Semua orang ingin kehidupan yang bahagia seperti cerita dongeng, tetapi dalam kehidupan nyata, tampaknya sebagian besar orang hidup tidak bahagia, cemas, takut ini dan itu, serta di dalam hati terakumlasi banyak keluhan dan mengeluh tidak tahu bagaimana untuk melampiaskan. Apa yang menyebabkan orang tidak bahagia? Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi bahagia?

Sebuah survei dari sebuah lembaga Amerika Serikat yang dilakukan 22 negara di seluruh dunia terhadap indeks kebahagiaan. Akhirnya ditemukan bahwa indeks kebahagiaan orang AS tertinggi, sebanyak 46% orang AS berbahagia dengan kehidupan mereka. Di AS, banyak kehidupan orang bergantung kepada lembaga sosial, dan bahkan di jalan-jalan bersedekah untuk bertahan hidup, tapi setiap hari seolah hidup dengan gembira. Sesungguhnya apakah faktor yang memengaruhi kehidupan menjadi bahagia atau tidak?

Terlalu banyak permintaan

Kita sepertinya sejak kecil sampai dewasa selalu dalam pengejaran: siswa mengejar nilai yang baik, pekerja kantor menginginkan promosi dan kenaikan gaji, sang bos berharap bisnisnya semakin lama semakin sukses, orang tua ingin anaknya berhasil……. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga senantiasa mencari, mencari uang, meminta imbalan, mencari kesempurnaan, mencari pengakuan dan sebagainya. Apabila yang diinginkan tidak tercapai, lantas menjadi tidak bahagia dan galau.

Tidak pernah puas

Orang hidup di dunia, yang dibutuhkan tidak banyak, tapi apa yang diinginkan terlalu banyak, sehingga sulit untuk terpuaskan. Telah punya seribu, menginginkan sejuta; sudah punya mobil Kijang, ingin BMW; sudah punya rumah kecil, ingin villa; sudah punya istri, ingin kawin lagi.

Suka membandingkan

Manusia senantiasa suka membandingkan: membandingkan nilai anak-anak, membandingkan ponsel siapa yang lebih keren, membandingkan kondisi siapa yang lebih baik dan membandingkan siapa lebih terkenal. Jika kebiasaan membandingkan itu sudah menjadi kebiasaan, tentu tidak akan bahagia. Jika orang lain punya sedangkan diri sendiri tidak punya, maka ngotot mengejarnya. Ketika berhasil mengejar ternyata orang itu berhasil naik setingkat lagi, maka mau tak mau merangkak lagi ke atas, dan tak ada habisnya. Ketika yang dikejar itu bukan kebahagiaan, melainkan lebih bahagia ketimbang orang lain, maka disaat itu kebahagiaan semakin menjauhi kita.

Terlalu khawatir terhadap pandangan orang lain

Jika Anda selalu mengkhawatirkan pandangan dan pikiran orang lain terhadap Anda, maka Anda tidak mungkin bisa hidup dengan nyaman, maka sama saja dengan hidup demi orang lain dan telah kehilangan jati diri. Nilai pelajaran tidak baik, akankah orang tua kecewa? Gaji tidak naik, akankah sang pacar akan sewot? Bicara ceplas ceplos, akankah teman-teman marah? Kehidupan yang seperti ini pasti capek karena “tekanannya sangat besar”, bagaimana bisa bahagia?

Tidak tertarik terhadap hal-hal yang indah

Kehidupan manusia zaman sekarang amat sibuk, selalu saja terburu-buru, tiada lagi waktu untuk menikmati keindahan lingkungan. Keindahan alam, keindahan artis¬tik, kecantikan spiritual dan keindahan hidup, kita sering menutup mata dan cenderung mengabaikannya. Ladang yang hijau, gemericik air, Matahari terbenam yang indah, daun terbang melayang-layang, lukisan yang cantik dan bayi tersenyum polos. Melihat hal-hal seperti itu, tidak timbul sukacita dalam hati dan tidak tersentuh haru.

Tidak tahu bagaimana berkorban

Jika seseorang selalu takut kehilangan akan kepentingan dirinya sendiri, membabi buta mengejar tapi tidak mau berkorban, ia pasti tidak akan bahagia. Semua orang tentu tidak ingin mendekati orang yang egois malah akan menjauhinya, karena ia hanya ingin mendapatkan manfaat dari orang lain dan tidak pernah mau mengeluarkan sesuatu (berkorban).

Monoton dan keteraturan

Setiap hari sibuk hingga stres dalam perusahaan, sesampainya di rumah makan dan tidur, pada akhir pekan tenggelam dalam game daring. Hidup dengan monoton, hari demi hari dilalui dengan membosankan, keteraturan hidup yang terlalu monoton akan membuat orang kehilangan kebahagiaan mereka.

Pikiran yang tertutup

Dalam psikologi ada istilah yang disebut “gaya atribusi negatif”, ini adalah cara berpikir pesimis yang sering digunakan orang yang tidak bahagia. Mereka terbiasa berpikir hal-hal buruk, semakin dipikirkan hati semakin tertekan, hati dipenuhi oleh masalah ini. Mereka selalu ingin membuat diri sendiri dapat memenuhi harapan orang lain, tetapi menyadari tidak akan berhasil. Hal ini membuat mereka merasakan tekanan dan rasa bersalah dalam menghadapi kepedulian yang bermaksud baik. Itu sebabnya, mereka berusaha mengurangi interaksi sosial, demi menghindari kepedulian. Mereka terlalu banyak mengeluh dalam hidup, menuntut berlebihan terhadap ketergantungan emosional, terlalu sensitif dalam hubungan interpersonal, yang mungkin membuat orang yang awalnya mendu-kung lantas merasa bosan dan mulai menghindari mereka. Mereka akan segera menyadari perubahan seperti itu, sehingga mereka mulai menutup diri sendiri. Begitulah “depresi” terbentuk.

Tidak tahu arti hidup

Manusia zaman sekarang kebanyakan tidak terlalu mengeksplorasi makna kehidupan dan tidak mengetahui dengan jelas makna sesungguhnya dari kehidupan, membabi-buta mengejar materi, begitu kehidupan itu agak berjalan tersendat, tidak tahu bagaimana menyelesaikannya, maka di dalam hatinya akan menyalahkan dan tidak bisa gembira.

Lalu apakah yang harus dilakukan untuk menjadi bahagia?

Profesor Martin Saligman pencipta ilmu Psikologi Positif dari University of Illinois AS menyarankan beberapa cara agar dapat hidup bahagia:

1. Menciptakan kesenangan

Perbanyaklah memperhatikan hal-hal yang indah, misalnya Matahari pagi, seporsi kuliner lezat dan sebuah lagu merdu. Ahli psikologi menyarankan, akan lebih baik untuk mencatat saat-saat bahagia, ketika Anda tidak bahagia, Anda dapat mengeluarkan dan membacanya. Setiap minggu menulis 3-5 hal yang menurut Anda adalah hal yang paling membahagiakan. Pertahankan nuansa menyegarkan, konten yang sering berganti dan beragam semakin baik.

2. Pengabdian sepenuh hati (keterlibatan)

Senangi pekerjaan atau hobi Anda dengan sepenuh hati, dengan pencapaian mendasar maka Anda baru akan merasa bahagia. Akan tetapi, yang lebih penting lagi adalah hubungan interpersonal Anda. Menurut penelitian ilmu psikologi, rasa keterhubungan antara manusia adalah alasan terpenting untuk membuat orang merasa bahagia.

3. Makna hidup

Pikirkan dengan cermat dan temukan makna hidup Anda, selesaikanlah tujuan hidup yang Anda ingin capai.

Sesungguhnya, kebahagiaan atau menderita bukan karena hal itu sendiri, melainkan adalah konsep dan sikap kita dalam melihat permasalahan, sebagai penyair dari Inggris John Milton mengatakan: “Kesadaran itu sendiri dapat membuat neraka menjadi surga, tetapi juga dapat mengobrak-abrik surga menjadi neraka.” Selama kita dengan hati yang biasa, melakukan hal yang seharusnya dilakukan, mengikuti arus, seperti yang dikatakan orang suci: “Melakukan dengan tidak berharap, senentiasa sudah berada di dalam Tao”, dengan sendirinya kebahagiaan akan muncul. (Epochtimes/Zheng Yi/Hui/Yant)

Share
Tag: Kategori: MISTERI SERBA SERBI

Video Popular