Pernah ada seorang pemuda tunawisma yang pergi ke sebuah kuil di mana ia cukup beruntung karena dapat diterima di situ. Setelah dia mandi dan mencukur kepalanya, ia tampak cukup menarik.

Biksu kepala kuil merawatnya dan mengajarinya pelajaran dasar. Dia cukup pintar dan rajin, dan segera biksu itu membiarkan dia membaca tulisan suci.

Namun, biksu muda ini memiliki beberapa kebiasaan yang menjengkelkan. Ketika ia belajar beberapa kata dalam Kitab Suci, ia menulisnya di seluruh halaman dan dinding. Begitu juga, jika ia menjadi tercerahkan tentang sesuatu, dia akan membual tentang hal itu di depan biksu  dan para biarawan lainnya. Selain itu ia tidak sabar, sombong, dan egois.

Biksu berpikir tentang situasi itu untuk sementara waktu, dan memutuskan untuk membantu biksu muda tersebut agar dapat mengubah cara hidupnya. Suatu hari, biksu kepala memberi biksu kecil sebuah pot bunga primrose yang hanya mekar di malam hari sehingga ia bisa mengamati pada malam hari saat ia sedang bertugas.

Keesokan paginya, biksu muda mengambil pot bunga itu dan membawanya ke biksu kepala. Dia berkata dengan suara keras pada biksu kepala dan biarawan lain, “Pot bunga yang Anda berikan ke saya benar-benar indah. Bunga-bunga membuka kelopaknya di malam hari dan berbau wangi menyenangkan, dan di pagi hari, bunga menutup kelopaknya.”

Mendengar penuturan itu biksu kepala menjawab dengan lembut, “Ketika membuka di malam hari, apakah telah membangunkanmu?”

“Oh, tidak, guru, itu sangat tenang ketika membuka dan menutup,” jawab biksu muda.

“Oh, begitu? Saya pikir ketika bunga mekar, mereka akan membuat banyak suara untuk pamer,” kata biksu kepala dengan suara lembut.

Biksu muda itu terdiam selama beberapa detik sebelum menanggapi dengan ekspresi malu, “Guru, saya mengerti sekarang, dan saya berjanji untuk memperbaiki kesalahan saya.”  (ran)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular