Warga desa Wukan bernama Zhuang Liehong memrotes tindakan tidak manusiawi yang dilakukan pihak berwenang Guangdong, Tiongkok terhadap warga desa Wukan.

Aksi protes itu dilakukan di taman depan markas besar PBB., dengan membentangkan spanduk berturut-turut selama beberapa hari sejak 19 September 2016 lalu.  Spanduk protes berisi foto-foto bukti kekerasan.

Petisi bertujuan meminta bantuan PBB untuk mendesak pihak berwenang Tiongkok untuk menghentikan penindasan terhadap para aktivis yang membela hak warga serta segera melepas lebih dari 70 orang warga yang ditangkap serta bertanggung jawab terhadap ratusan warga yang terluka akibat kekerasan petugas.

Dinas Kepolisian Lufeng, Wukan melalui ayahanda Zhuang Liehong yang masih dalam tahanan kepolisian untuk menyampaikan pesan agar Zhuang Liehong yang berada dalam pengasingan segera menghentikan aktivitas menuntut hak dari negeri orang, namun hal itu ditolak oleh ayahnya.

Radio Free Asia melaporkan bahwa Zhuang Liehong yang sedang berada di pengasingannya di AS pada 25 September dalam sebuah wawancara telepon mengatakan, “Pada 20 September malam jam 10 kurang 5 menit saya menerima sebuah panggilan telepon jarak jauh dari Dinas Kepolisian Lufeng, Wukan yang kemudian meminta ayah saya berbicara dengan saya setelah mengkonfirmasi bahwa saya adalah Zhuang Liehong. Saya tanya bagaimana kondisi ayah sekarang? Ia mengatakan bahwa dirinya dan rekan-rekan semua baik-baik saja. Kemudian ia menegaskan kepada saya agar menjauhi orang-orang di luar (permasalahan) itu, jangan berbuat yang macam-macam, dan berhati-hati supaya tidak dimanfaatkan oleh pihak tertentu, karena itu nantinya bisa merugikan keluarga kita”.

Ayah Zhuang Liehong bernama Zhuang Songkun ditangkap petugas Kantor Keamanan dan Ketertiban Publik Wukan pada 13 September dini hari pukul 03:00 waktu setempat karena aktif membela hak warga Wukan. Ia kemudian resmi ditahan dengan dakwaan membuat kacau lalu lintas dan mengganggu ketertiban umum.

Pembicaraan telepon itu membuat Zhuang Liehong marah.

“Bukankah mereka berbuat baik tetapi tetap menahan Anda. Anda tidak perlu takut karena tidak berbuat yang melanggar hukum. Apa yang saya lakukan di sini, Ayah tak perlu khawatir apalagi ikut campur tangan. Saya tegaskan bahwa selain anggota keluarga saya dan warga kampung Wukan, tidak akan ada orang lain yang bisa memanfaatkan diri saya. Beritahu mereka (Kantor Keaman dan Ketertiban) agar tidak perlu lagi bertelepon ke mari. Bila mereka masih berani menahan Anda, biarkanlah mereka !”

Pengasingan di AS

Zhuang Liehong meninggalkan Tiongkok setelah pihak berwenang meluncurkan tindakan penumpasan besar-besaran terhadap para aktivis yang membela perampasan tanah milik warga. Ia mengatakan bahwa pihak berwenang mengeluarkan ancaman lewat sanak famili aktivis agar menghentikan perjuangan membela hak bukan lagi hal aneh. Itu sudah kerap kali mereka lakukan.

“Karena protes, pembeberan fakta yang saya lakukan di depan markas besar PBB pada 19 September ini membuat mereka merasa tertekan. Jadi otoritas memberitahu ayah saya bahwa lihatlah itu putra Anda yang sekarang berada di luar negeri, sedang berupaya untuk menumbangkan pemerintah dengan cara berkolusi dengan kekuatan asing, atau menghasut kebencian etnis …. untuk mengintimidasi saya. Ayah saya seumurnya hidup dalam nelayan dengan cara berpikir yang sederhana. Dalam pusat penahanan hubungan dengan dunia luar pasti diputus. Bagaimana ia mngetahui kalau sekretaris partai Lin Zulian sudah dipaksa mengakui bersalah, padahal yang terjadi adalah ia baru mengaku bersalah setelah cucunya ditangkap,” katanya.

”Model Wukan tidak akan bisa direalisasikan”

Total lebih 3.200 are tanah di desa Wukan dialihkan ke pihak lain tanpa sepengetahuan warga. Hal itu dilakukan  oleh pamong desa Wukan demi keuntungan pribadi, dan ingin mencaplok dana penjualan yang sebesar RMB 700 juta lebih. Warga dari mengajukan keberatan sejak 2011 sampai sekarang melakukan protes ramai-ramai terus mendapatkan penindasan keras.

Pernah suatu saat otoritas Guangdong mengambil langkah sedikit mengalah. Pada 1 Februari tahun berikutnya, warga diberi kesempatan untuk mengusung perwakilan demi kepentingan mereka berdialog dengan otoritas.

Saat itu, model Wukan dianggap sebagai model yang berhasil dilakukan oleh aktivis HAM untuk membela kepentingan rakyat kelas bawah. Namun setelah 5 tahun berlalu, perwakilan yang diusung warga, Lin Zulian tiba-tiba dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun 1 bulan karena ‘menerima suap’. Hal tersebut memicu unjuk rasa warga dan penindasan otoritas.

Menurut Zhuang Liehong, polisi pada 17 September datang ke rumah ibunya untuk merampas ponsel. Sejak siang hari 13 September, jaringan komunikasi desa Wukan diputus sehingga warga sangat sulit untuk berhubungan dengan dunia luar.

“Selama 2 tahun di AS, ia mencoba untuk merendah,” kata Zhuang Liehong.

Tetapi melihat warga menuntut haknya terus menerus mendapat perlakuan tidak manusiawi, ia pun tidak ingin terus berdiam diri. Dalam surat terbuka yang ia kirimkan ke PBB ia meminta bantuan PBB untuk mendesak otoritas Guangdong menghentikan penindasan terhadap warga dan penangkapan para aktivis.

Seorang pembangkan asal provinsi Anhui bernama Shen Liangqing percaya bahwa ‘Model Wukan’ tidak mungkin bisa terealisir dalam lingkungan yang otoriter.

“Ketika itu, Wang Yang yang menjadi pemuka di Guangdong juga tidak menggunakan cara kekerasan seperti yang dilakukan oleh Hu Chunhua (Sekretaris Komite Propinsi Guangdong) sekarang. Itu karena ia memiliki pertimbangan oportunistik, ia berharap untuk menggunakan cara yang relatif fleksibel untuk memecahkan masalah yang mungkin secara politik akan lebih menguntungkan dirinya. Pada waktu itu terasa seperti perjuangan para aktivis membela kepentingan warga Wukan sudah terlihat ada hasilnya,” katanya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular