Pengobatan modern sering menolak herbal yang bernilai dalam mengobati penyakit. Tetapi ramuan tradisional Tiongkok yang dikenal sebagai thunder god vine (lei gong teng) memiliki cerita yang berbeda. Selama beberapa dekade, peneliti telah meneliti thunder god vine dengan harapan mengubahnya menjadi obat yang aman untuk mengobati AIDS, psoriasis, kanker, dan banyak lagi.

Hambatan terbesar untuk produsen obat tradisional dan obat modern adalah thunder god vine sangat beracun. Nama lain thunder god vine adalah qi bu si, yang artinya “tujuh langkah mati.”

Penggunaan secara tradisional

Thunder god vine tumbuh di Tiongkok , Burma, Jepang, dan negara Asia Timur lainnya. Telah digunakan sejak lebih dari 400 tahun yang lalu untuk mengobati nyeri sendi, pembengkakan, dan masalah kulit. Sampai saat ini thunder god vine masih digunakan secara luas di Tiongkok untuk mengobati artritis dan penyakit autoimun yang secara konvensional diobati dengan obat kortikosteroid seperti prednison. Tidak mempengaruhi kelenjar adrenal.

Ada banyak ramuan tradisional Tiongkok lain yang digunakan untuk mengobati artritis, peradangan, dan penyakit autoimun, meskipun tidak satupun dari ramuan tradisional tersebut bekerja sebaik thunder god vine.

Seluruh tanaman thunder god vine sangat beracun. Bagian tanaman thunder god vine yang berada di atas tanah (daun, batang, dan bunga) terlalu beracun untuk digunakan sebagai obat. Radang ginjal telah terjadi pada anak-anak setelah makan madu yang berasal dari lebah yang mengambil nektar dari bunga thunder god vein.

Hanya akar tanaman thunder god vine (yang memiliki konsentrasi racun saraf yang lebih rendah) digunakan sebagai obat, dan itupun harus menjalani banyak proses sebelum aman untuk dikonsumsi. Dalam persiapan secara tradisional, akar tanaman thunder god vine dilucuti dari kulit kayunya yang beracun, disimpan selama berbulan-bulan, kemudian direbus selama berjam-jam untuk mengurangi racunnya.

Meskipun beracun, peneliti modern percaya bahwa thunder god vine sangat berpotensi sebagai obat. Percobaan awal terhadap thunder god vine mengungkapkan senyawa di dalam thunder god vine berpotensi mengobati penyakit yang sulit disembuhkan. Misalnya, saat ini sedang dilakukan uji klinis di National Institute of Health untuk pengobatan AIDS.

Thunder god vine berfungsi menekan kekebalan tubuh sehingga telah digunakan untuk mengobati penyakit autoimun (seperti lupus dan sklerosis multiple), dan dalam transplantasi organ, di mana tubuh secara alami cenderung untuk menolak jaringan asing.

Bukti terkuat menunjukkan thunder god vine sangat efektif dalam mengobati nyeri sendi. Satu penelitian menunjukkan bahwa ekstrak thunder god vine lebih efektif daripada obat metotrexat dalam mengobati artritis rheumatoid. Namun, sebagian besar orang menunjukkan perbaikan ketika mengonsumsi gabungan ekstrak thunder god vine dan obat metotrexat.

Sayangnya, percobaan  menunjukkan kecenderungan terjadinya efek samping, seperti kram perut, diare, rambut rontok, dan kejang. Beberapa reaksi efek samping ini dapat menjadi sangat serius. Dalam sebuah penelitian yang meneliti khasiat thunder god vine dalam mengobati psoriasis, beberapa peserta penelitian mengalami gagal ginjal akut dan penekanan pembuatan sel kekebalan tubuh di sumsum tulangnya. Reaksi efek samping ini terjadi pada dosis yang wajar untuk waktu singkat. Dosis tinggi diketahui telah menyebabkan koma atau bahkan kematian.

Beberapa peneliti juga telah mempertimbangkan efek samping mungkin saja terjadi selama pengobatan menggunakan thunder god vine. Pada 1980-an, peneliti menunjukkan bahwa thunder god vine sebagai alat kontrasepsi, karena wanita yang mengonsumsinya dalam jangka waktu panjang sering tidak mengalami mestruasi, dan beberapa pria mengalami penurunan jumlah sperma. Lebih baik menggunakan metode kontrasepsi yang lebih aman dan lebih efektif yang tersedia daripada menggunakannya sebagai alat kontrasepsi.

Obat kanker

Dalam penelitian terhadap hewan, terbukti thunder god vine sangat menjanjikan sebagai obat berbagai jenis kanker, namun masih memiliki hambatan.

Selama bertahun-tahun, para peneliti di John Hopkins University School of Medicine telah memusatkan perhatiannya pada isolat thunder god vine yang dikenal sebagai triptolid. Peneliti menemukan bahwa triptolid menghentikan pertumbuhan sel kanker dan membasmi sel kanker yang berkembang, baik dalam sel kanker yang sengaja ditumbuhkan di laboratorium maupun sel di dalam tubuh binatang yang menderita kanker. Namun, triptolid gagal bekerja dengan baik pada penderita kanker karena triptolid membunuh sel tubuh yang sehat maupun sel tumor, dan tidak bercampur sempurna di dalam air atau darah.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim menggabungkan triptolid dengan glukosa —suatu kombinasi yang baik. Ringkasan penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal Angewandte Chemie dan secara online pada tanggal 30 Agustus 2016. Penemuan ini merupakan langkah maju ke depan, tetapi belum memecahkan masalah.

“Kami masih harus menempuh jalan yang panjang sebelum menguji derivatif triptolid pada manusia. Gabungan triptolid dengan glukosa sangat larut dalam air dan lebih suka untuk menyerang sel kanker daripada sel tubuh yang sehat, “kata Dr. Juni O. Liu, profesor farmakologi dan ilmu molekuler di Johns Hopkins University School of Medicine dalam sebuah pernyataan.

Meskipun ekstrak thunder god vein dapat dibeli secara online dan di beberapa toko kelontong Asia, ekstrak  ini harus ditangani secara hati-hati. Aturan makan ekstrak thunder god vein yang terbaik sebaiknya diberikan oleh seorang profesional medis yang berpengalaman menggunakannya secara klinis. Para ahli menyarankan bahwa orang yang mengkonsumsinya harus memantau fungsi ginjalnya selama mengkonsumsinya.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular