Oleh Qin Yufei

Media resmi Tiongkok melaporkan bahwa mulai 1 November mendatang, pemerintah Tiongkok akan  memberlakukan sistem pemberian ijin kerja baru kepada para ekspatriat. Yakni dengan membagi ijin kerja kategori A, B dan C.

Pengaturan tersebut bertujuan untuk menciptakan kondisi ekonomi yang inovatif dan merangsang para ekspatriat kelas atas, mengendalikan ekspatriat kelas menengah dan membatasi yang kelas bawah masuk ke Tiongkok.

Kepala Kantor Administrasi Negara untuk Keahlian Tenaga Kerja Asing, Zhang Jianguo mengatakan, “Pengaturan ini berhubungan dengan pemerintah ingin memperbaiki pelayanan kepada para tenaga kerja asing yang ingin bekerja di Tiongkok”.

Sistem tersebut pertama kali akan diuji coba di 9 kota propinsi termasuk Beijing, Shanghai, baru nantinya menyebar ke seluruh negeri.

New York Times melaporkan bahwa pengumuman ini membuat para ekspatriat di Tiongkok beremosi, mereka sangat ingin tahu, “Kita mau dimasukkan ke kategori yang mana oleh pemerintah Tiongkok!”

Menurut sensus penduduk 2010, ada sekitar 200.000 orang tenaga kerja asing yang resmi bekerja di Tiongkok, dan kira-kira 400.000 orang keluarga asing yang perlu mereka tanggung.

Angka tersebut tampaknya tidak besar. Seorang konsultan perusahaan rekrumen TKA di Beijing, Foreign HR bernama Eric Liu kepada New York Times mengatakan, pada 2015, ada kira-kira 2 juta orang asing yang berada di Tiongkok, dan 300.000 orang di antaranya bekerja secara ilegal. Menurut Eric, Tiongkok memang membutuhkan lebih banyak pekerja asing, tetapi mereka sering mengalami kesulitan untuk memperoleh visa.

“Dalam rangka untuk mengembangkan ekonomi, baik perusahaan-perusahaan swasta atau BUMN besar semuanya membutuhkan pekerja asing,” kata Eric.

Penggolongan membuat sebagian besar ekspatriat di Tiongkok gelisah. James mantan guru SMA di  Wyoming yang sekarang mengajar di sebuah sekolahan TK di Beijing ingin sekali mengetahui dirinya termasuk ketegori yang mana?

“Mereka belum mengeluarkan tata cara pembagian dan sistem penilaian yang akan digunakan. Hal ini membuah saya khawatir, saya ingin tahu bagaimana saya bisa menjadi bagian dari aset Tiongkok, apa status saya? kata James kepada New York Times.

“Pendidik mungkin dapat diklasifikasikan ke dalam kategori B,” jelas Eric Liu kepada New York Times.

James awalnya juga merasa frustasi atas dirinya dimasukkan ke dalam ketegori B, meskipun akhir ia mengakui bahwa sistem baru itu mungkin juga tidak merugikan dirinya.

Sistem baru tersebut akan dikomputerisasikan lengkap dengan nomor ID dan foto yang bersangkutan. Sistem terdahulu masih menggunakan file-file yang berbasis kertas.

“Kalau itu (sistem baru) mampu menciptakan transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi, saya pikir perbaikan sistem ini adalah hal yang baik,” kata James.

Media milik Kementerian Sosial Tiongkok yang menangani SDM memberitakan rincian tentang sistem dan peraturan baru tersebut. Menurut media tersebut bahwa kategori A itu akan menampung para ekspatriat di bidang profesional yang memang memiliki bakat inovatif dan kreatif.

Kategori B mencakup mereka yang terlibat dalam rencana pembangunan ekonomi Tiongkok, atau mereka yang mampu mengisi kekosongan profesional yang dialami Tiongkok pada masa tertentu, terutama di bidang manajemen dan teknis. Sedangkan ekspatriat yang berkecimpung dalam bidang perdagangan, olahraga, budaya dan pendidikan, mungkin akan dikenakan pembatasan tertentu.

Kategori C mencakup pekerja industri non teknis atau mereka yang berkecimpung dalam industri jasa pelayanan. Golongan tersebut bakal diperketat pemberian ijinnya.

Gaji, tingkat pendidikan, kemampuan berbahasa Mandarin, usia dan faktor lainnya menjadi dasar penilaian ke mana ekspatriat itu digolongkan. Kategori A membutuhkan penilaian setidaknya mencapai 85 poin, sedangkan B wajib mencapai 60 poin. Mereka yang memperoleh penilaian di bawa 60 poin akan digolongkan yang C. Masuk kategori yang diperketat. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular