JAKARTA – Laporan yang dikeluarkan oleh Greenpeace Internasional menyebut perusahaan sawit raksasa Malaysia, IOI mengambil keuntungan dari kebakaran gambut, penghancuran hutan, serta mempekerjakan anak-anak dan terus memasarkan produknya hingga Eropa dan Amerika.

Minyak sawit yang dipasok oleh kelompok IOI dari kebun mereka sendiri dan pemasok pihak ketiganya di Indonesia memiliki catatan buruk terhadap lingkungan dan hak asasi manusia. IOI diperkirakan adalah perusahaan sawit terbesar ketiga di dunia.

Para investigator Greenpeace Internasional menganalisa data dari pemasok IOI sendiri dengan analisis satelit dan laporan dari organisasi-organisasi masyarakat sipil. Laporan ini mengungkap  beberapa kelompok perusahaan yang terkait dengan masalah lingkungan serius dan pelanggaran hak asasi manusia.

Berikut daftar pelanggaran IOI :

  • Penggundulan hutan, termasuk hutan primer di Papua (Austindo Nusantara Jaya, Eagle High, Goodhope, Korindo) dan di Kalimantan ( Eagle High, Indofood, TH Plantations)
  • Pengembangan kebun di lahan gambut ( Eagle High, Goodhope, TH Plantations)
  • Kebakaran hutan luas yang tak terkendali (Eagle High, Indofood, Korindo) termasuk penggunaan api secara sengaja dalam penggundulan hutan (Korindo)
  • Eksploitasi para pekerja termasuk bukti penggunaan tenaga kerja di bawah umur (Eagle High, Indofood)
  • Pelanggaran HAM, termasuk membangun kebun tanpa FPIC (persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan)) dengan masyarakat adat atau lokal (Austindo Nusantara Jaya, Goodhope) dan penggunaan secara luas aparat militer dan polisi bersenjata di lapangan (Eagle High, Goodhope)

Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Annisa Rahmawati mengatakan IOI gagal melakukan tindakan atas hasil pemeriksaan yang paling dasar terhadap para pemasoknya, sementara tetap menjanjikan bahwa minyak sawitnya bersih.  Begitu juga jika para perusahaan konsumen hanya mengandalkan RSPO untuk memastikan bahwa mereka tidak terkena risiko lingkungan dan hak asasi manusia.

Bahkan dalam kasus perusahaan seperti IOI, perusahaan-perusahaan telah terperdaya. Kenyataannya adalah merek-merek terkenal yang terus membeli dari IOI akan terkena risiko besar. Menurut Anisa, lebih dari dua lusin perusahaan konsumen termasuk Unilever, Mars dan Nestlé telah membatalkan kontraknya dengan IOI tahun ini.

Anisa menilai keputusan tiga merek besar yang menolak berurusan dengan IOI ini harus menjadi peringatan bagi pedagang minyak sawit bahwa mereka harus segera membersihkan perilaku bisnisnya. “Bagi industri kelapa sawit Indonesia yang ingin maju, mereka seharusnya menyadari  kenyataan bahwa jaringan pasar global di mana kejahatan dan skandal tidak lagi bisa disembunyikan apalagi diabaikan,” pungkasnya. (asr)

Share

Video Popular