JAKARTA – Emas batangan yang konon dikeluarkan Taat Pribadi dari balik jubah kebesarannya diakui berasal dari Gunung Lawu. Bahkan sejumlah pengikut Taat Pribadi mengakui kesaktian yang dimiliki oleh gurunya. Akan tetapi upaya memperdaya orang dengan tipu-tipu harta berlipat lebih mengemuka dengan bukti-bukti yang ada. Lalu seperti apa jika dilihat dari sudut pandang dimensi lain?

Pengamat Transdimensi, Syafri ANS menuturkan bahwa  keberadaan kelompok seperti Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi ini berjumlah ratusan di sejumlah wilayah Indonesia. Bahkan dalam kelompok-kelompok yang kecil hampir mencapai ribuan. Sebagai bentuk penelitian, Syafri mengaku berusaha memasukan teori komunikasi trans dimensi dalam Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran.

Menurut Syafri, banyak cara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini untuk berkomunikasi dengan dimensi luar bahkan menempuh memasukan roh dalam diri mereka. Meski demikian, manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Tuhan. Akan tetapi masih ada orang-orang yang bersekutu dengan makhluk ghaib seperti jin bahkan menyembah makhluk-makhluk ini.

Pada kasus Dimas Kanjeng, Syafri menilai melibatkan kerjasama dengan makhluk ghaib tentunya jin-jin yang taat. Walaupun sebelumnya Taat Pribadi diminta untuk mempraktekan kemampuannya, namun nyatanya tak kunjung dilakukannya. Pada kejadian ini, Syafri menilai tentunya Taat Pribadi tak bisa serta merta mewujudkan kemampuan dikarenakan tanpa medium.

Tak hanya itu, Syafri meyakini Dimas Kanjeng bisa mewujudkan jika kemudian ketika situasi emosionalnya sudah stabil. Hingga kemudian Dimas Kanjeng dengan leluasa menyamakan frekuensi yang dimilikinya dengan frekuensi dimensi lain yakni dunia jin. Namun demikian, syafri menyakini makhluk-makhluk ini hanya mampu memindahkan uang bukan menggandakan.

“Makhluk imaterial ini hanya bisa melakukan transfer,  jadi menciptakan uang tak bisa, jadi penggandaan uang itu mustahil,” katanya dalam diskusi di Indonesia Lawyer Club (ILC) di Jakarta, Selasa (4/10/2016) malam.

Tokoh agama, KH. Hasyim Muzadi menuturkan tentang kebenaran fenomena kekuatan supranatural seperti kemampuan clairvoyance atau melihat ke masa depan. Hal ini terjadi bisa saja diberikan kemampuan yang maha kuasa terhadap orang-orang khusus. Namun demikian, biasanya orang-orang seperti ini tak serta merta mengungkap ke publik atas kemampuan yang dimilikinya bahkan cenderung menutup diri.

Selain itu, Mantan Ketum PBNU ini tak menampik memang ada praktek perdukunan sesat yang terjadi. Bahkan orang-orang seperti ini cenderung berkolaborsi dengan makhluk halus untuk menyampaikan hasrat dan tujuannya seperti jin atau syetan.  Hasyim menyebut jenis makhluk syetan seperti ini tak mampu menjelmakan uang.  Namun makhluk-makhluk ini mampu memindahkan uang dari satu tempat ke tempat yang lain.

Akan tetapi, kata Hasyim, makhluk-makhluk halus yang berkolaborasi dengan pemujanya bukan tanpa pamrih untuk membantu. Makhluk-mahkluk ini nantinya akan meminta upah yang sangat tinggi dari permintaan yang dikabulkannya sebagaimana yang lazim disebut masyarakat tumbal. Menurut Hasyim, makhluk ini bahkan meminta kehidupan mungkin nyawa orang atau binatang.

Hasyim Muzadi menilai sosok seorang yang diberikan kelebihan yakni Karomah sejatinya sesuai dengan kesalehan seseorang. Bahkan orang-orang Saleh seperti ini diyakini tak akan melakukan praktek pengandaan uang. Lebih jauh Hasyim menuturkan jika kemudian ada orang mengaku mampu mengandakan uang, lalu kenapa dia tak memperbanyak uang yang dimilikinya. Namun faktanya justru meminta orang untuk mendistribusikan uang.

Oleh karena itu, Hasyim Muzadi menyimpulkan bahwa kondisi masyarakat saat sedang sakit yakni masyarakat bawah miskin yang ingin uang, masyarakat menengah kesulitan ekonomi dan masyarakat kelas atas yang serakah akan harta.  Hasyim Muzadi menegaskan menjadi tantangan bagi elemen bangsa untuk mengayomi umat dalam menunjukan jalan yang benar.

“Kalau tak ada penanganan akan menjadi-jadi, umat harus tahu mana penipuan dan karomah, harus ada kehatian jangan mendekati orang-orang ibadah dan akhlaknya tak sesuai kriteria, makanya syetan jangan diperlakukan teman, dia bisa minta tumbal, yang belum mati harus dimatikan, betapa korban yang jatuh atas dosa-dosa mereka, tak boleh berkoalisi dengan syetan,” kata Hasyim dalam diskusi ILC yang sama. (asr)

Share

Video Popular