Erabaru.net. Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi pada musim panas tahun 1960-an di Kota Nanyang, Provinsi Henan, Tiongkok. Seorang menantu yang tewas di sambar petir karena perlakuanya terhadap ibu mertua.

Ada satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan anak, menantu, dan dua cucu laki-laki dan perempuan. Di usianya yang sudah senja, berusia lebih dari 70 tahun, ibu ini menderita kebutaan.

Ibu yang buta ini punya cucu laki-laki berusia sekitar 8 atau 9 tahun, dan cucu perempuan usia sepuluhan tahun.

Ibu ini tinggal di sebuah pondok ilalang di sebelah timur, sedangkan anak dan menantunya beserta cucu-cucunya tinggal di pondok sebelah barat.

Anak lelakinya yang sangat berbakti bekerja di tempat yang jauh di sebuah perusahaan kehutanan, dan lebih dari satu bulan baru bisa sekali pulang ke rumah.

Sementara semua urusan rumah tangga sehari-hari dikerjakan oleh menantunya, dan selama itu tidak pernah terdengar suara ribut-ribut di rumah.

Saat pulang, putranya selalu menanyakan tentang kondisi ibunya, karena tidak mau anaknya cemas, maka sang ibu selalu bilang sehat-sehat saja, bahkan memuji-muji betapa baik dan berbaktinya istrinya itu.

Mendengar itu, putranya pun senang dan lega. Lama kelamaan, kabar itu pun tersebar luas, para tetangga sekitar selalu bercerita kalau si nenek mendapatkan seorang menantu perempuan yang baik.

Padahal, menantu perempuannya itu bukan saja kerap mengutuk mertuanya kenapa tidak segera mati saja, tapi juga acapkali memberi mertuanya itu makan makanan sisa, bahkan kerap memberi minum air bekas cucian peralatan dapur.

Itu masih tidak seberapa, kadang-kadang saat mertuanya haus dan minta minum : “Tolong suruh anak-anak bawakan saya air minum.” Saat itu, kebetulan menantunya sedang mencuci kaki, lalu berkata pada anaknya : “Kamu ke dapur dan bawa ke ibu mangkuk nenekmu itu.”

Kemudian, menantunya menuang air bekas cuci kakinya itu ke mangkuk, lalu menyuruh anaknya membawa air minum itu ke neneknya.

Ada kalanya ketika mertuanya tidak bermaksud untuk minum, sang menantu juga kerap menuang air kotor bekas cuci kakinya itu ke mangkuk, lalu menyuruh anak-anaknya membawa air minum itu untuk neneknya yang buta, sambil berkata : “Jangan sampai nenekmu haus, nanti dikira kita tidak berbakti lagi!”

Hari demi hari terus berlalu, orangtua yang buta itu melewati kesehariannya dengan sabar. Hingga pada suatu ketika di musim panas tahun 1960, semuanya pun berakhir.

Ketika itu, hujan lebat disertai dengan gemuruh halilintar dan petir yang memekakkan telinga, sangat mengerikan.

Pada saat itu, si menantu dan dua anaknya berada di rumah. Seberkas petir bergemuruh menyambar atap rumahnya, sampai-sampai debu pada balok penyangga atap rumah pun berceceran jatuh ke bawah. Sebelumnya tidak pernah terjadi kondisi seperti ini.

Gemuruh halilintar yang mengerikan itu membuat si menantu seketika bergidik ketakutan, bersembunyi di dalam kamar, duduk di samping tempat tidur sambil mencengkram erat tangan putra dan putrinya, ketiganya tampak menggigil ketakutan.

Kurang lebih satu jam kemudian hujan pun berhenti, demikian juga dengan gemuruh halilintar tidak terdengar lagi.

Sang menantu yang bersembunyi di dalam kamar itu pun akhirnya menarik napas lega. Namun, baru saja Anak-anak berjalan keluar dari kamar, tiba-tiba terdengar gemuruh petir, dan seberkas cahaya merah menerobos ke dalam kamar, lalu menyambar wanita yang masih duduk termangu di samping tempat tidur itupun tewas seketika di tempat.

Sang menantu yang kerap menindas mertuanya yang sudah senja dan buta itu meninggal pada usia 37 tahun.

Ketika itu, suaminya yang sedang berada di tempat kerjanya yang berjarak sekitar 200 km dari rumahnya itu pun sangat sedih setelah mendengar kabar duka itu, lalu begegas pulang ke rumah untuk mengurus pemakaman.

Para tetangga tidak habis mengerti, mengapa menantu yang begitu baik itu bisa tewas menggenaskan disambar petir? Ada yang mengatakan wanita itu pasti telah melakukan sesuatu yang buruk, hanya saja kita tidak tahu.

Setelah pemakaman, pria yang kehilangan istri itu pun bertanya pada kedua anaknya apa yang telah terjadi sebenarnya di rumah.

Anak-anak menceritakan dengan rinci kepada ayahnya tentang segala sesuatu yang terjadi di rumah selama sang ayah tidak berada di rumah. Dan yang paling membuatnya naik pitam adalah kata-kata ini : “Ibu sering menyuruh saya memberi nenek minum air bekas cuci kaki ibu.”

Anak yang sangat berbakti ini pun seketika naik pitam dan menjadi murka setelah mendengar cerita anaknya, lalu mengambil cangkul ingin menggali makam istrinya yang baru dikuburkan, untuk mencambuk mayat istrinya.

Mendengar putranya hendak menggali makam istrinya itu, sang ibu berusaha membujuk anaknya sambil berkata : “Sudahlah, lupakan saja, orangnya juga sudah meninggal!” (NTDTV/Jhn/Yant)

Share

Video Popular