dan olahraga dalam mengobati sindrom polikistik ovarium, dan mengapa banyak wanita tidak sadar jika mereka menderita sindrom polikistik ovarium.

Epoch Times: Ceritakan tentang pengalaman pribadi Anda dalam mengobati PCOS?

Dr. Fiona McCulloch: Ketika saya masih remaja, saya selalu mengalami siklus menstruasi yang sangat tidak teratur dan berjerawat. Saya sudah berobat pada banyak dokter ahli penyakit kulit untuk mengobati jerawat saya, tetapi tidak pernah berhasil. Saya sudah mencoba banyak salep antibiotik untuk mengobati jerawat saya tetapi jerawat saya kambuh lagi.

Tidak seorangpun yang mengatakan kepada saya bahwa saya mungkin menderita PCOS, mungkin dikarenakan saya tidak mengalami gejala klasik dari sindrom polikistik ovarium.

Saya mengalami penambahan berat badan selama kuliah di universitas, yang sangat khas untuk mahasiswi yang makan banyak karbohidrat. Jerawat saya bertambah parah dan siklus menstruasi saya masih tetap sangat tidak teratur. Saat itu saya pikir siklus menstruasi saya adalah normal, karena saya tidak tahu apa-apa.

Saya memutuskan untuk menjadi seorang dokter naturopati di mana saya banyak belajar mengenai gizi. Saya mengubah pola makan saya, dan dengan segera siklus menstruasi saya menjadi lebih teratur, jerawat masih tetap ada tetapi sedikit membaik.

Setelah saya lulus kuliah, saya menjadi sangat tertarik dalam bidang mengobati masalah hormonal wanita, dan saya mulai menyadari bahwa gejala saya alami cocok dengan gejala sindrom polikistik ovarium. Pada pemeriksaan dengan menggunakan ultrasound, tampak banyak kista di ovarium saya.

Jadi saya mulai memerhatikan bagaimana cara mengobati sindrom polikistik ovarium. Saya belajar mengobati sindrom polikistik ovarium melalui nutrisi, gaya hidup, olahraga, dan suplemen yang terbukti berhasil. Pada saat saya berusia 30 tahun, saya bebas dari semua gejala sindrom polikistik ovarium, termasuk jerawat.

Tetapi saya masih harus berhati-hati karena di usia saya sekarang ini saya berisiko tinggi untuk masalah kesehatan kronis, seperti diabetes.

Epoch Times: Salah satu hal yang mengejutkan yang saya temukan adalah bahwa pada beberapa wanita penderita PCOS tidak memiliki kista pada ovariumnya. Saya ingin tahu bagaimana hal ini bisa terjadi?

Dr. McCulloch: Ketika PCOS ini diidentifikasi, mereka menemukan bahwa wanita dengan gejala yang paling parah memiliki kista pada ovariumnya. Kista ini sebenarnya hanyalah telur yang belum ovulasi secara sempurna, sehingga bukan kista yang sesungguhnya. Kista ovarium tidak patologis.

Pada sindrom polikistik ovarium, ovulasi terhenti, dan kadar testosteron meningkat di dalam ovarium sehingga telur menumpuk di sana. Tetapi ketika wanita penderita PCOS mengalami ovulasi, mereka cenderung tidak memiliki kista sebanyak yang kita bayangkan, atau tidak tampak sama sekali, tetapi masih memiliki semua gejala PCOS.

Untuk mendiagnosis sindrom polikistik ovarium, harus memiliki dua dari tiga kriteria: Penundaan terjadinya ovulasi. Kelebihan androgen. (Hal ini terkait dengan kadar testosteron yang tinggi yang menimbulkan gejala seperti jerawat atau hirsutisme, yaitu tumbuh rambut di wajah.) Yang ketiga adalah polikistik ovarium. Seorang wanita tidak harus memiliki banyak kista di ovarium untuk didiagnosis menderita sindrom polikistik ovarium. Yang menarik, semakin bertambahnya usia seorang wanita maka semakin kecil kemungkinannya untuk memilliki banyak kista di ovariumnya, karena ia memiliki telur yang lebih sedikit. Jadi PCOS lebih sering terjadi pada wanita muda.

Gejala lain yang menyertai PCOS adalah gejala metabolik. Wanita penderita sindrom polikistik ovarium memiliki kadar insulin yang tinggi. Berat badannya cenderung meningkat yang sering ditandai oleh perutnya yang gendut, dan sangat sulit baginya untuk menurunkan berat badan. Wanita penderita sangat cenderung untuk menderita obesitas dan diabetes. Insulin adalah penyebab dari banyak masalah ketidakseimbangan hormon.

Yang mendasari semua ini adalah peradangan ringan yang kronis, yang menjadi penyebab resistensi insulin. Wanita penderita PCOS mengalami gangguan fungsi sel lemak yang sering mengalami peradangan. Bahkan wanita penderita PCOS yang sangat ramping dapat menderita gangguan fungsi jaringan lemak.

Epoch Times: PCOS adalah gangguan fungsi hormonal yang paling sering terjadi pada wanita. Apa penyebabnya?

Dr. McCulloch: Ini adalah kombinasi genetika dan lingkungan.

Ada banyak gen yang sangat dikaitkan dengan PCOS dan banyak gen dikaitkan dengan penghematan metabolik, sehingga pada keadaan tidak cukup makanan, wanita penderita PCOS tidak mengalami masalah , karena ia menghemat energi dengan baik, tetapi mengurangi kesuburannya.

Salah satu hal yang kami pelajari baru-baru ini adalah ada hubungan yang sangat kuat antara PCOS dengan pengganggu hormon lingkungan. Jadi jika seorang wanita hamil terkena racun lingkungan, seperti misalnya Bisfenol A (BPA), maka anak perempuannya dapat menderita sindrom polikistik ovarium. Hal ini telah diuji coba pada tikus, di mana induk tikus diinduksi dengan Bisfenol A sehingga janin tikus dalam rahim terpapar dengan Bisfenol A. Mereka juga menemukan bahwa gadis remaja yang menderita PCOS mengandung lebih banyak Bisfenol A dalam air kencingnya. Maka sindrom polikistik ovarium sangat berhubungan dengan lingkungan yang berpotensi sebagai faktor yang memberatkan.

Kami tidak tahu pasti apa penyebabnya, tetapi kami tahu bahwa semua hal ini saling berhubungan cukup rumit.

Epoch Times: Anda menulis bahwa “sindrom polikistik ovarium dapat diterapi dengan mengubah pola makan wanita penderita. Dalam beberapa kasus, zat gizi saja sudah dapat meredakan sebagian besar gejala”. Mengapa diet memainkan peranan yang besar untuk sembuh dari PCOS?

Dr. McCulloch: Alasannya utamanya adalah resistensi insulin, di mana kadar insulin yang tinggi dalam darah. Pada dasarnya, kadar insulin yang tinggi menyebabkan ovarium memproduksi testosteron.

Setiap kali kita makan, kadar gula darah akan naik dan insulin dilepaskan untuk berurusan dengan gula darah. Tetapi pada sindrom polikistik ovarium, insulin dalam jumlah yang lebih besar dilepas lebih lama, sehingga lebih banyak insulin di dalam tubuh. Dengan makan makanan yang menyebabkan insulin kurang diproduksi, maka akan tampak perbaikan kesehatan bagi wanita penderita.

Epoch Times: Sehubungan dengan makanan yang mengurangi produksi insulin, sebelumnya saya pernah mendengar mengenai indeks glisemik, tetapi Anda menyebut indeks insulin. Apa bedanya?

Dr. McCulloch: Indeks glikemik menunjukkan berapa banyak kadar gula darah yang meningkat setelah makan. Indeks insulin dikembangkan oleh orang-orang yang sama yang melakukan sebagian besar penelitian terhadap indeks glikemik di University of Sydney. Mereka menemukan bahwa ada makanan tertentu yang meningkatkan produksi insulin, tetapi tidak meningkatkan kadar gula darah.

Wanita penderita PCOS dapat memilih protein, sayuran, dan lemak yang sehat untuk dimakan. Karbohidrat adalah pilihan terakhir untuk dimakan. Umumnya, mereka makan protein sebanyak seukuran telapak tangan, sayuran sebanyak dua-pertiga piring, satu sendok makan minyak yang sehat, sebuah alpukat, atau kacang sebanyak segenggam tangan, dan karbohidrat. Jumlah karbohidrat yang dimakan adalah berbeda, tergantung pada tingkat resistensi insulin. Beberapa wanita penderita makan sangat sedikit karbohidrat, dan beberapa wanita penderita makan lebih banyak karbohidrat.

Saya telah berhasil sembuh dari PCOS karena menjalani diet yang sangat mudah untuk dijalani ini.

Wanita penderita PCOS harus menghindari gula dan susu. Susu adalah yang paling merangsang produksi insulin. Hal ini sangat mengejutkan karena kita semua dianjurkan untuk makan banyak yogurt. Pengalaman saya pribadi, saya selalu ingat bahwa susu memperparah jerawat saya. (Epochtimes/Conan Milner/Vivi)

Bersambung

Share

Video Popular