Tanaman opium dikatakan sebagai obat penghilang nyeri tertua yang dikenal manusia, di mana cara penggunaannya dijelaskan oleh peradaban kuno. Seperti opium, tubuh membuat sendiri pereda nyeri yaitu endorfin. Opium termasuk golongan obat modern yang disebut opioid yang meliputi morfin, fentanil, metadon, dan oksikodon. Opioid sangat efektif, dan tetap menjadi landasan mengelola nyeri sedang hingga berat.

Sebuah fakta yang telah menarik perhatian media adalah penggunaan resep opioid telah meningkat secara dramatis selama beberapa dekade terakhir. Karena hanya obat yang memiliki bukti ilmiah menjadi popular di akhir abad ke-20, maka ilmu pengetahuan masih meneliti efek jangka panjang yang disebabkan oleh opioid; obat yang lebih tua seperti morfin masih dipakai sebagai obat modern. Akibatnya, kami masih mempelajari hal-hal baru mengenai golongan obat lama ini.

Temuan terbaru adalah bahwa opioid sebenarnya memperburuk nyeri. Saya dan rekan-rekan baru saja menerbitkan sebuah makalah baru dalam Proceedings of the National Academy of Sciences USA menunjukkan bahwa morfin dapat terus-menerus memperburuk nyeri pada tikus. Komunitas medis telah mengakui bahwa opioid dapat menyebabkan sensitivitas nyeri yang abnormal —yang disebut hiperalgesia yang dipicu oleh opioid—tetapi sensitivitas yang dimaksud terjadi saat opioid masih ada di dalam tubuh. Berita baru yang mengejutkan adalah bahwa morfin dapat meningkatkan nyeri selama berbulan-bulan setelah opioid tersebut sudah tidak terdapat di dalam tubuh.

Dengan morfin nyeri berlangsung lebih lama

Kami memicu terjadinya nyeri neuropatik secara eksperimen, yaitu jenis nyeri kronis yang disebabkan oleh kerusakan saraf atau penyakit saraf, pada tikus dengan cara saraf sciatikus di paha dikencangkan secara longgar, yang menimbulkan nyeri yang mirip dengan linu di panggul. Kami mengukur nyeri pada tikus dengan menilai sensitivitas kaki belakang tikus untuk menggaruk filamen plastik yang biasanya tidak mengakibatkan nyeri. Setelah nyeri neuropatik terjadi secara sempurna 10 hari kemudian, tikus diberi morfin atau kontrol saline (air garam) selama lima hari melalui suntikan di bawah kulit. Dari suntikan, obat beredar melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh.

Hasilnya seperti yang kami harapkan, untuk tikus yang telah diberi kontrol saline, nyeri neuropatik akibat pengencangan saraf sciatikus berlangsung selama empat minggu. Namun untuk tikus yang telah diberi morfin, nyeri neuropatik berlangsung selama 10 minggu. Terapi morfin selama lima hari menyebabkan nyeri neuropatik berlangsung dua kali lebih lama!

Sebuah percobaan terpisah dalam penelitian yang sama menunjukkan bahwa morfin juga memperburuk nyeri neuropatik, yang berlangsung selama lebih dari sebulan setelah pengobatan morfin telah berakhir.

Kami juga menunjukkan bahwa morfin itu sendiri tidak memiliki efek perangsang nyeri yang sama—yaitu, ketika tidak ada nyeri neuropatik. Kelompok kontrol palsu tikus menjalani operasi, tetapi saraf sciatikus tidak dikencangkan. Lima hari terapi morfin yang sama menyebabkan nyeri sementara pada kelompok tikus ini, tetapi nyeri berlangsung tidak lebih dari 24 jam. Ini berarti bahwa nyeri yang berlangsung lama tidak disebabkan oleh kecanduan morfin atau penghentian morfin secara tiba-tiba, tetapi disebabkan oleh interaksi antara morfin dengan mekanisme biologis yang mendasari nyeri neuropatik.

Bagaimana morfin memperpanjang nyeri?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus membahas bagaimana nyeri kronis terjadi.

Jika tangan Anda dalam keadaan bahaya, seperti menyentuh panci yang panas, atau terkena ketukan palu, maka kejadian ini dideteksi oleh saraf di kulit dan otot. Saraf mengirimkan sinyal listrik kepada sumsum tulang belakang untuk memperingati adanya bahaya, dan kemudian masuk ke dalam otak. Otak menafsirkan sinyal sebagai ‘aduh’ dan mengirimkan sinyal lain kembali untuk memerintahkan memindahkan tangan dari posisi bahaya.

Ketika saraf ini rusak, beberapa adaptasi dapat terjadi, menyebabkan sensasi nyeri yang dibesar-besarkan, di mana menyentuh disalah artikan sebagai nyeri. Nyeri neuropatik kronis, yang tidak melayani tujuan yang berguna, terjadi ketika adaptasi ini bertahan lama setelah kerusakan yang sebenarnya telah sembuh. Mengapa adaptasi ini bertahan dan menyebabkan nyeri kronis hanya pada beberapa orang saja, tetapi tidak pada orang yang lain, masih belum dipahami dengan baik.

Pengiriman sinyal nyeri yang abnormal ini dipandang sebagai dialog eksklusif antar saraf. Tetapi saraf hanyalah sekitar 10 persen dari otak dan sumsum tulang belakang; 90 persen sisanya adalah sel glial sel, pemelihara kekebalan yang menyediakan dukungan nutrisi untuk saraf, dan membersihkan sisa metabolisme.

Penelitian selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa sel glial melakukan lebih dari sekedar sebagai pemelihara kekebalan. Sel glia mengenali sinyal kimia dari saraf, dan menanggapinya dengan melepaskan sinyal kekebalan kimia yang mempengaruhi komunikasi antar saraf. Karena saraf mengirimkan sinyal nyeri yang abnormal, sel glia memberi respons dengan meningkatkan volume di jalur nyeri tulang belakang, yang menghasilkan adaptasi terhadap sensasi nyeri yang dibesar-besarkan, di mana sentuhan yang dirasakan sebagai nyeri.

Opioid seperti morfin juga merupakan sinyal kimia untuk sel glia. Dalam penelitian terbaru kami, ketika morfin diberikan pada saat terjadi nyeri neuropatik, sel glial bekerja secara berlebihan. Sel glia mengeluarkan lebih banyak sinyal kekebalan, membuat “volume nyeri” muncul lebih tinggi dan lebih lama, daripada ketika sel glia hanya terpapar dengan sinyal dari saraf yang cedera. Jika fungsi abnormal sel glia spinal dihambat dengan obat selama pengobatan morfin, nyeri tidak berkepanjangan.

Respons sel glial yang berlebihan ini menjelaskan mengapa nyeri kronis hanya terjadi pada beberapa orang saja, tetapi tidak pada orang yang lain. Sel glial mereka mungkin telah berulang kali dirangsang dengan sinyal kimia—mungkin morfin, atau sesuatu yang lain seperti infeksi—untuk memperpanjang nyeri dari awal cedera.

Apakah ini lonceng kematian untuk Opioid?

Penelitian kami optimis akan masa depan pengaturan klinis opioid. Dengan terbuktinya bahwa gangguan fungsi sel glial adalah penting untuk morfin untuk memperpanjang nyeri, kami telah mendapatkan jawaban. Opioid akan menghilangkan nyeri jika opiod mencegah saraf untuk menyalurkan nyeri. Pemberian obat lain untuk menghambat aktivitas glia tidak akan menghilangkan nyeri , namun hanya akan memperpanjang nyeri.

Penelitian yang dilakukan oleh rekan-rekan saya juga menunjukkan bahwa menghambat sel glia dapat menghilangkan efek yang tidak diinginkan lainnya seperti kecanduan dan toleransi, yang mengarah kepada kebutuhan untuk terus meningkatkan dosis untuk menghilangkan nyeri. Beberapa laboratorium sedang mengembangkan obat baru untuk menghambat gangguan fungsi sel glial, yang akan meningkatkan manfaat medis dari opioid.

Gambaran besar dan penggunaan untuk manusia

Penelitian yang diterbitkan baru-baru ini memusatkan perhatian pada kondisi yang sangat spesifik: nyeri neuropatik, morfin, kegagalan terapi selama 10 hari, dan tikus jantan. Hasil terbaru kami menunjukkan bahwa nyeri masih berkepanjangan, bahkan ketika variabel ini diubah. Efek serupa diperkirakan terjadi pada opioid lainnya, seperti fentanil dan oksikodon, karena juga merupakan sinyal kimia untuk sel glia.

Penelitian pada tikus ini memiliki implikasi bagi manusia. Penelitian kami didukung oleh laporan klinis yang bermasalah bahwa penggunaan opioid selama operasi atau untuk nyeri punggung bawah akan menyebabkan nyeri kronis dan peningkatan kecacatan. Opioid adalah obat penghilang nyeri terbaik yang tersedia untuk pengelolaan nyeri akut sedang sampai berat, penggunaan golongan obat ini untuk mengatasi nyeri yang berlangsung lebih dari satu tahun tidak memiliki dukungan ilmiah.

Penelitian ini tidak mengisi kesenjangan pengetahuan medis, tetapi harus mendorong peneliti klinis untuk mengevaluasi efek jangka panjang opioid terhadap nyeri. Tatalaksana nyeri yang lebih baik adalah tujuan yang layak diperjuangkan, dan menargetkan gangguan fungsi sel glial mungkin adalah jawabannya.(Epochtimes/ Peter Grace/Vivi)

Peter Grace adalah asisten profesor riset di University of Colorado, AS.

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular