Telah lama menjadi perdebatan di dalam sebuah rumah tangga: Siapa yang lebih kuat secara seksual, pria atau wanita? Bukan rahasia lagi bahwa secara fisik, pria lebih unggul. Tetapi telah lama diakui bahwa kaum perempuan mengalami proses melahirkan dan fluktuasi hormon bulanan yang membuktikan bahwa wanita lebih kuat dan lebih unggul secara seksual.

Selama bertahun-tahun, para peneliti nyeri telah menetapkan bahwa wanita lebih banyak mengalami nyeri daripada pria. Sayangnya, sebagian besar kondisi nyeri kronis memengaruhi daerah intimnya. Wanita lebih berisiko mengalami beberapa kondisi nyeri kronis dan lebih sensitif terhadap rangsangan nyeri yang dilakukan di laboratorium dibandingkan dengan pria.

Nyeri kronis adalah masalah klinis yang sangat individual dan berbahaya. Nyeri kronis tidak memiliki tujuan fisiologis, karena cedera terjadi untuk jangka waktu yang lama (biasanya sekitar tiga bulan).

Mengingat bahwa nyeri yang dirasakan dan diproses di otak, maka banyak dari kita yang tidak dapat mengatakan secara tepat bagaimana rasanya dan bagaimana caranya menghancurkan hidup. Untuk alasan ini, Profesor Paul Rolan dari Universitas Adelaide menyebutnya sebagai “kanker jiwa”.

Tidak seperti banyak kondisi kesehatan umum lainnya di mana pengukuran dapat diambil atau scan dapat dilakukan untuk mendiagnosis masalah, nyeri kronis tidak dapat diukur dengan alat ini. Ini bukan akibat dari kurangnya mencoba, tetapi ini karena struktur di otak dan sumsum tulang belakang yang menghasilkan nyeri kronis secara anatomi adalah kecil dan tersembunyi dari pandangan kita oleh bagian lainnya yang penting dari tubuh kita, seperti tulang belakang dan tengkorak.

Karena wanita lebih sering mengalami nyeri daripada pria, maka ada argumen yang mengatakan bahwa wanita sebenarnya “lebih kuat” secara seksual, karena memiliki toleransi yang lebih besar terhadap nyeri. Tetapi kita juga tahu bahwa wanita tidak berpangku tangan dalam menderita nyeri: kaum perempuan lebih cenderung untuk mencari pengobatan dan mengonsumsi obat penghilang nyeri dibandingkan dengan pria.

Beberapa mekanisme telah diusulkan untuk menjelaskan perbedaan jenis kelamin dalam menderita nyeri dan menggunakan obat pereda nyeri.

Faktor psikososial seperti jenis kelamin telah terbukti turut mempengaruhi kepekaan nyeri dan pengakuan adanya nyeri, di mana pria “seharusnya” mampu bertahan; wanita memiliki kemampuan untuk mencari bantuan. Tetapi faktor ini tidak sepenuhnya menjawab masalah.

Selain itu, dengan memeriksa perbedaan struktural dan fungsional dalam saraf-saraf penghantar nyeri pria dan wanita di otak dan sumsum tulang belakang memberi beberapa penjelasan terhadap perbedaan jenis kelamin. Jadi, otak perempuan berbeda dalam beberapa hal dibandingkan dengan otak pria dan saraf-saraf penghantar nyeri pada perempuan sedikit berbeda dengan pria.

Mencari mekanisme yang sulit dipahami yang berkontribusi terhadap perbedaan jenis kelamin terhadap nyeri menyebabkan kita untuk melihat pada “otak lainnya,” sel-sel kekebalan tubuh pada otak dan sumsum tulang belakang yang disebut glia.

Glia adalah kumpulan sel-sel kekebalan tubuh yang melebihi jumlah neuron dengan perbandingan 10:1 di seluruh otak dan sumsum tulang belakang. Sel glia ini sangat penting untuk kesehatan dan kesejahteraan otak kita dan terbukti berkontribusi terhadap beberapa penyakit neurologis, mulai dari penyakit neurodegeneratif seperti Parkinson dan Alzheimer, hingga depresi dan kecemasan.

Glia terlibat pada keadaan nyeri kronis selama bertahun-tahun, tetapi sampai saat ini tidak diteliti peran glia pada nyeri pada perbedaan jenis kelamin.

Hormon estrogen dan progesteron yang merupakan hormon seks wanita berinteraksi dengan sel-sel kekebalan otak. Hormon seks wanita yang dominan, yaitu estrogen, telah lama diketahui memengaruhi nyeri pada wanita. Tetapi penelitian baru yang meneliti nyeri di seluruh siklus menstruasi  telah menunjukkan kepekaan nyeri meningkat ketika kadar estrogen mencapai puncaknya dalam siklus.

Tim riset kami telah mengidentifikasi bahwa generator jaringan dan molekuler nyeri pada dasarnya berbeda antara pria dan wanita. Glia tampaknya menjadi pusat perbedaan jenis kelamin terhadap nyeri. Nyeri yang dialami wanita pada dasarnya berbeda dengan nyeri yang dialami pria, karena perbedaan pada glia.

Hasilnya adalah bahwa wanita mengalami nyeri yang lebih parah dan lebih sulit untuk diobati dibandingkan dengan pria.

Yang menarik, penemuan ini memberikan pilihan pengobatan baru yang potensial bagi wanita penderita nyeri kronis: obat yang menargetkan glia lebih efektif mengobati nyeri kronis yang parah pada wanita. Obat ini tidak tersedia pada saat ini, tetapi jika obat ini terbukti aman dan menjanjikan dalam penelitian klinis yang sedang berlangsung, maka obat ini akan tersedia dalam waktu dekat.

Mengingat imunologi dari sel otak dan glia khususnya terlibat dalam beberapa kondisi neurologis, hasil ini mungkin memiliki implikasi yang luas jangkauannya bagi banyak gangguan otak.(Epochtimes/ Mark Hutchinson/Vivi)

Mark Hutchinson adalah peneliti ARC dan Lauren Nicotra adalah Calon PhD di Universitas Adelaide.

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular