Kemarin malam, menutup telepon, seperti biasa saling mengucapkan selamat malam lalu berbaring diatas tempat tidur, tiba – tiba merasa masih kurang mengucapkan satu kalimat, perkataan yang sangat penting, saya bangun dan menelpon kembali, mendengar kamu sedikit terkejut, saya tiba – tiba, berkata dengan canggung dan bodoh: ”Saya ingin memberitahu kamu sesuatu: Saya merasa kita bukan invidu yang sama, juga tidak memiliki hubungan darah, kamu tidak mempunyai kewajiban terhadap saya, oleh sebab itu… terima kasih kamu telah mencintai saya.” Saya dengan sepenuh kekuatan menyelesaikan satu per satu kata. Kamu tertawa terkekeh-kekeh, kamu selalu begitu, tampaknya mengejek kebodohan saya, tetapi saya tahu kamu bermaksud baik, saya juga mengerti hal ini.

“Saya menerima terima kasih kamu.” Kamu berkata. “Karena kamu, jadi saya memiliki tanggung jawab, bagaimanapun kamu sebenarnya mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi kamu malah memberikan kesempatan itu kepada saya, jadi saya juga mau berterima kasih kepada kamu.”

“Ah.” Saya pada saat itu tidak tahu bagaimana harus menjawab, tetapi didalam hati sangat senang.

Kami sekali lagi saling mengucapkan selamat malam, kali ini, saya dapat tidur dengan sangat tenang.

Bukankah demikian! Tidak ada cinta orang terhadap diri sendiri ada kewajiban, kita terlalu sering menempatkan cinta seperti ini, perbuatan yang baik sebagai hal yang sudah semestinya demikian, seharusnya pasangan mengirim bunga pada hari Valentine, seharusnya pasangan mengantar dan menjemput di tempat kerja, seharusnya pasangan merawat ketika sakit, seharusnya pasangan menghibur ketika sedih, Pada kenyataannya, tidak ada satu masalah yang “wajib” demikian, lebih banyak memberi perhatian terhadap pengorbanan pihak lain, orang yang benar – benar saling mencintai harus saling memperlakukan pasangannya dengan baik.

Ada satu kali, saya bertanya kepadanya:” bagiamana jika suatu hari perasaan cinta kita sudah tidak ada?” Saya khawatir, takut cinta menghilang terlalu cepat.

Dia masih dengan tertawa menjawab: ”Kita tidak hanya memiliki cinta, juga memiliki budi.”

Betul! Seperti teman saya yang tidak mengerti kenapa ayahnya bisa mencintai ibunya begitu lamanya, sampai pada umur 23 tahun akhirnya dia bertanya kepada ayahnya.

“Masih ada budi! Itu bisa membuat kamu dengan alami setiap saat memikirkan pihak lain.” Oleh sebab itu pasangan tua ini pada akhir bulan masih bersama-sama pergi ke restoran dan nonton film.

Walaupun bersama dia hanya berhubungan lewat telepon sehari sekali karena dinas luar kota, tetapi saya menghargai dan juga berterima kasih, selain itu, siapa yang bisa mempedulikan kamu dengan menelepon ditengah malam? Cinta, jangan terlalu buta, dapat menderita. Jangan menghabiskan banyak waktu untuk melihat diri sendiri, lihat pihak lain, bersama – sama melihat kedepan baru mendapatkan kebahagiaan! Terkadang, juga berterimakasihlah kepada orang yang menemani Anda bersama-sama berjalan!

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular