Pembelotan tentara Korea Utara melalui garis demarkasi militer kembali terjadi. Militer Korea Selatan mengatakan bahwa seorang tentara Korut pada Kamis (29/9/2016) siang sekitar pukul 10.00 waktu setempat, melakukan pembelotan dengan cara melintasi bagian timur dari garis demarkasi militer. Ia kemudian menyerahkan diri kepada tentara penjaga perbatasan Korea Selatan.

Yonhap mengutip pemberitaan dari Kepala Staf Gabungan Korea Selatan melaporkan bahwa tentara Korut tersebut tidak membawa senjata api ketika membelot, juga tidak terjadi tembak menembak antar kedua belah tentara penjaga perbatasan saat ia melintasi garis demarkasi militer.

Laporan menyebutkan, militer Korea Selatan memastikan keamanan pribadi si pembelot, dan akan melakukan investigasi bersama badan intelijen nasional untuk menguak secara rinci tentang identitas, motif dan proses pembelotan yang bersangkutan.

Militer Korea Selatan mengatakan bahwa pihaknya tidak menemukan adanya tanda-tanda yang mencurigakan sebelum dan sesudah munculnya insiden pembelotan tersebut. Meskipun berjanji akan secara saksama memantau setiap gerak-gerik pihak Utara yang mungkin saja terjadi.

Setahun yang lalu, tepatnya 15 Juni 2015, seorang tentara Korea Utara juga membelot ke Selatan dengan cara melewati garis demarkasi militer di sebelah timur. Memanfaatkan gelapnya malam untuk bersembunyi semalaman di dekat pos penjaga perbatasan Korea Selatan yang kemudian tertangkap.

Agustus tahun ini, tentara penjaga perbatasan Korea Selatan menemukan sejumlah ranjau darat yang ditanam di Panmunjom bagian utara, di sekitar jembatan yang dijuluki sebagai jembatan bagi mereka yang tidak bersedia pulang. Ranjau ditanam di daerah bebas militer tersebut dengan maksud untuk mencegah tentara Korut melarikan diri ke Selatan.

Perjanjian Gencatan Senjata Perang Korea pada Juli 1953 menetapkan, kedua pihak tidak diperkenankan untuk menanam ranjau di kawasan bebas militer daerah Panmunjon, termasuk dimasuki oleh anggota tentara dengan membawa segala jenis senjata. Namun, tentara Korut menanam ranjau di Panmunjon adalah untuk pertama kalinya sejak usai perang, menunjukkan bahwa propaganda via loudspeaker yang dilakukan oleh Korea Selatan di daerah perbatasan memang berhasil menggoyahkan ‘iman’ tentara Korut.

Menurut statistik, sejak tahun 2010 hingga sekarang, sudah ada lebih dari 60 orang anggota sipil dan militer yang membelot ke Selatan melalui garis demarkasi militer (Military Demarcation Line, MDL) di darat, dan garis batas utara (Nortern Limit Line, NLL) di laut.

Dari catatan awal milik Kementerian Unifikasi Korea Selatan yang diumumkan diketahui bahwa, sejak Januari hingga Agustus tahun ini pembelot Korut yang sudah tiba di Korea Selatan berjumlah total 894 orang, meningkat sebanyak 15 % dari angka tahun lalu. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular