Oleh: Huang Fu Rong

Peralatan perunggu zaman dahulu di Tiongkok, meliputi segala aspek peralatan dalam kehidupan. Mulai dari yang kecil, mata uang, cermin perunggu, pembakar dupa, setrika (masa kerajaan Han dan Wei) dan lampion istana, sampai yang besar, bejana sembahyang untuk ketenteraman negara, alat musik, patung dewata, peralatan kereta, peralatan perang dan lain-lain.

Dari peninggalan sejarah yang tergali dapat diketahui teknologi super tinggi dari peralatan perunggu beberapa ribu tahun silam.

Banyak ragam teknologi pengecoran logam perunggu, penyusunannya juga sangat cerdas. Hal mana memerlukan teknik penyambungan dengan pengecoran, penyolderan dan pengelingan, serta teknik penempelan, pengukiran logam, pemolesan, pemahatan,  peng-etsaan dan lain-lain yang membutuhkan proses operasi sangat terampil, serta kaya pengalaman dalam penguasaan rancang bangun pembuatan cetakannya.

Di antaranya, dunia ilmiah masa kini masih belum mengetahui dengan jelas bagaimana teknik hias peng-etsaan dilakukan pada zaman dahulu. Hiasan pengetsaan pada zaman negara-negara Sedang Berperang Periode Musim Semi dan Gugur (770 SM – 255 SM) terdapat beberapa pedang tembaga dan tombak tembaga yang di atasnya terdapat pola hiasan belah ketupat atau pola lidah api.

Alur pada pola hiasan belah ketupat dibuat dengan peng-etsaan, kemudian dilakukan persentuhan antara benda dasar dengan logam campuran dari tembaga, timah, besi, silikon dan lain-lain, melalui penyebaran pada permukaan persentuhan, terjadilah pola hiasan yang indah dan teratur. Misalnya pedang Raja Goujian dari kerajaan Yue, dan tombak Raja Fuchai dari kerajaan Wu semua memiliki pola hiasan yang di-etsa semacam ini.

Pedang Raja Goujian dari kerajaan Yue (Siyuwj / Wikipedia)
Pedang Raja Goujian dari kerajaan Yue (Siyuwj / Wikipedia)
Pedang Raja Goujian dari kerajaan Yue (Siyuwj / Wikipedia)
Pedang Raja Goujian dari kerajaan Yue (Siyuwj / Wikipedia)

Efek artistik yang diuraikan dalam kitab-kitab kuno seperti “hiasan pola alur kura-kura dan pola air mengalir”, dan “pola garis berbentuk naga dan riak pelangi”, yakni hiasan pada peralatan senjata seperti bintik-bintik terang, loreng harimau, atau yang seperti kulit harimau, atau seperti kulit pohon pinus yang sangat tua, atau seperti langit yang penuh betebarkan bintang dan awan.

Bagian tonjolan dan cekungan memiliki tingkat terang dan gelap yang berbeda, teknik pembuatan hiasan semacam ini sampai sekarang masih merupakan misteri.  

Ribuan tahun tidak berkarat – perembesan air raksa

Pada zaman negara-negara Berperang muncul teknologi “perembesan air raksa” yang kemudian menjadi populer pada masa dinasti Han dan Tang. Cermin tembaga yang mengalami proses hiasan perembesan air raksa, permukaannya berkilauan dengan warna putih perak dan bahkan tidak berkarat selama ribuan tahun, sangat tahan terhadap korosi.

Misteri besar teknik perembesan air raksa sampai tahun 1980-an baru terungkap. Pada permukaan cermin tembaga terdapat lapisan kaya timah sangat tipis setebal beberapa puluh sampai beberapa ratus nano meter (1 nm = 10-6 mm), kadar timahnya mencapai di atas 60%, sedangkan kandungan timah logam campuran kira-kira 24%. Justru karena kadar kaya timah di permukaan ini, maka setelah cermin tembaga dipoles menghasilkan kecerahan yang dapat membedakan penyimpangan yang sangat kecil.

Orang zaman dahulu ketika mendesain cermin tembaga perembesan air raksa, juga telah dengan baik menangani masalah pencegahan karat, lapisan permukaan cermin tembaga yang kaya timah seiring berjalannya waktu, akan lambat laun teroksidasi menjadi sebuah lapisan selaput berbentuk kristal yang transparan dan sangat padat dengan bahan utama oksida timah.

Penyepuhan emas

Teknik yang berhubungan dengan perunggu termasuk teknik penyepuhan emas. Pada masa dinasti Han Barat teknik penyepuhan emas sangat populer, pruduk penyepuhan emas paling awal muncul pada periode “musim semi dan musim gugur serta periode negara-negara sedang berperang”.

Teknik penyepuhan emas kira-kira dapat dibagi menjadi:

1. Gold amalgam Au2Hg (juga dinamakan gold mud)

Emas ditempa dahulu, dipotong ke dalam kepingan-kepingan sebesar 0,1~0,3 mm, dengan perbandingan emas dan air raksa 1 : 6~8. Emas itu kemudian dipanasi sampai temperatur 600~800º C, lalu dengan cepat dimasukkan ke dalam air raksa, diaduk sampai emas larut keseluruhannya, larutan dituangkan ke dalam air jernih yang mendidih, bahan yang tidak murni disingkirkan dan didinginkan, terjadilah bentuk endapan seperti lumpur yang disebut “gold mud”. Disegel untuk disimpan, siap untuk dipakai.

2. Pengolesan dengan emas

Peralatan perunggu dibersihkan dulu dengan air smoked plum atau air prune, menggunakan bagian yang pipih rata dari tongkat emas (nama alat penyepuhan emas) dicelupkan singkat pada larutan campuran dari gold mud, garam serta tawas, secara merata dioleskan pada permukaan peralatan perunggu, setelah secara merata ditekan-tekan lalu dipanggang.

Akhirnya dilakukan burnishing (pressure polishing), yaitu menyikat dengan halus permukaan yang disepuh emas dengan air smoked plum dan air honeylocust fruit, sehingga menampilkan warna emas mengkilat, kemudian dengan alat batu akik yang dicelupkan ke air honeylocust fruit, meratakan permukaan sepuhan dengan penekanan-penekanan.

Sebuah produk sepuhan emas memerlukan pengulangan pengolesan dan pemanggangan 4 ~ 5 kali, bahkan bisa sampai beberapa puluh kali, baru bisa mencapai tingkat ketebalan dan tingkat kehalusan yang dibutuhkan. (wid/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular