- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Pasca Kebijakan 2 Anak, Angka Kematian Ibu Hamil di Tiongkok Naik 30 %

Tahun ini pemerintah Tiongkok memberlakukan kebijakan 2 anak. Banyak ibu-ibu muda tertarik untuk memiliki anak lebih dari satu, bahkan ibu-ibu yang berusia sekitar 40-an tahun pun ingin menambah anggota baru buat keluarganya.

Namun menurut sumber-sumber Dinas Kesehatan Nasional dan Komisi Keluarga Berencana Tiongkok, sejak kebijakan tersebut sepenuhnya diterapkan, angka kematian ibu hamil justru menunjukkan kenaikan. Pada paro pertama tahun ini saja, tingkat kematian ibu hamil sudah naik 30.6 % dari periode yang sama tahun lalu.

Dari data yang dilaporkan oleh Komisi Perencanaan Kesehatan Nasional Tiongkok diketahui bahwa setelah implementasi penuh dari kebijakan 2 anak tahun ini, angka kematian ibu hamil pada semester 1 tahun ini adalah 18.3/100.000 orang. Angka itu naik 30.6 % dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, tetapi pada dasarnya sama dengan angka pada periode yang sama tahun 2014.  Data itu menunjukkan bahwa pemerintah Tiongkok belum berhasil untuk melindungi keamanan ibu dan anak.

Mengapa angka kematian ibu hamil di Tiongkok tiba-tiba naik?

Ada pendapat yang mengatakan bahwa itu akibat dari pengaruh liberalisasi kebijakan 2 anak. Menurut pandangan tersebut, setelah kebijakan dirilis banyak ibu-ibu tertarik untuk menambah anak tetapi kesuburan mereka sudah mengalami keterbatasan akibat kebijakan 1 anak, sehingga sulit hamil, menambah jumlah proporsi ibu yang sudah melewati masa melahirkan anak. Akibatnya angka kematian menjadi naik.

Pakar demografi Tiongkok Wang Wenzheng menduga bahwa selain ibu yang sudah melewati masa melahirkan anak itu adalah faktor utama, tetapi kondisi defisiensi medis juga tidak boleh dikesampingkan sebagai faktor penunjang.

Wakil Direktur Komisi Perencanaan Kesehatan Nasional, Ma Xiaowei menjelaskan bahwa selama 6 bulan setelah kebijakan 2 anak dirilis, jumlah kelahiran bayi meningkat secara signifikan. Jumlah ibu yang sudah melewati masa melahirkan anak juga meningkat tajam. Memang pelayanan kesehatan ibu dan anak, kualitas dan sumber daya layanan menjadi tantangan baru bagi pemerintah Tiongkok untuk ditingkatkan.

Ia menambahkan bahwa saat ini pemerintah memang masih kekurangan tenaga profesional dan teknis di bidang ilmu kedokteran obstetri dan spesialisasi bayi dan anak. Sehingga dalam penanganan perubahan kondisi kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang cepat dan beresiko tinggi ini memang cukup kualahan.

Pihak rumah sakit harus memeras otak karena selain tenaga ahli yang memang terbatas, dunia kebidanan yang membutuhkan investasi yang besar tetapi dengan pengembaliannya yang relatif kecil juga menjadi masalah untuk diatasi.

Seorang netizen asal Beijing berkomentar bahwa angka kematian memiliki hubungan langsung dengan kondisi teknis dari jaminan kesehatan yang diberikan, itulah sebabnya angka kematian ibu hamil di negara maju lebih rendah. Ada beberapa pembaca mengeluhkan, “Gara-gara kebijakan 1 anak bukan? Pada saat usia subur tidak boleh melahirkan, sekarang ingin punya anak lagi, terancam nyawa melayang. Inilah nasib kita-kita ini yang hidup di kerajaan surga.” (Sinatra/rmat)