Akibat kepemimpinan yang totaliter dan brutal dari keluarga Kim di Korea Utara. banyak penduduk miskin terpaksa melarikan diri melintasi perbatasan untuk mencari kehidupan di Tiongkok. Tetapi jika para pembelot ini dipulangkan ke negerinya, maka mereka pasti akan mengalami penganiayaan brutal dari rezim, bahkan mati kelaparan atau penyiksaan-penyiksaan jasmani.

Para pembelot atau pelintas perbatasan ke Tiongkok tersebut sebagian besar adalah kaum wanita. Menurut data Kementerian Unifikasi Korea Selatan, hampir 80 % dari mereka yang mencari suaka di Korea Selatan itu adalah kaum wanita.

Menurut media Korea Selatan ‘Joong Ang Ilbo’, sebanyak lebih dari 30 orang pembelot yang dipulangkan / dideportasi dari Tiongkok sejak beberapa bulan lalu, sampai  sekarang masih ditahan di Penjara milik Departemen Keamanan Nasional di Sinuiji, Pyongan-buk do, Korea Utara. Mereka sering dipukul dan disiksa selama berada dalam penjara atau dalam proses penyidikan.

Tidak dimintai pertanggungjawaban atas tewasnya tahanan yang diakibatkan pemukulan atau kelaparan

Sumber yang berasal dari Pyongan-buk do mengatakan bahwa saat ini sekitar 30 orang pembelot yang dipulangkan oleh pemerintah Tiongkok sedang mendekam dalam tahanan di Penjara Sinuiji”. “Sejak April mereka dipulangkan sampai sekarang masih saja menjalani pengusutan oleh yang berwajib”.

Selama beberapa bulan dalam penyelidikan itu, mereka tinggal dalam ruang sel yang atapnya bocor, makan bubur jagung yang mengandung banyak butiran pasir. Saking laparnya mereka sampai tak kuat berdiri, hanya bisa berbaring di atas lantai.

Menurut sumber tersebut, jika pembelot karena tidak bertenaga sehingga tidak mampu ikut melakukan pekerja penjara, maka sipir akan menyuruh sesama tahanan untuk memukul mereka.

“Seorang wanita hanya karena tidak memberikan jawaban yang baik ketika diinterogasi, dipukuli sampai tidak mampu berjalan, dan tak juga diobati. Pengadilan pun tidak akan meminta pertanggungjawaban para sipir meskipun mereka menyiksa hingga mati pembelot yang dipulangkan,” kata sumber itu.

Sebelumnya ada media yang melaporkan bahwa di masa lalu, banyak pembelot yang ditangkap lalu  dideportasi ke Korut, mereka diperlakukan secara kasar oleh rezim Korut, mulai dari yang ringan di kirim ke kamp kerja paksa sampai yang berat menjalani hukuman mati atau penyiksaan-penyiksaan fisik. Wanita hamil pun tidak luput dari adopsi paksa.

Petugas Korut selain memaksa pengakuan pembelot juga minta imbalan uang.

Media ‘Joong Ang Ilbo’ melaporkan, setelah didepotasi dari Tiongkok, para pembelot akan diinterogasi oleh petugas dari Departemen Keamanan Nasional Korut yang berada di beberapa tempat seperti di Namyang Hamgyong-buk do, Sinuiji dan lainnya. Meminta dari mereka sejumlah informasi tentang personil saat mereka berada di Tiongkok, jalur yang digunakan untuk kabur ke Tiongkok.

Maksud dari investigasi tak lain adalah untuk mencari tahu apakah pata pembelot ada melakukan kontak dengan gereja-gereja di Korea Selatan, pernah tidak mereka menonton video luar negeri, apakah pernah memberikan bantuan kepada warga lainnya untuk membelot ?

Dalam memilah apakah pembelot terlibat dalam kejahatan politik atau kejahatan biasa, dalam proses interogasi petugas akan menggunakan kekerasan atau dengan meminta imbalan uang. Dengan kata lain, mereka mengabaikan ketentuan hukum, tetapi sengaja menciptakan suasana teror demi memperkaya diri.

Para pejabat di Departemen Keamanan Nasional tak jarang juga akan mengancap penjahan biasa dengan kata-kata seperti “akan dikirim ke tempat penampungan”, “meminta uang suap”. Bahkan untuk mereka yang mampu memberikan uang suapan, diam-diam mereka mengijinkan pembelot (melalui Tiongkok sebagai negara ketiga) untuk menghubungi pihak di Korea Selatan sebagaimana yang diinginkan”.

Sebagaimana dicontohkan oleh sumber bahwa seorang wanita Korut berusia 30 tahun lebih yang menikah dengan seorang pria Shandong, tertangkap petugas Tiongkok lalu dipulangkan ke Korut. Wanita itu digolongkan sebagai penjahat biasa, tetapi sudah sekian bulan ditahan tanpa proses dan baru dibebaskan dan dikembalikan ke kampung asalnya Hyesan setelah kerabatnya yang tinggal di Korea Selatan mendukung uang suap sebesar USD. 5.000.

“Mereka terang-terangan meminta uang. Masyarakat mengatakan jika ada kesempatan, mereka akan membalas dendam,” kata sumber itu.

Departemen Keamanan Nasional memanfaatkan sensitifnya masalah pembelotan yang sedang mendapat sorotan tajam dari rezim untuk memperkaya diri mereka. Dan sikap antipati masyarakat terhadap rezim Kim Jong-un pun kian hari kian serius.

Pemulangan paksa pengungsi asal Korut adalah tidak manusiawi

Wanita asal Pembelot Korut Park Ji-hyun menulis sebuah artikel yang dimuat ‘Korea Herald’ menyebutkan, Tiongkok komunis melanggar hak asasi manusia warganya sudah bukan lagi rahasia, tetapi sampai mereka pun melanggar hak asasi manusia warga perempuan Korea Utara yang melarikan diri ke Tiongkok. Mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat umum.

Pembelot wanita lainnya, Li Hyeonseo pernah secara terbuka mengkritik pemulangan paksa para pengungsi Korut  oleh pemerintah Tiongkok sebagai tindakan yang tidak manusiawi. Hati nurani yang sudah dinodai oleh komunisme, membuat sebagian warga Tiongkok hanya mengejar uang dan kehilangan belas kasih, sungguh menyedihkan.

Li Hyeonseo mengatakan, meskipun ia tidak membenci masyarakat Tiongkok, tetapi membenci pemerintah, politisi dan kebijakan mereka. Ia mengatakan, kebijakan Tiongkok adalah akan menerima uang bila melaporkan pembelot Korut. Kabarnya melaporkan pembelot akan menerima uang antara RMB 3.000 – 5.000 sampai-sampai ada warga Tiongkok yang mengkhususkan diri untuk melaporkan temuan pembelot. Mereka sengaja hidup di daerah yang dekat dengan perbatasan.

“Sungguh menyedihkan” kata Li.

Sampai pada 2012, ada sekitar 200.000 orang pembelot yang menumpang hidup di berbagai daerah di Timur Laut Tiongkok. Pemerintah Tiongkok sampai saat ini masih menganggap mereka sebagai imigran ilegal, bukan pengungsi dan akan dipulangkan ke Korut demi tujuan ekonomi.

Pemerintah Korea Selatan dan masyarakat internasional menyampaikan permintaan agar pemerintah Tiongkok bersikap lebih arif, manusiawi terhadap para pengungsi Korut. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular