Dua “Konser Musik Merah” dalam rangka memperingati mantan pemimipin PKT Mao Zedong yang awalnya direncanakan digelar awal September masing-masing di Sydney dan Melbourne, dibatalkan karena banyak kontroversi.

Departemen Propaganda Partai Komunis Tiongkok/PKT yang dipimpin oleh Liu Yunshan awal Mei lalu menggelar “Malam Konser Merah” di balai kota Beijing untuk membangkitkan kembali “angin Revolusi Kebudayaan”, juga mendapat serangan balik dari kubu Xi.

Australian: Mao Adalah Dalang Pembantaia

Situs “Australian” pada 3 September lalu mempublikasikan artikel komentar Gerard Henderson yang menuliskan,   9 September adalah peringatan 40 tahun meninggalnya mantan pemimpin tertinggi PKT Mao Zedong (dibaca: Mao Ce Tung) yang merebut kekuasaan pada 1949. Para pengikut Mao awalnya merencanakan menggelar konser musik masing-masing di Balai Kota Sydney (6/9/2016) dan di Balai Kota Melbourne (9/9/2016). Karena alasan keamanan, kedua ajang konser itu dibatalkan.

Artikel menyebutkan, kegiatan ini memicu kontroversi di kawasan hunian etnis Tionghoa di Australia. Pakar permasalahan Tiongkok dari Sydney University of Technology bernama Feng Chongyi minggu lalu berkata pada “SBS News”, Mao adalah seorang tiran, dan “Mao sendiri berikut kebijakannya telah menyebabkan kematian rakyat yang jumlahnya bahkan melebihi total jumlah korban akibat Hitler dan Stalin (di Perang Dunia II).”

Sejarawan Belanda Frank Dikotter dalam tiga bukunya masing-masing berjudul “Liberation Tragedy”, “Mao’s Great Famine” dan “Cultural Revolution” menyimpulkan bahwa Mao harus bertanggung jawab atas kematian 50 juta jiwa rakyat Tiongkok.

Pakar permasalahan Tiongkok dari Sydney University of Technology bernama Feng Chongyi mengatakan, Mao Zedong (kanan) menyebabkan kematian dengan jumlah korban melampaui jumlah korban total akibat pembunuhan oleh Hitler (kiri) dan Stalin (tengah). (AFP)
Pakar permasalahan Tiongkok dari Sydney University of Technology bernama Feng Chongyi mengatakan, Mao Zedong (kanan) menyebabkan kematian dengan jumlah korban melampaui jumlah korban total akibat pembunuhan oleh Hitler (kiri) dan Stalin (tengah). (AFP)

Ia memperkirakan, dalam gerakan Reformasi Lahan antara akhir 1940-an sampai awal 1950-an, sekitar 2 juta jiwa telah tewas. Wabah kelaparan yang timbul akibat Gerakan Lompatan Besar di akhir 1950-an hingga awal 1960-an menewaskan sekitar 45 juta jiwa. Lalu selama 10 tahun “Revolusi Kebudayaan” yang telah dimulai sejak 1966 telah mengakibatkan setidaknya 2 juta orang dibunuh. Seperti halnya Feng Chongyi, Frank berpendapat seharusnya Mao diperlakukan sama dengan Hitler dan Stalin.

Artikel menyatakan, ada bukti yang menjelaskan adanya perbedaan pandangan di kalangan etnis Tionghoa Australia. Kalangan yang menentang peringatan Mao Zedong adalah orang-orang yang meninggalkan kediktatoran PKT periode pembantaian di Lapangan Tiananmen pada 1989 dan sebelumnya. Selain itu adalah kaum pendukung Mao yang telah hijrah ke Australia selama lebih 20 tahun terakhir.

Akhir artikel ditekankan, nilai universal warga Australia tidak akan menaruh hormat pada mantan pembantai, baik dari Tiongkok maupun dari negara lain.

Aliansi Pengawal Norma Australia Boikot “Konser Musik Merah”

1 September lalu, Aliansi Pengawal Norma Australia mengeluarkan pengumuman, di pagi hari itu langsung mendapat balasan dari pemerintah kota Sydney, yang memutuskan untuk membatalkan sewa lokasi untuk pagelaran konser musik merah (komunisme) memperingati Mao Zedong.

Aliansi tersebut menyatakan, ini hanya awal saja, seharusnya mencegah pemikiran Mao menyusupi warga Australia dan merusak kehidupan warga Australia yang bebas dan demokratis. Juru bicara aliansi bernama John Hugh menyatakan, sekarang rakyat Tiongkok pun sudah tidak banyak yang meyakini paham komunis.

“Saya percaya, bahkan di Tiongkok sekalipun, untuk menggelar ajang konser musik untuk memuja Mao juga akan sangat sulit,” katanya.

Kaum etnis Tionghoa menggalang aksi pengumpulan petisi di situs change.org untuk memboikot dan dalam waktu dua minggu saja telah mengumpulkan tanda tangan sebanyak 2.800 orang, dan menyerahkan surat terbuka kepada walikota Sydney serta juga dewan kota yang isinya menuntut dibatalkannya konser musik merah tersebut.

Forum di Wechat “Residing in Australia” dalam 3 hari menerima hasil survey sebanyak 22.000 orang menunjukkan, sebanyak 63% (14.085 orang) masyarakat menentang digelarnya konser musik merah itu.

Deppro Liu Yunshan Bangkitkan Angin Revolusi Kebudayaan, Xi Serang Balik

16 Mei tahun ini adalah peringatan 50 tahun “Revolusi Kebudayaan” di Tiongkok. Pemerintah Beijing hari itu tidak ada kegiatan terkait, media massa juga membisu, hal ini menarik perhatian media Barat. Dini hari 17 Mei, surat kabar pemerintah RRT “The People’s Daily” merilis artikel beruntun menegaskan bahwa “Revolusi Kebudayaan” telah benar-benar ditiadakan, dan kesalahan seperti “Revolusi Kebudayaan” ini tidak diperkenankan untuk terulang kembali.

Akan tetapi, sebelumnya di malam hari pada 2 Mei, di Balai Kota Beijing diadakan malam “Konser Musik Merah” yang dicurigai oleh pihak luar merupakan kebangkitan kembali “angin Revolusi Kebudayaan”. Ada berita menyebutkan, “Konser Musik Merah” di balai kota itu membuat Xi Jinping berang, dan langsung memerintahkan Kantor Administratif Pusat untuk mengusut hal itu.

10 Mei, editor penerbitan Akademi Militer RRT bernama Xin Ziling menyatakan pada media AS, tren ideologi seperti ini dikobarkan oleh Departemen Propaganda yang dikuasai salah seorang anggota Komisi Tetap Politbiro yang merupakan antek kubu Jiang yakni Liu Yunshan, tujuannya adalah untuk melawan perang pemberantasan korupsi yang mengarah pada “macan terbesar” yakni Zeng Qinghong dan Jiang Zemin.

Artikel opini dari “Qing Yuan” menyebutkan, “Konser Musik Merah” di Australia dibatalkan di tengah banyaknya suara yang menentang, lagi-lagi merupakan tamparan telak yang memalukan bagi Departemen Propaganda, dan juga merupakan tambahan suatu peluang bagi kubu Xi untuk melucuti kekuasaan Liu Yunshan. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular