Saat liburan musim panas di Jepang baru-baru ini, para orang tua juga bisa lebih mudah melihat anak-anak mereka belajar di rumah. Mungkin banyak orang tua yang menemui anaknya tampak jengkel dan tidak focus ketika sedang belajar. Melihat itu, banyak orang tua pun tak tahan berteriak : “Ayo, belajar yang baik!”, Tapi hasil yang dipetik sangat kecil. Apakah dikarenakan Anak-anak tidak patuh ? Lantas apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika melihat anaknya tampak jengkel saat belajar ?

Ingat ! Jangan ucapkan kata-kata ini

Sebagai orang tua yang mengharapkan anaknya sukses, apakah akan serta merta ikut jengkel juga ketika melihat si anak seperti itu saat belajar ? Apakah akan marah sambil mengatakan : “Kenapa sih kamu, tampak gelisah tidak tenang ?!” , “Ayo konsentrasi!” dan “tetap semangat!”

Namun, menurut penelitian ahli parenting Jepang, hal itu justru dapat melukai harga diri si anak, ditambah lagi dengan sikap mudah marah dari orang tua itu sendiri yang berpengaruh terhadap si anak, sehingga justru malah semakin membuatnya bertambah jengkel (marah).

Ahli terkait menuturkan, bahwa dalam menghadapi anak yang cemberut (jengkel), orang tua harus tetap tenang, dan cobalah dengan lembut tanyakan kepadanya “Kamu kenapa nak,” bukan berteriak sambil membentak.

Mengapa anak-anak menjadi rewel ketika sedang belajar ?

Menurut para ahli, cukup banyak faktor yang membuat si anak menjadi rewel saat belajar, diantaranya 5 poin berikut ini yang paling umum ditemui.

Lingkungan belajar

Jika Anda melihat si anak tampak cemberut (jengkel-marah), Anda bisa perhatikan sejenak apakah di dalam ruangan itu terlalu dingin atau panas, atau tanyakan kepadanya apakah merasa lapar atau haus, dimana semua ini bisa jadi merupakan faktor yang membuatnya tidak bisa konsentrasi.

Pada saat seperti ini, orang tua bisa memberikan beberapa makanan ringan atau minuman, niscaya dapat membantu mengubah suasana hati mereka.

Menemui kesulitan

Mata pelajaran yang terlalu sulit dipahami, kemajuan dalam belajar tidak seperti yang diharapkan, dimana semua ini bisa membuat si anak menjadi jengkel. Sama seperti orang dewasa yang merasa sakit kepala dan suasana hati yang buruk ketika mengalami ketidaklancaran kerja.

Pada saat demikian, orang tua dihimbau sebaiknya jangan memarahi anak dengan kata-kata kasar seperti misalnya “dasar bodoh”, tapi katakan kepadanya dengan nada lembut “sepertinya cukup sulit, ya,” atau semacam kata lainnya, agar timbul rasa simpati anak terhadap Anda. Setelah itu tanyakan kepadanya soal (mata pelajaran) mana yang tidak dipahami, tunjukkan kecerdasan Anda sebagai sosok orang dewasa untuk membantunya memecahkan masalah, sehingga anak-anak tidak akan lagi cemberut-marah sekaligus akan semakin kagum pada Anda, selaku orant tuanya.

Terlalu banyak hal yang harus dipelajari

Pekerjaan yang menumpuk berlapis-lapis bisa memengaruhi suasana hati seseorang (menjadi jengkel dan mudah marah), tidak terkecuali anak-anak. Jadi, ketika orang tua melihat hal-hal yang harus dipelajari anak-anak itu sudah membuatnya kewalahan, maka sebagai orang tua yang bijak, Anda bisa membantunya sejenak mengurangi bebannya dalam skala yang ideal.

Terlalu lama belajar, membuat Anak-anak merasa lelah

Waktu belajar yang terlalu lama, akan membuat anak-anak merasa lelah, sehingga tak tahan membuatnya menjadi jengkel. Ketika si anak sedang belajar, Anda selaku orang tua bisa membantunya dengan menimbangkan waktu belajar, jika sudah terlalu lama, Anda bisa mengingatkannya untuk istirahat sejenak, mendengarkan musik, olahraga ringan (menggerak-gerakan badan) sejenak atau tidur kecil sejenak sekitar 15 menit, dimana semua ini adalah solusi yang baik.

Jengkel saat belajar mungkin tidak ada hubungan dengan studinya

Anak-anak menjadi jengkel saat belajar mungkin tidak ada hubungan dengan studinya, bisa jadi sedang mencemaskan hal-hal lain. Terutama hubungan dalam pergaulan di lingkungan sekolah, dimana hal ini merupakan faktor utama dari sekian banyak Anak-anak yang suasana hatinya labil dan tidak mampu berkonsentrasi penuh.

Pada saat demikian, orang tua perlu bersikap bijak, dan dengan nada lembut tanyakan kepadanya : “Kenapa dengan kamu nak, apa ada sesuatu yang dicemaskan ?” Usahakan cari tahu suara hatinya (uneg-uneg), kemudian selesaikan dengan cara yang tepat. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular