JAKARTA – Polda Jawa Timur menetapkan Taat Pribadi atau dikenal Kanjeng Dimas Taat Pribadi sebagai tersangka pembunuhan anak buahnya, Ismail Hidayat dan Abdul Ghoni. Taat pribadi yang kini menjadi buah bibir juga ditetapkan sebagai tersangka penipuan dengan modus penggandaan uang.

Kenapa tidak menjadi buah bibir, bahkan sosok Taat Pribadi yang tenar dengan nama Ki Kanjeng Dimas Taat Pribadi ini memiliki ribuan murid yang tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Tentunya, kehadiran mereka setelah menyetor uang ratusan juta hingga milyaran rupiah dengan maksud melipatgandakan jumlah harta yang mereka miliki.

Bahkan dalam kasus Taat Pribadi, seorang sosok pakar ICMI dan mantan Anggota DPR RI, Marwah Daud Ibrahim, Ph.D mengakui sebagai murid Taat Pribadi. Tak tanggung-tanggung, Marwah menjabat sebagai Ketua Yayasan Padepokan Taat Pribadi di Dusun Cengkelek, Desa Wangkal, Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Marwah Daud ketika diwawancarai wartawan dari sejumlah media mengatakan bahwa memang benar Taat Pribadi memiliki kemampuan meliapatgandakan uang.  “Ini tidak ilmiah. Bukan dimensi (ilmiah)yang kita pakai. (Tapi) Dimensi yang kita lihat dan Anda yakin.  Faktanya begitu,” kata Marwah kepada wartawan.

Pemerhati sosial yang mengajar pada berbagai universitas dan perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur,  Hepiyanto menuturkan memang ada orang yang melakukan praktek tak lazim atau menyesatkan masyarakat dengan menggunakan pelindung agama. Bahkan, kata Hepi, dalam praktek  Taat Pribadi menggunakan agama untuk melegalkan aksinya di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Hepi, pada kejadian ini menjadi pembelajaran kepada masyarakat tentang sisi lain pola pikir dan pemahaman masyarakat Indonesia. Pada kasus ini, korban cenderung bisa dikatakan sebagai orang-orang yang ingin instan memperoleh harta tanpa mengindahkan norma-norma aturan agama. Bahkan tanpa memperhatikan seseorang yang secara instan  menjadi tokoh sehingga terperdaya sosok ketokohan seseorang.

Oleh karena itu, lanjutnya, sudah semestinya elemen dan tokoh masyarakat mewaspadai dan memberikan perhatian kepada masyarakat sekitar. Apalagi sudah muncul aliran atau paham yang hanya dijadikan kedok untuk memperkaya diri melalui ritual-ritual yang menyimpang dari norma-norma kebenaran.

“Sekarang ini orang ingin untuk mendapatkan sesuatu yang serba instan tanpa mengindahkan norma aturan agama,  kurang mau berusaha untuk cek dahulu sebelum menentukan pilihan,” katanya ketika dihubungi Erabaru.net.

Kejadian pada Taat Pribadi bukan tanpa cacat dan keganjilan yang dialami para murid-murid mereka.  Sebagaimana ditulis Viva.co.id, almarhum Kasianto, yang sebelumnya adalah korban Taat Pribadi meninggal dunia pada Maret 2015. Korban mengalami kejadian aneh setelah meminum air yang diberikan oleh Taat Pribadi.  Keadaan yang dialami oleh almarhum Kasianto adalah seluruh kuku tangan dan kaki korban menghitam.

Hal sama juga dialami oleh almarhumah Najmiah Muin, korban Taat Pribadi asal Makassar, Sulawesi Selatan yang mengalami kerugian Rp 200 miliar. Korban dalam kejadian ini sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura. Penuturan keluarga korban, Najmiah mengalami keadaan kukunya melepuh setelah meminum air pemberian Taat Pribadi.

Taat Pribadi diciduk oleh polisi Kamis (22/9/ 2016)  di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang beralamatkan di Rt 22 Rw 08 dusun Sumber Cengkelek Desa. Wangkal Kecamtan Gading, Probolinggo, Jawa Timur. Kegiatan dipimpin langsung Wakapolda Jatim Brigjen Pol Gatot Subroto dengan 6.000 personil.

Polisi menciduk Taat Pribadi setelah sebelumnya ditetapkan sebagai DPO dikarenakan menolak hadir diperiksa kepolisian.  Taat Pribadi dijerat Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP jo pasal 55,56 KUHP karena sengaja menyuruh menghilangkan nyawa orang lain. Pada kejadian ini, Abd Ghoni sebelumnya berencana untuk membongkar rahasia padepokan yakni kedok penipuan penggandaaan uang.

Temuan kepolisian, mayat Abdul Ghani ditemukan di bawah Jembatan Kedung Ireng, Sendang, Wonogiri, Jawa Tengah 14 April 2016. Sedangkan mayat Ismail dibuang di hutan di Situbondo setahun sebelumnya. Kedua korban meninggal secara tragis yakni kedua leher korban dijerat dengan tali dan dibungkus dengan plastik kresek. Abdul Ghoni dan Ismail sebelumya adalah pengepul uang di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.  (asr)

Share

Video Popular