Di lingkungan masyarakat yang keras, setiap orang hidup dalam suasana tegang dan tekanan, sehingga emosi negatif yang ditimbulkan dari persaingan pun secara perlahan-lahan akan membuat kesabaran seseorang menjadi buruk, temperamental,masalah kecil saja bisa jadi seketika meledakkan amarahnya bak halilintar. Emosi Anda mungkin akan menyakiti orang-orang sekitar, atau membuat Anda kehilangan dalam hubungan pergaulan di tempat kerja. Apakah manifestasi dari emosi yang meledak-ledak ini merupakan “temperamen yang buruk” atau mengidap “gangguan bipolar ” ?

Stres menyebabkan gangguan endokrin

Tekanan-stres yang berlebihan atau represi (upaya individu menyingkirkan frustrasi, konflik batin dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan) dapat menyebabkan gangguan pada hormon wanita, hormon tiroid, ketidakseimbangan kortisol kortisol, dan mencerminkan emosi yang negatif. Ada yang mengalami gejala sejenis depresi karena ketidakseimbangan hormon stres.

Temperamen (cepat marah) tidak sama dengan gangguan bipolar (salah satu masalah kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis), temperamen merupakan suatu perasaan, adalah satu sisi dari fungsi spirit (roh, jiwa, dan semangat) manusia. Stres, perasaan cemas, depresi, gangguan bipolar semua ini berkemungkinan membuat emosi seseorang menjadi temperamental, bahkan gangguan insomnia.

Suka marah-marah termasuk generalized anxiety disorder (gangguan kecemasan menyeluruh)

Sebagian besar orang yang suka marah-marah tidak jelas itu merupakan gangguan kecemasan menyeluruh, adalah penyakit mental yang paling umum ditemui. Gangguan kecemasan adalah gejala pokok dari kegelisahan dan ketakutan, yang jelas berdampak pada kehidupan sehari-hari dan fungsinya, yang secara perlahan-lahan menjadi kronis, dan tidak mudah disembuhkan. Dan morbiditas kaum perempuan adalah sekitar 2 kali lipat lebih besar dari laki-laki.

Manifestasi dari gangguan kecemasan menyeluruh antara lain : Tidak dapat mengontrol kecemasan yang berlebihan, tidak sabar, lekas marah, insomnia, gelisah, sulit berkonsentrasi, gejala nyeri secara fisik. Sementara gejala dari penderita gangguan bipolar antara lain tidak sabar, sensitif (mudah tersinggung, marah), mudah mengalihkan perhatian, rasa percaya diri yang berlebihan, impulsif tinggi (perilaku yang tiba-tiba berubah dan di luar rencana), berlebihan dalam mengambi risiko dan sebagainya.

Gangguan bipolar adalah suatu gangguan suasana hati yang terdiri dari fase gangguan bipolar dan fase depresi, yang dikenal sebagai “bipolar affective disorder”, penderita akan menunjukkan kegelisahan secara pemikiran, suasana hati dan aktivitas pada waktu yang berbeda, misalnya dari fase gangguan bipolar hingga fase depresi, suasana hatinya dari tinggi (suasana hati baik) menjadi rendah (suasana hati buruk), pemikiran atau gagasannya yang awalnya banyak menjadi mantok, demikian juga dengan tindakannya akan terus mengarah pada pengisolasian diri. Dan tidak tetutup kemungkinan gangguan bipolar dapat menyebabkan retaknya hubungan, buruknya performa kerja atau studi.

Bipolar adalah salah satu kelainan jiwa yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim secara mendadak.

Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (manik) dan kesedihan (depresif) yang berlebihan tanpa pola atau waktu dan sebab yang pasti.

Seseorang yang menderita gangguan bipolar memiliki ayunan perasaan (mood swings) yang ekstrim dengan pola perasaan yang mudah berubah secara drastis.

Suasana hati meningkat secara klinis disebut sebagai mania, atau di saat ringan disebut hipomania /depresif.

Gejala ringan dari mania antara lain waktu tidur berkurang, suka menghamburkan uang, banyak bicara, banyak gagasan, dan mudah mengalihkan perhatian (terganggu), mudah marah karena hal-hal di sekitar, dan tidak peduli apapun objeknya, amarahnya akan meledak-ledak bak guntur di siang hari hanya karena masalah sepele di tempat umum.

Seseorang yang mudah naik pitam karena resah gelisahnya, obyek yang dilampiaskannya hanya sebatas pada anggota keluarga mereka, karena takut pandangan mata orang lain, sehingga ia justru akan tampak sangat disiplin dan mengekang diri di depan umum.

Para ahli menyarankan, bagi mereka yang pemarah, emosi (suasana hati) yang tidak stabil, hindari melihat berita negatif, sebaliknya sering-seringlah menyaksikan hal-hal yang menyenangkan, hal ini dapat membimbing pemikiran dan suasana hati kita. Saat liburan, jangan lupa jalan-jalan sejenak ke luar kota dan dekati alam sekitar, alam bisa membuat jiwa kita terasa nyaman dan melepaskan stres. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular